Breaking News
Beranda » Sejarah » Itrati atau Sunnati

Itrati atau Sunnati

Itrati atau Sunnati : Fatwa Al-Alim Al-Alamah As-Sayyid Al Habib Hasan Bin Ali Bin Hasyim Bin Ahmad Bin Alwy Ba’agil Al-Alawy

Fatwa Al-Alim Al-Alamah As-Sayyid Al Habib Hasan Bin Ali Bin Hasyim Bin Ahmad Bin Alwy Ba’agil Al-Alawy

Mufti Mazhab Syafi’i Di Makkah Almukarramah

Wafat Tahun 1335 H

Jawaban Mengenai Hadits, “Aku tinggalkan pada kalian Ats-tsaqalain (dua pusaka), yaitu Kitabullah (Alqur’an) dan Keluargaku (yaitu) Ahli Baitku”.

Saya pernah ditanya mengenai hadits, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; kitabullah (Alqur’an) dan ……..” apakah -kata penanya itu-hadits tsb shahih jika ditambah dengan kata-kata (akhirnya) ‘itraty wa ahli baity (keluargaku yaitu ahli Baitku) atau mungkin yang benar, wasunnaty (dan sunnahku). Dia berharap agar dapat menjelaskan sanad hadits tsb.

 

Sebenarnya, hadits yang tsabit dan shahih adalah hadits yang berakhir dengan wa ahli baity. Sedang yang berakhir dengan kata-kata wa sunnaty itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanadnya.

Berikut penjelasan mengenai sanad hadits tsb.Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya (IV: 1873 no. 2408 cetakan Abdul-Baqy) dari Sayyidina Zaid bin Arqam r.a. Dia berkata;

“Suatu hari Rasulullah s a w. Pernah berdiri dihadapan kami seraya berkhutbah disuatu tempat (kebun) kosong diantara Makkah dan Madinah. Beliau s a w memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya. Lalu menasehati dan mengingatkan (ummatnya). Kemudian bersabda; “Amma ba’du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian manusia, sesunguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi) akan datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku ke Hadhrat-Nya), maka akupun (pasti) mengabulkannya. Dan aku akan meninggalkan pada kalian dua pusaka. Pertama, Kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh.” Beliau s a w. Memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai Kitabullah dan mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian beliau saw bersabda, “Dan Ahli Baitku (keluargaku).”

 

Itulah Lafadh atau redaksi Imam Muslim.

Dan diantara perawi lain yang meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah Al-Darimy dalam Sunan-nya (II : 431 – 432) dengan isnad shahih seperti (terangnya) matahari. Ada juga perawi lain yang meriwayatkan hadits tsb seperti redaksi Imam Muslim itu. Sedang riwayat Imam Turmudzi terdapat kata-kata, wa ‘itraty ahli baity (dan keturunanku [yaitu] ahli baitku [keluarga rumahku]).”

Dalam Sunan Turmidzi (V: 663 no. 3788), Rasulullah s a w. Bersabda;

“Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang (erat-erat) pasti kalian tidak akan sesat sudah aku (tiada). Salah satunya lebih agung dari pada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (yaitu) ahli baitku. Kedua pusaka itu tidak akan berpisah sehingga keduanya dapat mendatangkan haudh-telaga-kepadaku. Perhatikanlah (berhati-hatilah dan pikirkanlah) bagaimana kalian memperlakukan merekasepeninggalku.”

Hadits shahih.

ADAPUN KATA-KATA WA SUNNATY (DAN SUNNAHKU), SAYA TIDAK MERAGUKAN KE-MAUDHU’-ANNYA KARENA KE-DHA’IF-AN SANADNYA,dan faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi kelemahannya.

Berikut ini isnad dan matan Hadits tsb.

Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits tsb dalam Al-Mustadrak (I :93) dengan isnad dari Ibnu Abi Uwais dari ayahnya, dari Tsaur bin Zaid Al-Daily, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Diantaranya dalam sanad hadits tsb terdapat Ibn Abi Uwais dan ayahnya. Al-Hafidh Al-Mizzy dalam Tahdzib Al-Kamil (III : 127), mengenai biografi Al-Ibn-Ibn Abi Uwais – dan aku akan mengutip perkataan orang yang mencelanya, berkata Muawiyah bin Shalih dari Yahya bin Mu’in;

“Abu Uwais dan putranya itu (keduanya) dha’if (lemah).” Dan dari Yahya ibn Mu’in juga, Ibn Abi Uwais dan ayahnya (suka) mencuri hadits.” Dan dari Yahya juga, “Dia itu suka mengacaukan (hafalan) hadits (mukhallith) dan suka berbohong, dia tidak mengapa (dalam hadits).”Tetapi menurut Abi Hatim, Ibn Abi Uwas itu tempat kejujuran (mahalluhu ash-shidq), dia terbukti lengah (dilengahkan / dibiarkan orang) (mughaffal). Imam Nasa’iy menilai dia dha’if (lemah). Dan masih menurut Imam Nasa’iy dalam kesempatan lain, dia tidak tsiqah. Menurut Abu Al-Qasim Al-Alka’iy, “Imam Nasa’iy sangat jelek menilainya sampai ke derajad matruk (Ibn Abi Uwais itu ditinggalkan orang)”. Menurut komentar Abu Ahmad binAdy, “Ibn Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya (khal-nya) (yaitu) Malik yaitu berupa beberapa hadits gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun (dari periwayat lain) (tidak ada mutaba’ah-nya).Al-Hafizh Ibn Hajar dalam muqaddimah Al-Fath Al-Bary (hlm. 391 terbitan Dar Al-Ma’rifah) mengenai Ibn Abi Uwais mengatakan, ” atas dasar itu hadits dia -Ibn Abi Uwais-tidak dapat dipakai sebagai hujjah selain yang terdapat dalam As-shahih, karena celain yang dilakukan Imam Nasa’iy dan lain-lainnya …..”.

 

Al-Hafizh Sayyid Ahmad bin As-Shadiq dalam Fath Al-Mulk Al-Aly (hlm 15) mengatakan,

“Berkata Salamah bin Syabib, “Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan, “Mungkin Aku membuat hadits (adhu’u al-hadits) untuk penduduk Madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu diantara mereka.”

 

Jadi, dia-Ibn Abi Uwais – dituduh suka membuat hadits (maudhu’), dan Ibn Mu’in menilainya sebagai pembohong. Dan haditsnya yang mengandung kata-kata wa sunnaty tidak terdapat dalam salah satu dari Shahihain.

Adapun mengenai ayahnya, Abu Hatim Ar-Razy mengatakan, sebagaimana disebutkan didalam kitab anaknya Al-Jarh wa At-Ta’dil (V: 92), “Ditulis haditsnya, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah, dan dia tidak kuat.”

Dalam sumber yang sama, Ibn Abi Hatim mengutip dari Ibn Mu’in bahwa dia berkata dalam kitab Al-Jarh wa Ta’dil tsb, “Abu Uwais itu tidak tsiqah.”

Menurut saya, sanad yang dimasuki atau dicampuri oleh dua orang yang telah kami paparkan itu tidak dapat menjadi shahih kecuali jika ada unta yang dapat masuk ke lubang jarum (mustahil). Apalagi jika telah terbukti bahwa apa yang telah mereka bawa dan datangkan itu bertentangan dengan hadits tsabit dan shahih. Pikirkanlah itu, semoga Allah memberikan hidayah pada kita semua.

 

Imam Al-Hakim telah mengakui ke dha’if-an hadits tsb, sehingga dia tidak menshahihkannya dalam Al-Mustadrak. Dia hanya menarik (mencarikan) syahid atau saksi penguat bagi hadits tsb, tetapi tetap saja lemah (wahin) dan isnadnya jatuh (saqith), sehingga tampaklah betapa sangat lemahnya hadits tsb. Kami telah membuktikan bahwa Ibn Abi Uwais dan ayahnya sungguh -sungguh, salah satu diantara keduanya telah mencuri (membuat) hadits. (Sehingga haditsnya disebut maudhu’, dibuat-buat).

Al-Hakim meriwayatkan (I : 93) hadits tsb, dia berkata, “Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadits tsb dari hadits Abi Hurairah”. Kemudian diriwayatkan dengan sanadnya melaui (jalan) Al-Dhaby: Telah menghaditskan kepada kami Shalihbin Musa At-Thalhy dari Abdul Aziz bi Rafi’ dari Abu Shalih dari Abu Hurairah – secara marfu’ (Rasulullah s a w bersabda), “Sesungguhnya aku meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah keduanya. Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya mendatangkan (mengembalikan) telaga (haudh) kepadaku”.

Menurut saya (Sayyid Hasan) hadits tsb juga maudhu’ (dibuat-buat). <span>Disini yang dibicarakan atau yang dikomentari hanya satu orang yaitu Shaleh bin Musa Al-Thalhy.

Berikut ini penilaian para imam pakar hadits dari kalangan Kibar Al-Huffazh (penghafal terkenal) yang mencela Shaleh bin Musa Al-Thalhy sebagaimana terdapat dalam kitab Tahdzib Al-Kamal (XIII : 96);

“Berkata Yahya bin Mu’in, “Laisa bi-syai’in (riwayat [hadits] tsb bukan apa-apa).”

Abu Hatim Ar-Razy berkata,

“Dha’if Al-Hadits (Haditsnya dha’if).” Dia sangat mengingkari hadits dan banyak kemungkaran terhadap perawi yang tsiqah.

 

Menurut penilaian Imam Nasa’iy, haditsnya tidak perlu ditulis. Atau pada kesempatan yang lain Imam Nasa’iy berkata;

“Dia itu matruk al-hadits (haditsnya matruk / ditinggalkan).”

 

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalany dalam Tahdzib At-Tahdzib (IV: 355) menyebutkan;

“Ibn Hibban berkata bahwa Shaleh bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadits itsbat (yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tsb ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk ber-hujjah.

 

Abu Nu’aim berkata :

“Dia itu matruk al-hadits, sering meriwayatkan hadits-hadits munkar.”Al-Hafizh dalam At-Taqrib juga menghukuminya sebagai rawi matruk (yang harus ditinggalkan)

(Tarjamah 2891).

Demikian pula Al-Dzahaby dalam Kasyif (2412), yang menyebutkan bahwa dia wahin (lemah). Menurut Al-Dzahaby dalam Al-Mizan (II : 302), hadits riwayat Shaleh bin Musa tsb termasuk kemungkaran yang dilakukannya.Imam Malik menyebut hadits tsb dalam Al-Muwaththa’ (I : 899 no. 3) tanpa sanad (jadi tidak ada asal-usulnya hadits itu / la aslu -pen). Tetapi hal itu tidak ada artinya, karena mengenai kelemahannya telah jelas.

Al-Hafizh Ibn Abdilbar dalam At-Tahmid (XXIV : 331) menyebutkan sanad ketiga mengenai hadits dha’if tsb;

“Dan telah menghaditskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata, “telah menghaditskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata, “telah menghaditskan kepada kami Muhammad ibn Ibrahim Al-Daibaly, dia berkata, “telah menghaditskan kepada kami Ali bin Zaid Al-Faraidhy, dia berkata, “telah mengahaditskan kepada kami Al-Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf, dari ayahnya, dari kakeknya (mengenai hadits tsb)”.

 

Sekarang kita akan memperbincangkan satu illat atau penyakit saja, yaitu<span>Katsir bin Abdullah yang terdapat dalam isnad hadits tsb.

Menurut Imam Syfa’iy Rahimahullah Ta’ala;

dia adalah salah satu punggung kebohongan.

 

Sedang menurut Abu Dawud Rahimahullah Ta’ala,

“dia adalah salah satu pembohong.”

 

Ibn Hibban berkata;

“Dia meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya suatu nuskhah (teks) yang maudhu’ (dibuat-buat) yang tidak halal atau tidak pantas untuk dicantumkan didalam berbagai kitab dan tidak perlu diriwayatkan kecuali untuk (sisi) ta’ajjub (aneh karena keberaniannya dalam berbohong -pen).

 

Menurut penilaian Imam Nasa’iy dan Al-Darulquthny;

”dia matruk al-hadits (haditsnya ditinggalkan orang). Imam Ahmad berkata, “dia itu pengingkar hadits, dia tidak (mempunyai peran) apa-apa.”

 

Demikian pula menurut peniliaan Yahya bin Mu’in;

bahwa dia tidak (bukan) apa-apa, (tidak ada apa-apanya), (bukan orang penting).

 

Saya (Sayyid Hasan bin Ali) berpendapat, sungguh salah jika Al-Hafizh Ibn Hajar Rahimahullah Ta’ala – dalam Taqrib menilainya sebagai dha’if saja, kemudian dia berkata, “sungguh berlebihan jika ada orang yang menuduh sebagai pembohong.” Menurut saya (Sayyid Hasan), hal itu sama sekali tidak salah dan tidak berlebihan. Karena, seperti terlihat dari peniliaan para imam atau pakar hadits, dia memang pendusta.

Bukankah Al-Dzahaby juga telah menilai dia (dalam Al-Kasyif) sebagai wahin (lemah). Dan memang dia demikian. Haditsnya maudhu’. Hadits tsb tidak cocok untuk diikuti (mutaba’ah) dan tidak perlu dicarikan syahid (saksi penguatnya). Bahkan harus dijauhi. Allah-lah yang memberi taufiq kepada kita semua.Menurut Tuan Mutanaqidh – penentang atau sang kontroversial – dalam Dha’ifatih (IV : 361), hadits shahih dan tsabit (kuat) yang menyebutkan, “Wa ‘itraty ahli baity (Dan keturunanku yaitu ahli baitku) menjadi syahid (saksi) atas (kebenaran dan keshahihan) hadits yang mengandung wa sunnaty (dan sunnahku).

Yang demikian itu menurut saya (Sayyid Hasan bin Ali) termasuk yang layak untuk ditertawakan saja. Hanya Allah yang memberi hidayah kepada kita semua. Tanbih / Peringatan dari Alhabib Assayyid Hasan bin Ali. Sabda Rasulullah s a w., “Itraty Ahli Baity (Keturunanku [yaitu] ahli baitku atau keluargaku), maksudnya adalah istri-istrinya (?), keturunannya (dzurriyah-nya), dan yang lebih istimewa adalah Sayyidah Fathimah, Sayyidina Ali r a. – semoga Allah memuliakannya di surga, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain a.s, dan semoga mereka mendapat ke ridaan-Nya. Dalilnya adalah sabda Nabi Muhammad s a w. Dalam sebuah hadits shahih dan tsabit. Diriwayatkan oleh Siti Aisyah r a. Dalam shahih Muslim (IV : 1883 no. 2424) dari Umar bin Abu Salamah, anak tiri Rasulullah s a w., sebagaimana dicantumkan dalam At-Turmudzi (V:663). Redaksinya dari beliau – Rahimahullah Ta’ala – dan lain-lainnya dengan isnad-isnad shahih. Dia berkata, “Ayat berikut ini turun kepada nabi s a w., Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu -hai ahli bait – dan membersihkan sebersih bersihnya (QS. Al-Ahzab: 33).” Ayat tsb turun kepada Nabi s a w di rumah Ummu Salamah r a. Lalu Nabi Muhammad s a w memanggil Sayyida Fathimah r a, Hasan dan Husain. Lalu Raulullah s a w menutupi mereka dengan kiswah (baju, kain) sedang Imam Ali r a. – wa karrama wajhah – ada dibelakang punggungnya (Nabi s a w). Beliau s a w pun menutupi dengan pakaian (kiswah). Kemudian beliau s a w bersabda, “Allahumma (ya Allah), mereka itu ahli baitku, maka hilangkanlah dosa (kekejian dan kekotoran) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya (bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya).” Ummu Salamah r a berkata, “Dan (apakah) aku beserta mereka wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Engkau mempunyai tempat tersendiri, dan engkau menuju kepada kebaikan.”Siapa yang membatasi Ahli Bait Rasulullah s a w hanya pada istri-istrinya saja, maka sungguh keliru. Karena hal itu bertentangan dengan ijmak dan sunnah yang shahih. Dengan penjelasan tsb, jelas bahwa hadits, Kitabullah wa ‘Itraty (Kitabullah dan keturunanku) adalah hadits shahih dan tsabit yang terdapat pada shahih Muslim.Kata-kata kitabullah wa sunnaty (kitab Allah dan Sunnahku) itu bathil – dari sisi isnad – dan tidak shahih.

Maka saya menganjurkan kepada para khatib, imam dan mubaligh untuk segera meninggalkan pengucapan hadits-hadits yang tidak diriwayatkan dari Nabi Muhammad s a w. Dan hendaknya mereka juga tidak segan-segan untuk mengungkapkan hadits shahih dari Nabi Muhammad s a w yang terdapat dalam Shahih Muslim, yang antara lain menyebutkan, “Kitabullah wa Itraty ahli baity atau wa ahli baity”. Kamipun pesan kepada para penuntut ilmu (santri dan pelajar pada umumnya) untuk mempelajari ilmu hadits. Dan hendaklah mereka juga mau menyediakan waktu untuk mengenali hadits yang shahih dan dha’if sekaligus. Allah SWT memfirmankan yang Hak dan benar. Dia menunjuki manusia dan makhluk-Nya ke jalan yang lurus dan benar. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

(Dikutip dari kitab Shahih Shifat Shalat An-Naby [Shalat Bersama Nabi s a w] karya Sayyid Hasan bin Ali Ba’Agil – Pustaka Hidayah – Bandung).

.

.

.

.

Qashidah Alhabib Abdullah Bin Alwy Al Haddad (ra)

قَالَ الْحَبِيْبُ عَبْدُ الله بْنِ عَلْوِيْ الْحَدَّاد صَاحِبُ الرَّاتِب

Berkata Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad (Shahibul Ratib)

يَا رَسُوْلَ اللهِ سَلاَمٌ عَلَيْكَ يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

Wahai Rasulullah, salam sejahtera untukmu. Wahai yang tinggi kedudukan dan derajatnya

عَطْفَةً يَا جِيْرَةَ الْعَلَمِ يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ وَ الْكَرَمِ

Sayangilah kami (ya Rasulullah). Wahai penyelamat alam semesta. Wahai pemilik segala kemuliaan dan kemurahan

نَحْنُ جِيْرَانٌ بِذَا الْحَرَمِ حَرَمِ اْلإِحْسَانِ وَ الْحَسَنِ

Kamilah sebenarnya penduduk asli Tanah Haram. Yaitu tanah yang benar-benar baik dan mulia

نَحْنُ مِنْ قَوْمٍ بِهِ سَكَنُوْا وَ بِهِ مِنْ خَوْفِهِمْ أَمِنُوْا

Sebab keberadaan mereka (Ahlulbaitmu), kami dapat merasa tenteram. Dan karena mereka jualah kami merasa aman dari ketakutan (fitnah dunia akhirat)

وَ بِأَيَاتِ الْقُرْآنِ عُنُوْا فَاتَّئِدْ فِيْنَا أَخَا الْوَهَنِ

Dan pula, dengan berpegang Kitab Suci Alquran sebagai pedoman hidup. Ikutilah jejak kami (dalam pedoman) wahai yang rapuh (imannya) pada godaan

نَعْرِفُ الْبَطْحَا وَ تَعْرِفُنَا وَ الصَّفَا وَ الْبَيْتُ يَأْلَفُنَا

Kamilah (Ahlulbait) yang mengenal Tanah Haram, dan Tanah Haram pun telah bersahabat dengan kami. Bukit Shafa dan Ka’bah telah terbiasa dengan keberadaan kami

وَ لَنَا الْمَعْلَى وَ خَيْفُ مِنَى فَاعْلَمَن هَذَا وَ كُنْ ذِكِنِ

Untuk kamilah “Ma’la” dan (daerah) “Khaif” (di dekat) “Mina”. Maka ketahuilah hai manusia dan bersikaplah arif dan bijaksana (pada pedoman ahlulbait)

وَ لَنَا خَيْرُ اْلأَنَامِ أَبُ وَ عَلِيُّ الْمُرْتَضَى حَسَبُ

Ketahuilah, bahwa penghulu sebaik-baik manusia adalah Ayah kami (Muhammad saw). dan juga Ali Al Murtadha (Ali bin Abi Thalib) sebagai kebanggaan kami

وَ إِلَى السِّبْطَيْنِ نَنْتَسِبُ نَسَبًا مَا فِيْهِ مِنْ دَخَنِ

Dari kedua cucu Nabi (Hasan dan Husain) nasab kami berasal. Yaitu silsilah (keturunan) yang tidak pernah tercemar keimanannya

كَمْ إِمَامٍ بَعْدَهُ خَلَفُوْا مِنْهُ سَادَاتٌ بِذَا عُرِفُوْا

Berapa banyak sudah para Imam yang datang dan mewarisi kepemimpinan setelahnya. Dari titisan yang memang terkenal dan kesohor (ke-Imamahan-nya)

وَ بِهَذَا الْوَصْفِ قَدْ وُصِفُوْا مِنْ قَدِيْمِ الدَّهْرِ وَ الزَّمَنِ

Karakter (ke-Imamahan) mereka telah dikumandangkan (oleh Nabi). Jauh-jauh hari sebelum mereka dilahirkan ke bumi ini

مِثْلُ زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ عَلِي وَ ابْنِهِ الْبَاقِرِ خَيْرِ وَلِيْ

Contohnya ialah (Imam) Ali Zainal Abidin. Dan putra beliau, yaitu (Imam) Muhammad Al Baqir sebaik-baik pemimpin

وَ اْلإِمَامِ الصَّادِقِ الْحَفِلِ وَ عَلِيٍّ ذِي الْعُلاَ الْيَقِنِ

Serta Imam Ja’far Shadiq yang sarat ilmu pengetahuannya. Dan Imam Ali (Al Uraidhi) yang memiliki keyakinan tinggi

فَهُمُ الْقَوْمُ الَّذِيْنَ هُدُوْا وَ بِفَضْلِ اللهِ قَدْ سَعِدُوْا

Mereka adalah kelompok (kaum) yang mendapat petunjuk. Dan dengan karunia Allah mereka menggapai kesuksesan

وَ لِغَيْرِ اللهِ مَا قَصَدُوْا وَ مَعَ الْقُرْآنِ فِي الْقُرْآنِ

Bahtera mereka tak akan berlabuh kecuali di dermaga Ilahi. Dan akan senantiasa selaras dengan Alquran sepanjang masa

أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَفَى الطُّهُرِ هُمْ أَمَانُ اْلأَرْضِ فَالدَّكِرِ

Ahlulbait Nabi (mereka) adalah manusia suci. Dan ingatlah bahwa mereka adalah pengaman bumi

شُبِّهُوْا بِاْلأَنْجُمِ الزُّهُرِ مِثْلَمَا قَدْ جَاءَ فِي السُّنَنِ

Mereka ditampilkan bak bintang-bintang yang gemerlapan. Seperti yang tertutur dan tertera pada hadis-hadis Nabawi

وَ سَفِيْنٌ لِلنَّجَاةِ إِذَا خِفْتَ مِنْ طُوْفَانِ كُلِّ أَذَى

Mereka (Ahlulbait) diibaratkan (pula) bagai bahtera keselamatan (yaitu bahtera Nabi Nuh as). Yang akan menyelamatkan pengikutnya dari (fitnah kehidupan) yang ganas serta segala gangguan (iman)

فَانْجُ فِيْهَا لاَ تَكُوْنُ كَذَا وَ اعْتَصِمْ بِاللهِ وَ اسْتَعِن

Maka bergabunglah anda bersama (bahtera keselamatan) dan janganlah sampai nasibmu seperti mereka (yang tertinggal dan tenggelam). Dan berpeganglah pula pada tali Allah SWT dan mintalah padanya perlindungan

رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ وَ اهْدِنَا الْحُسْنَ بِحُرْمَتِهِمْ

Ya Rabbi … berilah kami kesuksesan dalam hidup, demi keberkahan mereka. Tunjukkan kami ke jalan kebajikan demi kemuliaan mereka

وَ أَمِتْنَا فِيْ طَرِيْقَتِهِمْ وَ مُعَافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ

Tutuplah akhir usia kami berada di jalan mereka. Dan selamatkan kami dari segala fitnah dan petaka

source :

http://www.fatimah.org/ (ga tau sekarang linknya masih aktif apa ga)

http://madinah-al-hikmah.net/ (pernah diposting tgl : 14/02/07)

dll

——

Ulama Ahlusunnah Abul Hasan Al-Asy’ari :

 

“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.

(“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”.)

Ulama Ahlussunah Syahrastani, berkata :

 

“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.

(Syahrastani,dlm “Milal Wan Nihal”, hal. 118)

Ulama Ahlussunah Ibn Hazm, berkata :

 

“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”

(Ibn Hazm, dalam “Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal”, jilid 2, hal 113)

 

“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan khalifahku sepeninggalku”.

Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka :

 

“Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.

Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :

1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319.

2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62.

3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15.

4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”. Dll

Inilah Nama Para Imam Ahlul Bait Dalam Kitab Sunni

Di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 441 – 444) bab 76 dari Jabir al-Ansari berkata : Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah saww dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

 

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab:”Pertamanya penghulu dan bapa kepada wasi-wasi adalah ‘Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Maka itu berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakan anda. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekal terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

 

Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allah-lah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada partai Allah (hizbullah).

oleh Haydar Syarif Alhusayni

Like this Article? Subscribe to Our Feed!

Tentang nurmadinah

Cek juga

Imam Ali (as) Dalam Al-Qur’an

Like this Article? Subscribe to Our Feed!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *