Breaking News
Beranda » Quran » Sepuluh Khashâ’ish Al Qur’an Dalam Al qur’an Al Karim

Sepuluh Khashâ’ish Al Qur’an Dalam Al qur’an Al Karim

 

kajiantafsirsyiah.wordpress.com

Sepuluh Khashâ’ish Al Qur’an Dalam Al qur’an Al Karim

Al qur’an Al Karim adalah wahyu terakhir untuk umat manusia, ia merupakan sari ajaran langit yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Kitab suci terakhir ini memiliki sederetan keutamaan dan khahsa’ish (keistimewaan) yang pantas menjadi materi perhatian para pengkaji pada umumnya dan khususnya umat Islam, selaku pewaris khazanah Tuhan.

Di bawah ini akan kami sebutkan secara ringkas beberapa keistimewaan tersebut.

  1. Al qur’an adalah Kitab Tauhid dan Kebanaran

Al qur’an adalah kitab yang menegakkan prinsip keesaan Tuhan dengan mengedepankan berbagai bukti dan argumentasi rasional serta memberikan perhatiaan yang luar biasa terhadap berbagai fenomena alam sebagai bukti nyata kebenaran konsep tauhid (keesaan Allah SWT.)

Al qur’an dalam banyak ayatnya telah mengarahkan manusia agar menfungsikan akal sehatnya dan mengamati berbagai bukti yang tersebar di alam raya agar dapat sampai kepada sebuah kesimpulan yang benar tentang pandangan dunia, tentang alam; asal muasal dan kesudahannya.

Konsep tauhid dalam Al qur’an bukan sekedar doktrin yang dipaksakan yang jauh dari kebenaran akal sehat. Al qur’an mengajak berbicara akal dan hati nurani manusia, konsep-konsep ajaran tauhidnya bersejalan dengan akal dan bukti-bukti rasional. Islam tidak mengatakan kepada manusia: percayalah! Dan jangan libatkan akalmu dalam beriman.

Prinsip tauhid dalam Al qur’an adalah paling murni dan jauh dari penyimpangan. Coba perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

قُلْ هُو اللهُ أحدٌ * اللهُ الصمَدُ * لمْ يَلِدْ وَ لمْ يُولَدْ * و لم يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا أحَدٌ.

“ Katakanlah: “ Dia-lah Allah, Yang Maha Esa * Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu * Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan * dan tidak ada seseorang yang setara dengan Dia”.(QS:112;1-4)

 

  1. Al qur’an Kitab Akal Sehat dan Berfikir

Tidak kurang dari enam puluh ayat dalam Al qur’an memuat seruan dan ajakan untuk menggunakan akal sehat kita dan memikirkan tentang kebenaran Tuhan. Berapa banyak ayat yang diakhiri dengan seruan: Tidakkah kamu berfikir! Tidakkah kamu berakal! Dan lain sebagaianya.

Al qur’an menggolongkan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai sejelek-jelek makhluk, Allah SWT. berfirman:

إنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللهِ الصُمُّ البُكْمُ الذينَ لا يَعْقِلُوْنَ.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak menggunakan akalnya”.(QS:8;22)

Jelas yang dimaksud dengan orang-orang yang tuli dan pekak bukanlah orang tidak memiliki Lisân   untuk berbicara atau kehilangan indra pendengaran untuk mendengar suara apapun. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akal sehat mereka untuk mendengar suara kebenaran dan tidak menggunakan Lisân nya untuk bertanya tentang kebanaran. Telinga yang tidak berfungsi untuk mendengan kebenaran dalam pandangan Al qur’an sama dengan tuli. Lisân   yang hanya dipergunakan untuk hAl hal yang rendahan dan tidak berarti, dalam pandangan Al qur’an sama dengan bisu.

Orang yang tidak menfungsikan akal sehatnya adalah orang yang lemah untuk mengambil manfa’at dari pikirannya. Al qur’an menyebut mereka dengan seburu-buruk binatang, mereka belum pantas disebut sebagai manusia.

Dalam ayat lain, setelah menegaskan sebuah masalah berkenaan dengan prinsip TauhidFi’li dan Tauhid Fa’ili:

وما كان لِنَفْسٍ أنْ تُؤْمِنَ إلاَّ بِإذْنِ اللهِ

“ Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah:…”

dan setelah menegaskan masalah yang serius ini yang tidak semua orang mampu memahaminya, Allah SWT. menambahkan:

و يَجْعَلُ اللهُ الرِجْسَ على الذين لاَ يَعْقِلُونَ.

“ dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”.

Al qur’an menggunakan fenomena alam sebagai obyek berfikir kita untuk dapat sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT.

Perhatikan ayat-ayat dibawah ini:

إنَّ في خَلْقِ السمواتِ و الأرْضِ و اخْتِلاَفِ الليلِ وَ النَّهَارِ لآياتٍ لأُولِيْ الأَلْبابِ.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.(QS:3;190)

Ketika menitahkan sebuah hukum syari’at, Allah SWT. selalu menyertakan hikmah dibalik menurunan syari’at itu. Seakan Al qur’an ingin mengatakan bahwa apa yang disampaikan Tuhan adalah haq dan murni hanya demi kebaikan dan kebahagiaan manusia, tiada kepentinagn bagi Tuhan dalam perintah dan larangan yang Dia tetapkan.

Sebagai contoh perhatikan perintah Allah tentang kewajiban shalat dengan mengatakan: Tegakkan shalat! Kemudian dalam kesempatan lain Allah menerangkan filosofis shalat:

إنَّ الصَلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشاءِ و المنْكَرِ.

“ Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.(QS:29;45)

Dan setelah menjelaskan pengharaman khamer dan perjudian, Allah menegaskan:“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS:2;219)

 

  1. Al qur’an Kitab Hikmah dan Ilmu pengetahuan

Ketika Al qur’an berbicara tentang fungsi dan tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad saw., yang ia tekankan adalah fungsi sebagai yang membacakan ayat-ayat Allah dan mengajarkan hikmah dan Al Kitab kepada umat manusia.

Allah SWT. berfirman:

هُوَ الذي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسولاً مِنْهُمْ يتلوا عليهم آياتِهِ و يُزَكِّيْهِمْ و يُعَلِّمهُمُ الكتَابَ و الحِكْمَةَ.

“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah”.(QS:62;2)

Selain ayat di atas baca juga Surah Al Baqarah (2) ayat:129 dan 151.

 

  1. Al qur’an Kitab Petunjuk, Cahaya, Rahmat [1]

Al qur’an adalah cahaya Allah yang terang, petunjuk kepada kebenaran dan kebahagiaan dan rahmat-Nya yang Ia peruntukkan bagi manusia.

Allah SWT. berfirman:

يا أَيُّها الناسُ قَدْ جاءَكُمْ بُرْهانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَ أَنْزلْنا إليكُمْ نُوْرًا مُبِيْنًا * فَأمَّا الذين آمنوا بالله و اعْتَصَموا به فَسَيُدْخِلُهُم فِيْ رَحْمةٍ مِنْهُ و فَضْلٍ و يَهْدِيهِمْ إليه صِراطًا مُسْتَقيما.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al qur’an)* Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada(agama-Nya), niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar daripada-Nya dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”.(QS:4;174).

يا أَيُّها الناسُ قَدْ جاءَكُمْ بُرْهانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَ أَنْزلْنا إليكُمْ نُوْرًا مُبِيْنًا.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al qur’an)”.(QS:4;174)

قَدْ جاءَكُمْ مِن اللهِ نُوْرٌ وَ كتابٌ مُبِيْنٌ .

“Sesungguhnya telah datang kepadamu caaya dan kitab yang menerangkan”. (QS:5;15)

Yang dimaksud dengan kata Nûr dalam dua ayat di atas adalah Al qur’an. Ia adalah cahaya Allah yang tiada akan padam lampu-lampunya, cahaya yang tiada kegelapan menyertainya. Demikian digambarkan oleh Imam Ali as. dalam salah satu mutiara hikmah beliau.

ثُمَّ أنْزَلَ عليهِ الكتابَ نُوْرًا لاَ تُطْفَأُ مَصَابِيْحُهُ … و نُوْرًا ليس معهُ ظُلْمَةٌ ..

Kemudian Allah menurunkan atasnya (Nabi saw._pen) Kitab yang tiada akan padam lampu-lampunya … dan cahaya yang tiada kegelapan bersamanya…”.[2]

Imam Ali Zainal Abidin as. dalam do’a Khatmul Qur’an, bermunajat:

أللهمَّ ! إنَّكَ أعَنْتَنِي على خَتْمِ كتابِكَ الذي أنْزَلْتَهُ نُورًا … و جَعَلْتَهُ نورًا نَهْتَدِيْ مِن ظُلَمِ الضَلالَةِ والجَهالَةِ بِاتِّباعِهِ … و نورَ هُدًى لا يَطْفَأُ عَنِ الشاهِدِيْنَ بُرْهانُهُ و عَلَمَ نَجاةٍ لا يَضِلُّ مَنْ أَمَّ قَصْدَ سُنَّتِهِ.

“Ya Allah! Engkau telah membantuku untuk mengkhatamkan Kitab-Mu yang Engkau turunkan sebagai cahaya… dan Engkau jadikannya cahaya dengan mengikutinya kami mendapat petunjuk dari kegelapan kesesatan dan kebodohan… dan     ( Kamu jadikan dia) cahaya hidayah yang tiada padam buktinya bagi yang menyaksikannya, dan (Kamu jadikan dia) panji keselamatan bagi yang menuju kelurusan ajarannya”.[3]

Imam Ja’far as. berkata: Rasulullah saw. bersabda:

القرآن هُدًى من الضلالة وتِبْيانٌ مِن العَمَى و اسْتِقالَةٌ مِن العَثْرَةِ و نورٌ من الظُلْمَةِ

“Al qur’an adalah petunjuk dari kesesatan dan penjelas dari kebutaan, pencegah dari ketergelinciran dan cahaya dari kegelapan.”.

 

  1. Al qur’an Kitab Janji Kebenaran

Di dalam Al qur’an, Allah SWT. menegaskan janji-janji-Nya, bagi yang ta’at kepada-Nya maupun yang menyimpang dari petunjuk-Nya.

  1. Al qur’an Kitab penjelasan dan Perincian

Al qur’an memuat penjelasan lengkap tentang semua hal yang di butuhkan umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam banyak ayat ditegaskan bahwa salah satu sifat Al qur’an adalah sebagai tibyaan (penjelasan) bagi segala sesuatu. Al qur’an adalah kitab hidayah (petunjuk) bagi manusia oleh karenanya semua hal yang terkait dengan petunjuk yang dibutuhkan manusia berupa ma’arif yang haq yang berhubungan dengan masalah mabda’ (Tuhan) dan ma’ad (kesudahan makhluk), akhlak yang utama, syari’at Tuhan, kisah-kisah dan nasihat. Al qur’an adalah tibyaan bagi semua hal di atas.

Allah SWT. berfirman:

… و نَزَّلْنا عليكَ الكتابَ تِبْيانًا لِكُلِّ شَيْئٍ و هدًى و بُشْرَى للمسلمين

“ Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(QS:16;89).

ما كان حديثا يُفْتَرَى و لكن تَصْدِيْقَ الذي بين يديه و تَفْصِيْلَ كُلِّ شيئ و هدى و رحمةً لقومٍ يؤمنون.

“ Al qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagaia petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS:12;111).

Dalam banyak hadis Nabi saw. dan Ahlulbait as. ditegaskan kenyataan di atas. Nabi saw. bersabda:

… و هُوَ كتابُ تَفْصِيْلٍ , و بيانٍ و تحْصيلٍ

“Ia (Al qur’an) adalah kitab perincian, penjelasan dan perolehan”.[4]

Imam Ali as. bersabda:

… وَ تِبْيانًا لاَ تُهْدَمُ أرْكانُهُ

“Dan (Al qur’an adalah) penjelasan yang tiada akan runtuh pilar-pilarnya”.[5]

Imam Ali Zainal Abidin as. bersabda:

… و كتابا فَصَّلْتَهُ لِعِبادِكَ تَفْصِيْلاً

“Dan (Kamu jadikan Al qur’an) kitab yang kamu perinci untuk hamba-hamba-Mu serinci mungkin”.[6]

Imam Muhammad Al Baqir as. bersabda:

إنَّ الله لَمْ يَدَعْ شيئًا تحتاجُ إليه الأُمَّةُ إلى يومِ القيامةِ إلاَّ أنْزله في كتابِهِ, و بَيَّنَهُ لرسولهِ.   و جَعَلَ لكُلِّ شيئٍ حَدًّا, و جعل عليهِ دليلاً يَدُلُّ عليه.

“Sesungguhnya Allah tidak membiarkan sesuatu apapun yang di butuhkan umat hingga hari kiamat kecuali telah Dia turunkan dalam kitab-Nya dan Dia jelaskan kepada Rasul-Nya. Dan Dia telah menjadikan untuk segala sesuatu batasan dan dijadikan atasnya bukti”.[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

إن الله أَنْزَلَ في القرآنِ تبيانَ كُلِّ شيئٍ, حتى و اللهِ ما تركَ شيئا يحتاجُ العِبادُ إليه إلا بَيَّنَهُ للناس.

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan di dalam Al qur’an penjelasan segala sesuatu, sampai-sampai- Demi Allah- Dia tidak meninggalkan sesuatu yang di butuhkan hamba-hamba-Nya kecuali telah Ia jelaskan untuk manusia”.[8]

 

  1. Al qur’an Tiada Keraguan dan Kebatilan di Dalamnya

Al qur’an adalah firman Allah SWT., kitab petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia. Allah-lah sumber kebenaran mutlak, oleh karenanya segala yang datangnya dari Dzat yang Maha Benar adalah benar dan tiada keraguan menyelimutinya.

Allah SWT. berfirman:

ألم * ذلك الكتاب لا ريبَ فيه هُدًى للمُتَّقين.

“ Alif Lâm Mîm * Kitab (Al qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.(QS:2;1-2)

Yang akan menyebabkan munculnya keraguan pada sebuah pembicaraan ialah kalau ia berupa berita, maka berita tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya, kalau ia berupa janji ia tidak tepat dan meleset dari janji tersebut, dan kalau ia memuat sebuah ajaran tentang keyakinan, syari’at (undang-undang) dan akhlak (etika), maka ajaran-ajaran tersebut bertolak belakang dengan kebenaran dan tidak dapat memenui kebutuhan fitrah manusia. Disini muncullah keraguan akan pembicaraan tersebut.

Al qur’an sebagai kitab suci terakhir jauh dari semua hal yang menyebabkan keraguan tersebut di atas. Tiada pertentang antara muatan-muatannya, baik dalam membicarakan masalah\tema yang sama, ataupun pertentangan antara satu ajaran dengan ajaran yang lain. Konsep tauhid yang ditegakkannya tidak akan pernah membentur konsep syari’at dan atika yang ditetapkannya, dan masing-masing bagaian dari hukum syari’at tidak saling berbenturan. Ia adalah sebuah kesatuan yang serasi.

Allah SWT. berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرون القرآنَ ؟ وَ لَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غيرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيْهِ اختلافًا كثيرًا

“ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al qur’an? Kalau kiranya Al qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.(QS:4;82)

وَإنَّهُ لَكِتابٌ عزيزٌ * لا يَأْتِيْهِ الباطِلُ مِنْ بينِ يديهِ ولا من خَلْفِهِ تنْزِيْلٌ مِنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ.

“…dan sesungguhnya Al qur’an itu adalah kitab yang kuat * Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakan, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana Maha terpuji”.(QS:41-41-42)

Ath-Thabasri dalam Majma’ Al Bayan-nya menyebutkan beberapa makna ayat di atas, makna ketiga ialah: Tiada kebatilan pada pemberitaannya tentang apa yang sudah terjadi segaimana juga pada pemberitaannya tentang apa yang akan terjadi tidak ada kebatilan. Semua berita sesuai dengan kenyataannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Baqir dan Imam Ja’far as.[9]

Dalam tafsirnya; Al Mizannya, Allamah Thabathba’i menerangkan ayat di atas sebagai berikut: Kata Al Aziz artinya yang tiada tara atau terjaga dan tidak dapat dikalahkan. Arti kedua ini lebih tepat mengingat ayat itu disambung dengan firman:” Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakan…” datangnya kebatilan kepadanya artinya adanya kebatilan di dalamnya dan sebagian darinya atau keseluruhannya menjadi batil yaitu sebagian ajaran benar sementara sebagian yang lain tidak benar atau hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dan juga bimbingan akhlak atau sebagian darinya menjadi sia-sia tidak layak diamalkan.

Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksud dengan “ baik dari depan maupun dari belakan…” adalah masa ketika turunnya Al qur’an dan masa akan datang hingga hari kiamat… .

Dan firman: “yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana Maha terpuji” berfungsi sebagai penyebab/ alasan ia sebagai kitab yang Aziz (kuat), :” Yang tidak datang kepadanya kebatilan…. Bagaiamana ia tidak bersifat demikian sedangkan ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana rapi dalam pekerjaan-Nya tiada tercampuri oleh kerapuhan, Maha terpuji secara mutlak.[10]

 

  1. Al qur’an Kitab Kasih Sayang dan Kecintaan

Maha Pengasih dan Penyayang adalah adalah salah satu sifat Allah yang sangat dominan. Allah SWT. telah menetapkan atas diri-Nya untuk mencintai dan menyanyangi hamba-hamba-Nya yang telah memenui syarat-syarat.

Allah SWT. mencintai orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Allah SWT. mencintai orang-orang yang bertaubat dan bersesuci (tawwabiin danmutathahhirin).

Allah SWT. mencintai orang-orang yang bertawakkal (mutawakkilin).

Allah SWT. mencintai orang-orang yang berbuat adil (muqsithin).

Allah SWT. mencintai orang-orang yang bertaqwa (muttaqin).

Allah SWT. mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

Allah SWT. mencintai orang-orang yang ta’at mengikuti jejak Rasulullah saw.

Al qur’an juga kitab suci yang mengajarkan bagaimana kita saling mencintai sesama kita.

  1. Al qur’an Berita Gembira dan Peringatan

Salah satu fungsi diturunkannya Al qur’an adalah sebagai kabar gembira dan peringatan bagi umat manusia, sebagaimana fungsi kehadiran Rasulullah saw. di tengah-tengah manusia sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.

  1. Al qur’an Kitab Keadilan, Kebaikan, Kejujuran dan Taqwa

Salah satu tujuan diutusnya para nabi kepada umat manusia dan diturunkannya kitab-kitab suci kepada merteka ialah untuk menegakkan keadilan.

Allah SWT. berfirman:

و لقَدْ أرْسَلْنا رُسُلَنا بالبَيِّناتِ وَ أَنْزَلْنا مَعَهُمُ الكتابَ و المِيْزانَ لِيَقُوْمَ الناسُ بالقِسْطِ.

“ Sesungguhnya Kami benar-benar telah mengutus para Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan kepada mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia menegakkan keadilan”.(QS:57;25)

Menegakkan keadilan di tenganh-tengah umat manusia adalah tujuan di turunkannya Al qur’an. Begitu besar perhatian Al qur’an terhadap keadilan dalam segala aspek dan dalam semua hal. Al qur’an mengajarkan kepada penganutnya agar berlaku adil ketika menetapkan hukum atas orang lain. Banyak ayat yang menegaskan hal itu. Allah SWT. berfirman:

إن الله يأمركم أنْ تُؤَدُّا الأماناتِ إلى أهلِها, و إذ1حَكَمْتُمْ بين الناسِ أنْ تَحْكُمُوا بالعَدْلِ.

“ Dan sesungguhnya Allah memerintah kamu menyampaikan anamat kepada yang berhak menerimananya, dan (memerintah kamu) apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”.(QS:4;58)

Dalam ayat lain disebutkan:

إن الله يأمر بالعَدْلِ وَالإحْسَانِ.

“ Sesungguhnya Allah memerintah berlaku adil dan berbuat kebaikan”. (QS:16;90)

Bahkan lebih jauh lagi, Al qur’an memerintahkan agar kita berlaku adil walau tehadap orang-orang yang dekat dengan kita atau bahkan terhadap diri sendiri. Al qur’an mengecam sikap tidak adil dalam memberikan keputusan dikarenakan pihak yang harus meneriman sanksi itu adalah keluarga dekat kita; kedua orang tua kita atau keluarga dekat kita.

Allah SWT. berfirman:

يا أيُّها الذيْنَ آمَنوا كُونُوا قَوَّامينَ بالفسطِ شُهداءَ للهِ و لو على أنْفُسِكُمْ أو الوالِديْنِ و الأقْرَبِيْنَ .

“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu”.(QS:4;135)

Sebagaimana Al qur’an mengecam sikap perlakuan tidak adil terhadap orang lain lantaran adanya permusuhan dan kebencian kepadanya.

Allah SWT. berfirman:

يا أيُّها الذيْنَ آمَنوا كُونُوا قَوَّامينَ للهِ شُهداءَ بالفسطِ ولا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على ألاَّ تَعْدِلُوا إعْدِلُوا هُوَ أقْرَبُ للتَقْوَى.

“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang selalu menegakkan (kebanaran), karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu dekat kepada taqwa”.(QS:5;8)

____________________

[1] Tiga sifat dan fungsi Al qur’an di atas akan kami ulas nanti ketika menyebut sifat-sifat tersebut.

[2] Nahjul Balaghah:2/202-203, dengan komentar Syeikh M. Abduh.

[3] Shahifah as-Sajjadiah: doa ke42.

[4] Tafsir Al Ayyasyi:1/2.

[5] Nahjul Balaghah:1/641.

[6] Shahifah Sajjadiah:doa ke 42.

[7] Al Bihâr:92/84 dari Basha’ir ad-Darajat:6.

[8] Al Bihâr:92/81 dari tafsir Al Qummi:745.

[9] Majma’ Al Bayân:V\10\15.

[10] Al Mizân :17/398.

Like this Article? Subscribe to Our Feed!

Tentang Al-Husayni

Cek juga

Pembela Agama Allah

Oleh Sayid Thoha Al-Musawa Like this Article? Subscribe to Our Feed!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *