Rosul bersabda: Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)

“Kaum Syiah Meludahi Kitabnya Sendiri” (?)

Ahlul Bayt, Akhlak, Event, Kitab, Syiah | | August 1, 2012 at 13:31
oleh Haydar Syarif  pada 30 Mei 2012 pukul 16:39
Bismihi Ta’ala

Bi haqqi Muhammad wa Aalihil Ath’har

 

“Kaum Syiah meludahi kitab-nya sendiri”, itulah yang dikatakan nashibi sembari membawa riwayat dari Kitab Syiah. Untuk melihat apa yang ia katakan silahkan lihat di SS di akhir artikel ini. Setelah panjang lebar berceloteh, ia berkata :

Lalu ada orang yang “bingung”  sembari berkomentar :

PERTAMA :

MATAN PENTING DIPOTONG OLEH NASHIBI

Jika kita mengutip sebuah riwayat memang mungkin tidak seluruhnya perlu diambil, namun bagian terpenting dari matan sebaiknya di sertakan.

Dalam catatannya (secara lengkap apa yang ia kutip diakhir artikel) Nashibi tersebut hanya menukil riwayat sampai dengan kalimat :

 حياتي كان كمن آذاها بعد موتي

Mereka biasanya memposting bagian dari hadits hanya sampai kalimat tersebut, tetapi mereka tidak jujur memotong bagian penting matan dari hadits dimana itu menjadi bagian yang membantah keseluruhan alasan kemarahan tersebut (sekali lagi saya katakan jika memang benar hadits tentang kemarahan Fathimah as tersebut shahih). Pada screen capture di bawah (ilal as-Syara’i) saya beri garis hijau, itulah batas riwayat yang ia ambil. Dan yang saya beri garis merah adalah terusannya.

setelah kalimat di bawah ini :

فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : يا علي ! أما علمت أنّ فاطمة بضعة مني وأنا منها ، فمن آذاها فقد آذاني ، ومن آذاني فقد آذى الله ، ومن آذاها بعد موتي كان كمن آذاها في حياتي ، ومن آذاها في حياتي كان كمن آذاها بعد موتي

Maka Rasulullah SAW Bersabda : Wahai Ali, Tahukah Engkau Bahwa Fathimah Adalah Budh’ah Dariku Dan Aku Adalah Bagian Dari Fatimah ?? sesiapa Yang menyakiti Fatimah Maka Ia Telah Menyakitiku, Sesiapa Yang menyakitiku Maka Ia Telah menyakiti Allah, Sesiapa Yang Menyakiti Fatimah Setelah Kematianku, Maka Ia Sama Dengan Menyakiti-nya Saat Aku Hidup, Sesiapa Yang Menyakitinya Sementara Aku Hidup Maka Ia Sama Dengan Menyakitinya Setelah Aku Mati…. (nashibi tersebut hanya membawa riwayat sampai disini)

Ada Bagian penting yang tidak di tampilkan, yaitu ketika Rasulullah (saww) bertanya jika ia (Imam Ali as) mengetahui bahwa menyakiti Fathimah (as) sama dengan menyakiti Nabi saww, mengapa ia (Imam Ali as) melamar anak Abu Jahal, yg mana itu sama saja menyakiti Fathimah (as), jawaban Imam Ali (as) adalah :

‘Ilal al-Syara’i

 

 

 

atau kitab online  ini :

 

Yang bergaris merah adalah terusan dari akhir nukilan Nashibi tersebut. Berisi jawaban Imam Ali (as) atas berita tersebut dan Pembenaran Nabi saww atas ucapan Imam Ali, dan senyuman Fathimah (as) karena ternyata berita itu tidak benar.

Berkata Ali : “Benar wahai Rasulullah.”

Berkata (Rasulullah saww) : “Lalu mengapa kau berbuat begitu?”

Berkata Ali : “Demi Dzat yang mengutusmu sebagai Nabi dengan haqq, apa yang ia sampaikan bukanlah berasal dari diriku…”

Nabi (saww) berkata : “Engkau Benar”

Maka Fathimah menjadi senang dengan itu, dan ia tersenyum sampai kau bisa melihat mulutnya.

Dimana kemurkaan Sayyidah Fathimah (as) wahai Nashibi?

Mengapa matan ini penting? alasannya adalah :

  1. Imam Ali (as) menjawab dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukan seperti dalam berita yang sampai kepada Fathimah (as).
  2. Rasulullah saww membenarkan ucapan Imam Ali as.
  3. Fathimah (as) menjadi senang dan tidak murka karena ternyata Imam Ali as TIDAK melakukan hal yang membuat Fathimah marah, dan berita tersebut salah.

Sampai  disini pun Nashibi  akan bingung karena ia tahu bahwa jika ia membawa riwayat tersebut tanpa memotong bagian penting dari pertanyaan Nabi saww dan jawaban Imam Ali (as) diatas, serta pembenaran dari Nabi atas jawaban tersebut, maka mereka (nashibi) sama saja membawa dalil yang lemah, dimana semua bantahan dengan membawa riwayat tersebut pada dasarnya hanya untuk menyaingi riwayat yang jelas-jelas shahih dalam Syiah dan Sunni mengenai Kemarahan Sayyidah Fathimah (as) terhadap Abu Bakar yang sampai wafatnya tidak memaafkan Abu Bakar. Apakah kami yang mengungkit-ungkit masalah ini? tidak! kami juga sudah bosan dan mengerti bahwa banyak orang berakal yang meyakini bahwa Sayyidah Fathimah (as) murka kepada Abu Bakar yang notabene tercatat dengan sanad shahih dalam kitab sunni sendiri, permasalahannya adalah mereka ingin “menandingi” riwayat tersebut, terlebih riwayat tersebut berkaitan dengan Imam Ali (as) yang diyakini sebagai Imam pertama mazhab syiah imamiyah, maka wahabi nashibi ini akan mencari cara apapun untuk melawan syiah, dan sekarang cara mereka adalah menukil dari kitab-kitab syiah, namun seperti biasa mereka akan menggunakan cara-cara curang seperti diatas. Jika kita melihat di screen shoot (diawal dan akhir artikel tentang komentar) akan terlihat komentar orang lain yang hampir‘tertipu’, lepas dari orang tersebut berpura-pura (jika sebenarnya termasuk golongan mereka) atau memang ia merasa “bingung” dan serba salah,  yang  pada intinya akan ada banyak orang seperti dia yang mungkin hanya membaca tanpa berkomentar apapun, yang jelas ratusan orang telah memberi “like” pada tulisan orang itu.

KEDUA :

PERAWI

1. Ali bin Ahmad

Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Imran al-Daqqaq atau Alī bin Ahmad bin Musa bin Ibrahim al-Daqqaq. Ayatullah Khu’i (Mu’jam Rijal, 12/279) dan Al-Syahrudi (Mustadarakat ‘ilm Rijal) meyakini bahwa nama tersebut adalah orang yang sama. Ash-Shaduq telah telah memberikan Taradhi pada keduanya. Seperti dalam Uyun Akhbar Ridha, ia memberi Taradhi (radhiallahu anhu dibelakang nama) pada Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Imran al-Daqqaq.  Taradhi dan tarahim (radhiallahu anhu/rahimahullah) bukanlah serta merta menjadi seorang perawi yang langsung diterima. Sedangkan Alī bin Ahmad yang satu lagi tidak ada penjelasan lain tentangnya dalam kitab Rijal Klasik Syiah. Kesimpulannya,  Ali bin Ahmad adalah majhul, karena tidak mendapatkan Tawtsiq (pengakuan sebagai orang yang dapat dipercaya dan diandalkan) oleh ulama syiah sendiri. Muhammad Jawahiri  ( المفيد من معجم رجال الحديث – محمد الجواهري – الصفحة ٣٨٤ ) mencatat, sesuai standar Ayatullah Khu’i, mereka berdua majhul.

7899 – 7897 – 7911 – علي بن أحمد بن محمد: من مشايخ الصدوق، العلل – مجهول – والظاهر أنه علي بن أحمد بن عمران الآتي 7903.

7903 – 7901 – 7915 – علي بن أحمد بن محمد بن عمران الدقاق: من مشايخ الصدوق، العيون – مجهول -

7909 – 7907 – 7921 – علي بن أحمد بن موسى الدقاق: من مشايخ الصدوق – روى في الفقيه وفي مشيخة الفقيه – لا يبعد اتحاده مع علي بن أحمد بن محمد بن عمران ” المجهول المتقدم 7903 ” – متحد مع علي بين أحمد بن موسى ” المجهول المتقدم 7907 “.

2. Ahmad bin Muhammad bin Yahya

Nama lengkapnya adalah Abbul Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Zakariya bin al-Qattan. Ayatullah khui menempatkan namanya Ahmad bin Yahya bin Zakariya. Ketika kita lihat kunyahnya maka akan terlihat mereka adalah orang yang sama, indikasi lainnya bahwa mereka orang yang sama adalah Ali bin Ahmad bin Musa Al-Daqaq meriwayatkan darinya :

1015 – أحمد بن يحيى بن زكريا القطان أبوالعباس :

روى عن بكر بن عبدالله بن حبيب أبي محمد ، وروى عنه محمد بن أحمد السناني ، وعلي بن أحمد بن موسى الدقاق

Kitab Rijal klasik syiah tidak mencatat mengenai orang ini. Bahkan kitab Rijal pasca kitab rijal klasik seperti Al-Khulashah atau Jami’ Ar-Ruwat tidak menyebutkan apapun tentang orang ini. Dalam Al-Mufid min Mu’jam Rijal al-Hadits orang ini Majhul

1013 – 1012 – 1015 – أحمد بن يحيى بن زكريا القطان أبو العباس: مجهول

3. Amru bin Abi Al-Miqdam

Nama lengkapnya adalah Amru bin Tsabit bin Hurmuz al-Hadad, dikenal dengan Amru bin Abi Al-Miqdam. Banyak perbedaan pendapat mengenainya.

  1. Najasi mengatakan bahwa ia adalah sahabat Imam ke 4, 5, dan 6 (Rijal Najasi, h.290).
  2. Ayatullah Khu’i tidak menemukan riwayat darinya yang langsung dari Imam ke-4 (Mu`jam Rijal, 14/81).
  3. Ulama Sunni yaitu Al-Mizi, dalam Tahdhib al-Kamal ( 21/ 533-539) menyusun dari orang-orang yang mana ia (Amru bin Abi Al-Miqdam) meriwayatkan hadits, namun ia (al-Mizi) tidak menyebutkan bahwa Amru meriwayatkan dari Ali bin Husain as (Imam ke-4 Syiah).

Dalam Syiah, sedikitnya ada tiga perbedaan pendapat mengenai Amru bin Abi Al-Miqdam, antara lain : 

  • Tsiqah

Para ulama mengatakan ia tsiqah bersandar pada riwayat dalam ikhtiyar ma’rifatur-Rijal 2/ 392 (dan sebenarnya riwayat ini mursal karena dalam riwayat tersebut dalam salah satu perawinya tidak menyebutkan nama, hanya menyebut “dari seorang laki-laki qurays” ). Ayatullah Khui juga menshahihkannya karena ia termasuk salah satu perawi dalam Tafsir al-Qummi (Mu`jam Rijal, 22/259), namun bentuk dari Tawtsiqat al-Amah (autentikasi perawi umum/diluar syiah) banyak ditolak oleh para ulama.

  • Dhaif

Pandangan ini berasal dari Ibn Ghadairi yang menyatakan bahwa Amr bin Abi Al-Miqdam Dhaif Jiddan dalam Kitab Al-Dhuafa (h.73). Mungkin karena adanya perbedaan pendapat mengenai Kitab Ibn Ghadairi tersebut yang diatributkan kepada beliau sehingga banyak ulama tidak mengambil pendapat tersebut.

  •  Mukhtalif Fīhi

Beberapa ulama masih berselihih mengenainya, dan sebagian bersikap tawaqquf  yaitu berhenti dalam membuat penilaian pada dirinya. Allamah Majilisi salah satu ulama syiah yang menyatakan ia “dhaif atau mukhtalif fihi ” dalam Rijal Majlisi (h.270). Mereka mengambil ‘pendekatan ini karena kondisi Amr bin Abi Al-Miqdam tidak dapat diketahui/dikenal dengan jelas.

Sedangkan dalam Ahlu Sunnah, ia banyak di dhaifkan oleh para ulama, walaupun Kitab hadits ataupun lainnya milik mereka tidak memegang kendali dalam hadits syiah, namun tidak ada salahnya jika memaparkan bebrapa pendapat ulama mereka mengenai Amr bin Abi Al-Miqdam.

1. Bukhari juga mengatakan namanya adalah Amru bin Tsabit bin Hurmuz dikenal dengan Amru bin Abi Al-miqdam : “ia tidak kuat” ( Adh-Dhuafa As-Shaghir, no.257 )

2. Ibn Hibban memasukkan Amru bin Abi Al-Miqdam dalam al-Majruhin, 2/76

3. Ibn Mu’in ; “ia tidak dapat dipercaya ataupun diandalkan” ( Tarikh Ibn Mu’in, 3/366)

4. Nasa’i : “ia ditinggalkan dalam hadits” (Al-Dhuafa wal Matrukin, h.80)

5. Ibn Abi Hatim mencatat namanya adalah Amru bin Tsabit bin Hurmuz dan ia adalah Ibn Abi Al-Miqdam. Ketika bertanya kepada ayahnya, dijawab dhaif dalam hadits, dan menulis haditsnya adalah merusak, dan ia berpendapat pandangannya syiah. Dan ketika bertanya kepada Abu Zur’ah, dijawab “lemah dalam hadits” ( Jarh wa al-Ta’dil. 6/ “Amru bin Abi Al-Miqdam )

4. Ziyad bin Abdillah

Dalam riwayat tersebut tertulis :

“dari Amru bin Abi Al-Miqdam dan Ziyad bin Abdillah…..”

Maka terlihat bahwa sanad dalam teks tersebut melalui dua nama tersebut. Mengenai Amru bin Abi Al-Miqdam telah kita lihat bahwa banyak ikhtilaf tentangnya, dan sebagian menyatakan majhul. Sekarang kita akan melihat tentang Ziyad bin Abdullah.

Ziyad bin Abdillah tidak pernah meriwayatkan hadis yg masuk dalam kitab yang empat milik syiah (Kutub Al-Arba’ah). Namun ada riwayat yang hanya menyebutkan namanya (bukan meriwayatkan), yaitu riwayat dari Hasan bin Sayqal dari Imam Shadiq (as), dimana dalam riwayat tersebut tertulis bahwa Ziyad duduk bersamanya (dalam al-Kafi 4/564). Dalam Biharul Anwar terdapat lima riwayat berbeda yang sanadnya termasuk Ziyad bin Abdullah. Dalam Kitab Rijal Klasik Syiah, tidak ada yang bernama Ziyad bin Abdillah. Bahkan dalam Mu’jam Rijal Hadits milik ulama kontemporer syiah yaitu Sayyid Khu’i tidak ada nama Ziyad bin Abdillah.

Namun, Syahrudi ( مستدركات علم رجال الحديث ج ٣ – الصفحة ٤٤٩ ) menyebutkan dua nama nama Ziyad bin Abdillah.

  1.  Ziyad bin Abdillah bin Thufail al-Amiri al-Buka’i al-Kufi
  2. Ziyad bin Abdillah al-Mukari

Syahrudi meyakini bahwa dua nama tersebut adalah satu orang yang sama. Dan ternyata Baqir Al-Majlisi (dlm Biharul Anwar, 44/bab.30, h. 229) mengutip riwayat dari Al-Amali  Syaikh Thusi dengan menuliskan nama Ziyad bin Abdillah al-Mukari :

ما، [الأمالي للشيخ الطوسي‏] عنه عن أبي المفضل عن هاشم بن نقية الموصلي عن جعفر بن محمد بن جعفر المدائني عن زياد بن عبد الله المكاري عن ليث بن أبي سليم عن حدير أو حدمر بن عبد الله المازني عن زيد مولى زينب بنت جحش قالت كان رسول الله ذات يوم عندي نائما فجاء الحسين

dst

Dan setelah dilihat dalam Al-Amali milik Syaikh Thusi, tertulis namanya Ziyad bin Abdullah al-Buka’i.

641 / 88 – أخبرنا ابن خشيش، عن محمد بن عبد الله، قال: حدثنا هاشم بن نقية الموصلي الدقاق، قال: حدثنا جعفر بن محمد بن جعفر المدائني الثقفي، قال:

حدثنا زياد بن عبد الله البكائي، عن ليث بن أبي سليم، عن جدير – أو جد مر – بن عبد الله المازني، عن زيد مولى زينب بنت جحش، عن زينب بنت جحش، قالت: كان رسول الله (صلى الله عليه وسلم)، ذات يوم عندي نائما، فجاء الحسين

 dst…

Maka sekarang menjadi jelas bahwa kedua orang tersebut (1 dan 2 yang disebutkan Syahrudi) adalah sama.

Dalam Syiah, Ziyad bin Abdillah Majhul. Dan setelah kita ketahui nama lengakapnya, maka kita akan menemukan bahwa Ziyad bin Abdillah adalah bagian dari perawi sunni. Ia adalah perawi empat kitab utama Sunni salah satunya adalah Shahih Muslim ( Syarhnya ).  Beberapa ulama sunni memandangnya Dhaif dan sebagian Tsiqah.  Ibn Hajar menyatakan Tsiqah dalam Taqrib al-Tahdib.

Yang menarik adalah dalam sunni, Ziyad bin Abdillah tidak pernah dikatakan sebagai syiah, dan ini membuktikan bahwa sebenarnya Ziyad bin Abdillah adalah perawi sunni bukan perawi syiah.  Maka itu menjadi jelas bahwa ia tidak pernah meriwayatkan dalam empat kitab utama syiah. Dan dalam kenyataan riwayat-riwayat mengenai Imam Ali (as) melamar putri Abu Jahal paling populer dalam kitab-kitab sunni, maka menjadi jelas bahwa dari kalangan merekalah riwayat semacam itu beredar. Dan bukan hal yang luar biasa jika dalam syiah dan sunni banyak terdapat riwayat yang diriwayatkan oleh salah satu dari kalangan masing-masing, misalnya riwayat syiah yang beredar dalam sunni dan riwayat sunni yang beredar dalam kalangan syiah, melalui kedua golongan perawi masing-masing.

Kesimpulan

Riwayat ini Dhaif Jiddan, karena setidaknya terdapat terdapat tiga perawi Majhul dan sebagian terdapat ikhtilaf dimata para ulama syiah. Riwayat ini tidak bernilai apapun. Dan ulama Syiah seperti Syarif Murtadha ( Tanzih al-Anbiya,219 ) menyatakan riwayat tersebut bathil dan mawdhu.

Al-hamdulillahir-Rabbil-alamiin

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aalihil Ath’har

=========================================================

SS tulisan Nashibi secara lengkap :

zv7qrnb
Tags: ,
Perhatian
Komentar adalah tanggung jawab penulis komentar, sehingga dimohon agar isi komentar yang objektif dan berakal. Komentar atau link website yang penuh diiringi dengan KEBENCIAN dan EMOSI belaka hukumnya haram pada website ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Terimakasih.

1 Comment

  1. 1
    JX United States Opera Mini Unknow Os says:

    Assalamu ‘alaikum

    Artikel yang sangat menarik dan sangat menambah pengetahuan,saya ingin tau ,kitab apa yang mesti saya baca untuk mengetahui macam-macam hadits yang ada dalam ilmu hadits Syi’ah Imamiyah ? Kalau dalam Sunni contohnya : mudhtarib,mu’alal,marfu,dll. Nah saya ingin mempelajari macam-macam hadits dalam syi’ah,mohon infonya kitab apa yang mesti saya baca dan karya siapa ?

    Terima kasih sebelumnya , salam sejahtera

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.