Breaking News
Beranda » Ahlul Bayt » Tahrif

Tahrif

 

Bismihi Ta’ala

Bi Haqqi Muhammad wa Aali Muhammad

.

.

.

 

Tahrif, orang mendengarnya mungkin sudah malas membacanya apalagi membahas. Sebagian mungkin akan berkata, untuk apa membahas sesuatu yang sudah berulang-ulang. Bagi kami ilmu tidaklah berhenti, apapun ilmu tersebut. Beramalpun sebaiknya tidak menunggu sebuah hasil. Apapun hasil nya, yang terpenting adalah niat kita. Semoga catatan yang membosankan ini bermanfaat bagi yang haus akan ilmu. Yang tercatat disini bukanlah sesuatu yang sempurna, para ulama telah banyak menjelaskan hal ini dengan lebih jelas dan gamblang.

 

 

 

Bagian I

 

Sayyid Khu’i (rahimahullah) dalam Misbah al-Faqahah (3/453) mencatat :

عن أبي عبد الله (ع) قال : خطب النبي (ص) بمني ، فقال : أيها الناس ما جاءكم عني يوافق كتاب الله فأنا قلته ، وما جاءكم يخالف كتاب الله فلم أقله

، الكافي – الجزء : ( 1 ) – رقم الصفحة :  69

 

Abu Abdillah as berkata : Rasulullah saww berkhotbah di Mina, dan berkata : Wahai Manusia. Apa pun yang diriwayatkan dariku yang sesuai dengan Kitabullah maka itu memang pernyataanku. Namun apapun yang bertentangan dengan Kitab Allah maka bukanlah pernyataanku.”

Sayyid Khu’i menyatakn Shahih

 

beliau juga mencatat :

عن أيوب بن الحر قال : سمعت أبا عبد الله (ع) يقول : كل شئ مردود إلى الكتاب والسنة ، وكل حديث لا يوافق كتاب الله فهو زخرف

الكافي – الجزء :  1   – رقم الصفحة :   69

 

Dari Ayub bin Al-Hur : Aku mendengar Abu Abdillah as berkata : “Segalanya harus dinilai dengan Kitab dan Sunnah. Seluruh hadits yang tidak sesuai (bertentangan) dengan Kitabullah adalah palsu (dibuat-buat)” (Al-Kafi 1/69)

Beliau juga menyatakan Shahih

 

 

Kedua Hadits  diatas cukup untuk menetapkan posisi Syiah Imamiyah pada masalah hadits Tahrif.

.

.

 

Bagian II

 

terbiasa dengan membawa riwayat-riwayat yang menyatakan ulama syiah mempercayai adanya tahrif dalam al-qur’an, walaupun hal tersebut telah terjawab sejak lama, namun mereka selalu mengulang-ulang hal tersebut.

 

Semisal, seseorang mempercayai tahrif, maka apakah semua orang juga mempercayai Tahrif? Mereka selalu ngotot dengan hal seperti ini namun tidak melihat apa yang terjadi dalam keyakinan mereka sendiri. Bagaimana jika tahrif tersebut dipercayai oleh pendahulu/orang-orang yang mereka akui keadilannya dan diakui oleh mereka  selalu dalam jalan yang benar, diakui keadilannya oleh mereka?

 

Imam syafi’i dalam Al-Umm mencatat

عن عبد الرحمن بن يزيد قال : رأيت عبد الله يحك المعوذتين من المصحف ويقول : لا تخلطوا به ما ليس منه

Dari Abdurrahman bin Yazid berakata : Aku melihat Abdullah menyingkirkan al-muawidzatayn dari Mushaf dan berkata : Jangan mencampur (al-qur’an) dengan yang bukan bagian darinya. (Al-Umm, 7/199)

Link online :

الأم

محمد بن إدريس الشافعي

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&ID=4453&bk_no=31

 

Ibn Hajar al-Asqalani Fathul Bari ( 8/570) :

وقد أخرجه عبد الله بن أحمد في زيادات المسند والطبراني وإبن مردويه من طريق الأعمش ، عن أبي إسحاق ، عن عبد الرحمن بن يزيد النخعي قال : كان عبد الله بن مسعود يحك المعوذتين من مصاحفه ويقول : أنهما ليستا من كتاب الله.

 

 

Dari Abdurrahman bin Yazid Al-Nakha’i : Abdullah bin Mas’ud membuang المعوذتين   (surah al-falaq dan surah al-Nas) dari Mushaf-nya, dan ia berkata : KEDUANYA BUKAN BAGIAN DARI KITABULLAH”

 

Al-Haytami dalam Majma al-Zawaid (7/149, no. 11562) mencatat :

 

11562- وعن عبد الرحمن بن يزيد  ( يعني النخعي ) قال‏:‏ كان عبد الله يحك المعوذتين من مصاحفه ويقول‏:‏ إنهما ليستا من كتاب الله تبارك وتعالى‏ رواه عبد الله بن أحمد والطبراني ورجال عبد الله رجال الصحيح ورجال الطبراني ثقات‏.‏

 

Dari Abdurrahman bin Yazid (al-Nakhai) : berkata : Abdullah (Ibn Mas’ud) membuang al-muawidzatayn dari Mushaf-nya, dan berkata : “KEDUANNYA BUKAN BAGIAN DARI KITAB ALLAH TABARAKA WA TA’ALA”

Telah meriwayatkan Abdullah bin Ahmad dan Al-Thabarani. Dan Rijal (perawi) Abdullah adalah Shahih sementara Rijal (perawi) Al-Tahabarani Tsiqah.

Link kitab Majma’ Az-Zawaid online :

مجمع الزاوئد ومنبع الفوائد

نور الدين علي بن أبي بكر الهيثمي

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=87&ID=11685

 

 

Ibn Hibban juga mencatat riwayat yang sama dalam Shahih Ibn Hibban (3/474, no.944). juga dalam kitab yang sama pada kitab al-Huddud no. 4506 :

أخبرنا : محمد بن الحسن بن مكرم بالبصرة قال : ، حدثنا : داود بن رشيد قال : ، حدثنا : أبو حفص الأبار ، عن منصور ، عن عاصم بن أبي النجود ، عن زر بن حبيش قال : لقيت أبي بن كعب فقلت له : إن بن مسعود كان يحك المعوذتين من المصاحف ويقول : أنهما ليستا من القرآن فلا تجعلوا فيه ما ليس منه

 

 

Dari Zirr bin Hubaisy berkata : Aku menemui Ubay bin Ka’ab dan berkata kepadanya : Ibn Mas’ud membuang al-muawidzatayn (al-falaq dan an-nas) dari Mushaf-nya dan berkata : “KEDUANYA BUKAN BAGIAN DARI AL-QUR’AN DAN JANGAN BIARKAN DALAMMYA  APA YANG BUKAN DARINYA”

 

Ulama Sunni, Ibn Abi Syaibah  mencatat :

 

حدثنا : وكيع ، عن إبن عون ، عن إبن سيرين قال : كان إبن مسعود لا يكتب المعوذتين.

Ibn Sirin meriwayatkan : ibn Mas’ud tidak menulis Muawidzatayn (surat al-Falaq dan Al-Nas)

(Al-Mushanaf, kitab Fadhail al-qur’an  no.29622)

 

atau link online: المصنف

عبد الله بن محمد بن أبي شيبة

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=10&ID=4413

 

Apa alasan ibn Mas’ud tidak menulis dalam mushafnya dua surat tersebut?

Ada banyak Hadis tentang masalah yang sama. Tapi hal tersebut sudah cukup bukti mengenai Ibn Mas’ud salah satu sahabat senior yang meyakini bahwa QS. al-Falaq dan Surat al-Nas adalah tambahan/bukan bagian dari al-Qur’an.

 

 

Namun jelas Nashibi tidak akan terima  melihat hal tersebut, mereka akan berusaha untuk membela Ibn Mas’ud walaupun dengan sesuatu yang lemah dan asal cuap.

Mereka akan mengatakan bahwa riwayat tersebut dhaif, palsu, dll dengan menukil pendapat Suyuti, Fakhrurrazi, Nawawi dan lainnya yang berusaha membebaskan keyakinna ibn Mas’ud tersebut dengan mengatakan bahwa riwayat tersebut dhaif bahkan dikatakan palsu.

 

Ibn Hajar Asqalani  salah satu ulama ilmu hadist sunni setelah menyebutkan pendapat mereka, berkata :

 

والطعن في الروايات الصحيحة بغير مستند لا يقبل، بل الرواية صحيحة

فتح الباري:8/571

Menyerang riwayat shahih tanpa bukti tidak dapat diterima, namun sebenarnya riwayatnya shahih

Fathul Bari : 8/571

 

Atau link online kitab

فتح الباري شرح صحيح البخاري

أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=52&ID=9098

 

 

dia juga menyatakan :

 

وقد تأول القاضي أبو بكر الباقلاني في كتاب ‏”‏ الانتصار ‏”‏ وتبعه عياض وغيره ما حكي عن ابن مسعود فقال‏:‏ لم ينكر ابن مسعود كونهما من القرآن وإنما أنكر إثباتهما في المصحف، فإنه كان يرى أن لا يكتب في المصحف شيئا إلا إن كان النبي صلى الله عليه وسلم أذن في كتابته فيه، وكأنه لم يبلغه الإذن في ذلك، قال‏:‏ فهذا تأويل منه وليس جحدا لكونهما قرآنا‏.‏

وهو تأويل حسن إلا أن الرواية الصحيحة الصريحة التي ذكرتها تدفع ذلك حيث جاء فيها‏:‏ ويقول إنهما ليستا من كتاب الله‏.‏

Qadhi Abi Bakar al-Baqilani menta’wil dalam “Al-Intishar”, dan Iyad serta lainnya mengikutinya, mengenai apa yg diriwayatkan dari Ibn Mas’ud. Dia (Al-Baqilani) berkata :

 

Ibn Mas’ud tidak menolak dua surat tersebut bagian dari al-Qur’an. Namun, dia menolak memasukkannya dalam Mushaf qur’an. Ini dikarenakan telah diriwayatkan bahwa ia tidak memasukkan apapaun dalam mushaf qur’annya kecuali dari Rasulullah saw, telah memberikan izin kepadanya utk melakukannya.  Sepertinya izin tersebut tidak sampai kepadanya (dalam kasus dua surat tersebut.pen). Oleh karena itu, pernyataannya hanya ta’wil, dan itu bukan penolakan bahwa itu (dua surat tsb) bagian dari al-Qur’an.

 

(Ibn Hajar berkomentar.pen) itu adalah penakwilan yang baik NAMUN riwayat shahih yang jelas sebagaimana aku telah sebutkan tadi menolak (penakwilan) tersebut..karena Ibnu Masud menyatakan : “KEDUANYA BUKAN DARI KITAB ALLAH”

Sumber :

فتح الباري شرح صحيح البخاري

أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

دارالريان للتراث

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=52&ID=9098

 

Lalu apa yang dikatakan oleh ulama sunni lainnya yaitu Suyuti, dalam kitabnya Dur al-Mantsur :

الدر المنثور/سورة الفلق

Link online Dur Al-Manstur oleh Suyuti :

http://ar.wikisource.org/wiki/%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D8%AB%D9%88%D8%B1/%D8%B3%D9%88%D8%B1%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D9%81%D9%84%D9%82

 

أخرج أحمد والبزار والطبراني وابن مردويه من طرق صحيحة عن ابن عباس وابن مسعود أنه كان يحك المعوذتين من المصحف ويقول: لا تخلطوا القرآن بما ليس منه إنهما ليستا من كتاب الله إنما أمر النبي أن يتعوذ بهما وكان ابن مسعود لا يقرأ بهما قال البزار: لم يتابع ابن مسعود أحد من الصحابة وقد صح عن النبي أنه قرأ بهما في الصلاة وأثبتتا في المصحف

Ahmad, al-Bazar, Thabarani dan ibn Mardawaih meriwayatkan DENGAN SANAD SHAHIH mengenai Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud bahwa ia (Ibn Mas’ud) “menghapus” surat al-Falaq dan An-Nas dari Mushaf dan berkata : “JANGAN MENCAMPUR AL-QUR’AN DENGAN SESUATU YANG BUKAN BAGIAN DARINYA. KEDUA SURAT TERSEBUT BUKANLAH DARI KITABULLAH.  NABI HANYA MEMERINTAHKAN MENCARI PERLINDUNGAN DARI KEDUANYA“. AL Bazzar mengatakan ;tidak ada seorang sahabat pun yang mengikuti Ibnu Mas’ud, telah sahih bahwa Nabi membaca kedua surat tersebut dalam shalat, dan kedua surat tersebut telah tetap keberadaannya dalam mushaf (al-Quran).

 

Lebih lanjut, satu ulama salafi yaitu Dr. Nasir bin Muhammad al-Majid yang merupakan salah satu dosen di Universitas Islam Imam Muhammad ibn Saud, mengatakan  :

 

 

السؤال

السلام عليكم

سمعت أن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه لم يدخل سورتي الفلق والناس في مصحفه، ما سبب ذلك؟.

الجواب

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده ، وبعد:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

ما أشار إليه السائل الكريم عن ابن مسعود رضي الله عنه صحيح، إذ روي ذلك عنه بأسانيد حسان

 

pertanyaan :  

Assalamu ‘alaikum

Saya mendengar bahwa Abdullah bin Mas’ud  ra, tidak mencatat surat  al-Falaq dan Surat al-Nas dalam mushafnya. Apa  alasannya?

 

 

jawaban :  

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

 

Segala puji bagi

Allah dan shalawat dan salam bagi Nabi terakhir…dan setelah itu:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..

Apa yang oleh penanya yang terhormat  sebutkan tentang Ibn  Mas’ud ra adalah BENAR (صحيح ) Pendapat tersebut  telah diriwayatkan darinya  dengan sanad yang hasan (بأسانيد حسان  )…..


Secara lengkap dan panjang bisa di rujuk ke link dibawah ini :

الكتاب : فتاوى واستشارات موقع الإسلام اليوم

المؤلف : علماء و طلبة علم

الناشر : موقع الإسلام اليوم

http://www.islamport.com/b/2/alfeqh/fatawa/%C7%E1%DD%CA%C7%E6%EC/%DD%CA%C7%E6%EC%20%E6%C7%D3%CA%D4%C7%D1%C7%CA%20%C7%E1%C5%D3%E1%C7%E3%20%C7%E1%ED%E6%E3/%DD%CA%C7%E6%EC%20%E6%C7%D3%CA%D4%C7%D1%C7%CA%20%C7%E1%C5%D3%E1%C7%E3%20%C7%E1%ED%E6%E3%20005.html

 

Ada juga yang mengatkan untuk  membela sahabat dengan mengatakan dia (ibn Mas’ud) manusia biasa jadi bisa saja dia salah.

begitu juga dikatakan oleh Dr. Nasir bin Muhammad al-Majid (link diatas) :

وهو بشر غير معصوم

Dia adalah manusia dan tidak maksum

 

 

Menarik, namun tidak mereka terapkan, terlebih nashibi selalu sepihak dan mudah menuduh syiah. Mengatakan syiah kafir karena menurut mereka syiah meyakini tahrif. dan Jika ataupun tidak ada maka bukankah mereka juga tidak maksum??

NAMUN demi membela Ibn Mas’ud mereka  mengatakan hanya sebuah kekeliruan belaka !!, bukankah Nawawi berkata :

 

أجمع المسلمون على أن المعوذتين والفاتحة وسائر السور المكتوبة في المصحف قرآن. وأن من جحد شيئا منه كفر. وما نقل عن ابن مسعود في الفاتحة والمعوذتين باطل ليس بصحيح عنه

Kaum Muslimin sepakat atas Muawidzatayn dan al-fathihah dan surah lainnya tertulis dalam mushaf Qur’an, dan barang siapa menolaknya maka ia Kafir. Dan apa yang dikatakan dari Ibn Mas’ud mengenai al-fathihah dan Muwadzatayn  bathil dan tidak shahih. (al-Majmua, 3/396) 

 

Itulah pembelaan Nawawi yang telah dikomentari oleh Ibn Hajar Asqalani sendiri setelah menyebutkan pendapat-pendapat beberpa ulama termasuk Nawawi dengan mengatakan :

 

والطعن في الروايات الصحيحة بغير مستند لا يقبل، بل الرواية صحيحة

فتح الباري:8/571

Menyerang riwayat shahih tanpa bukti tidak dapat diterima, namun sebenarnya riwayatnya shahih

Fathul Bari : 8/571

 

Dan atas ta’wil Qadhi Abu Bakar al-Baqilani, Ibn Hajar berkata :

 

itu adalah penakwilan yang baik NAMUN riwayat shahih yang jelas sebagaimana aku telah sebutkan tadi menolak (penakwilan) tersebut..karena Ibnu Masud menyatakan : “KEDUANYA BUKAN DARI KITAB ALLAH”

فتح الباري شرح صحيح البخاري

أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

دارالريان للتراث

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=52&ID=9098

.

.

.

.

 

Bagian III

Dalam Kitab Al-Mushahif, oleh ulama sunni, Abu Bakar Al-Sijistani (catatan kaki oleh Dr. Muhibudin Wa’iz, seorang profesor di Universitas Umm al-Qura Di mekah) pada halaman 241-242, tercatat ucapan Imam Malik :

 

Telah diriwayatkan kepada kami, Abdullah; diriwayatkan kepada kami, Abu Thahir; diriwayatkan kepada kami Ibn Wahab yang telah berkata : Aku bertanya kepada (imam) Malik mengenai Mushaf Utsman ra, dan ia (Malik) menjawab : “Hilang” (Kitab Al-Mushahif, 241-242)

catatan kaki oleh Dr. Muhibbudin Wa’iz ; “Sanadnya Shahih”

Mushaf Utsmani sebagaimana kita ketahui adalah Al-Qur’an yang ada ditangan kita saat ini. Lalu apa yang dimaksud oleh Imam Malik dengan ucapannya “HILANG” ?

catatan : Scan kitab diakhir artikel ini 

.

.

.

Bagian IV

Diebutkan bahwa Umar bin Khatab ketika membaca ayat :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah..” (Al-Jumu’ah ; 9)

 

Umar membaca :

فامضو الى ذكر الله

Pergilah kamu untuk mengingat Allah  (yang Umar baca)

 

فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

bersegeralah kamu untuk mengingat Allah (Mushaf Ustman)

 

 

Secara arti mungkin dua kata tersebut tidak jauh beda, namun ini adalah Kalamullah, ini adalah Al-Qur’an. Jelas ini merupakan Tahrif!

Bukhari mencatat dalam Kitabnya (صحيح البخاري) mencatat bagaimana umar membaca ayat tersebut :

بَاب قَوْلُهُ

{ وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ }

وَقَرَأَ عُمَرُ فَامْضُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

 

Sumber :

الكتاب : الجامع الصحيح المسند من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه (صحيح البخاري 

المؤلف : محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة البخاري، أبو عبد الله (المتوفى : 256هـ

مصدر الكتاب : موقع الإسلام

http://www.al-islam.com

[ الكتاب مشكول ومرقم آليا غير موافق للمطبوع وهو متن مرتبط بشرحه ]

Link Kitab Online : http://sh.rewayat2.com/hadith/Web/990/009.htm

 

 

 

 

Begitu juga dalam Sunan Baihaqi :

 

6078- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ شَيْبَانَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : مَا سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْرَؤُهَا إِلاَّ فَامْضُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

 

 

 

Sumber :

 

الكتاب : الكتاب : السنن الكبرى وفي ذيله الجوهر النقي

المؤلف : أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي

 

 

Link Kitab online :

http://www.islamport.com/b/3/alhadeeth/motoon/%DF%CA%C8%20%C7%E1%E3%CA%E6%E4/%D3%E4%E4%20%C7%E1%C8%ED%E5%DE%EC/%D3%E4%E4%20%C7%E1%C8%ED%E5%DE%EC%20052.html

 

 

Ulama Sunni lainnya yaitu Suyuthi dalam Kitrab al-Dur Mantsur (8/161) juga dengan jelas menyebutkan bahwa Umar bin Khatab ketika membaca ayat diatas :

 

وأخرج عبد الرزاق وعبد بن حميد عن ابن عمر قال : لقد توفي عمر وما يقول هذه الآية التي في سورة الجمعة إلا ” فامضوا إلى ذكر الله

 

IBN UMAR berkata : Sampai akhir usianya/meninggal Umar bin khatab tidak mengucapkan ayat ini dalam surat al-jumu’ah kecuali : فامضوا إلى ذكر الله

 

 

 

 

Sumber : http://www.shamela.ws

Link Kitab online : http://sh.rewayat2.com/tafseer2/Web/977/018.htm

[ الدر المنثور – السيوطي ]

الكتاب : الدر المنثور

المؤلف : عبد الرحمن بن الكمال جلال الدين السيوطي

الناشر : دار الفكر – بيروت ، 1993

 

 

 

 

Begitu juga dalam Tafsir Jami’ al-Bayan (Thabari) tafsir surat al-Jumuahayat 9 :

 

 

حدثنا أبو كُرَيب، قال: ثنا ابن يمان، قال: ثنا حنظلة، عن سالم بن عبد الله، قال: كان عمر رضي الله عنه يقرؤها: «فامْضُوا إلى ذِكْرِ اللَّهِ».

حدثنا ابن حُمَيد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن حنظلة، عن سالم بن عبد الله أن عمر بن الخطاب قرأها: فامضوا.

حدثني يونس بن عبد الأعلى، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: ثنا حنظلة بن أبي سفيان الجمحيّ، أنه سمع سالم بن عبد الله يحدّث عن أبيه، أنه سمع عمر بن الخطاب يقرأ: «إذَا نُودِيَ للصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الجُمْعَةِ فامْضُوا إلى ذِكْرِ اللَّهِ».

قال: أخبرنا ابن وهب، قال: أخبرني يونس، عن ابن شهاب، قال: أخبرني سالم بن عبد الله بن عمر، أن عبد الله قال: لقد توفى الله عمر رضي الله عنه، وما يقرأ هذه الآية التي ذكر الله فيها الجمعة: { يا أيُّها الَّذِينَ آمَنُوا إذَا نُودِيَ للصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الجُمْعَةِ } إلا «فامضوا» إلى ذكر الله

 

Sumber :

* تفسير جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري (ت 310 هـ) مصنف و مدقق

http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=1&tSoraNo=62&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=1

 

 

Jadi Umar bin Khatab membaca ayat tersebut BERBEDA dengan apa yang ada dalam Mushaf Utsman yang sekarang ini ada ditangan kaum muslimin sedunia, siapa yang salah? Umar bin Khatab atau Mushaf Utsmani? jawablah sendiri.

 

Bagian V

Ibn Abbas juga meyakini adanya kesalahan dalam Al-Qur’an. Al-Hakim meriwayatkan :

 

 Ibnu Abbas ra  berkata mengenai firman Allah swt  ; “Laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum hattaa tasta’nisuu”  Ia berkata “itu kesalahan dari penulisnya”  yg benar adalah  “hattaa tasta’zinuu”.

(Mustadrak , 2/430 no 3496)

 

Al-Hakim berkata : “Hadis ini shahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim) tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”

 perkataan Al-Hakim diatas disepakati juga oleh Dzahabi dalam Talkhis Al-Mustadrak. 

Link Kitab online : http://islamport.com/d/1/mtn/1/22/473.html

الكتاب : المستدرك بتعليق الذهبي

 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

 

=========================

Kitab Al-Mushahif, oleh ulama sunni, Abu Bakar Al-Sijistani

Like this Article? Subscribe to Our Feed!

Tentang Al-Husayni

Cek juga

Umat Islam Yang Sebenarnya Bukanlah Pengikut Kaum Arogan

  Oleh Sayid Thoha Musawa Haul Cucu Nabi Muhammad (saw) Imam Husain bin Ali (as) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *