Rosul bersabda: Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)

Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara Tanggal 1 Muharram 225 H (840 M) : Hanya 2 abad setelah wafat Rasulullah SAW

Islam Masuk Indonesia, Sejarah | | November 29, 2010 at 03:37

oleh: Amin Farazala  Al Malaya

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Pada kenyataannya, kebudayaan bangsa Iran cukup berpengaruh terhadap seluruh dunia. Masyarakat Iran, setelah menerima agama Islam, banyak menemukan keahlian dalam semua bidang ilmu keislaman, yang tidak satu pun dari bangsa lainnya yang sampai kepada derajat tersebut.

Secara khusus, kecintaan bangsa Iran kepada Ahlulbait tidak ada bandingannya. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya, dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlubait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain as pada bulan Muharram. Peristiwa ini, atau yang dikenal sebagai tragedi Karbala, adalah sebuah pentas kepahlawanan dunia, yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa non-Muslim.

Kisah kepahlawanan ini sudah berabad-abad selalu menjadi inspirasi dan tema penting bagi para penyair dan pemikir Iran. Ia juga merupakan episode sejarah yang penting dalam khzanah ajaran Syi’ah dan Sunah, dan bahkan kesusastraan dunia.

Dalam syi’ah, kecintaan kepada Ahlulbait merupakan kecenderungan yang abadi. Tanpa kecintaan ini, agama akan kosong dari ruh cinta. Bahkan, sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila tidak memiliki rasa cinta kepada Ahlulbait, maka seseorang telah keluar dari Islam. Budaya cinta kepada Ahlulbait, yang merupakan bagian dari pemikiran dan tradisi bangsa Iran, telah membekas diseluruh negeri Islam. Hal ini terkadang juga disebut sebagai pengaruh mazhab Syi’ah yang tampak pada kebudayaan Indonesia dan kaum Muslim dunia.

Kebudayaan Iran memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap kebudayaan Indonesia. Hal itu menunjukan bahwa sejak dahulu telah terjalin hubungan antara Iran dan Indonesia sehingga berpengaruh sangat kuat terhadap kebudayaan, tasawuf, dan kesusastraan. Meskipun mayoritas Muslim di Indonesia bermazhab Syafi’i, penelitian menunjukan bahwa kecintaan Muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang Iran.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakannya tampak dalam bentuk kebudayaan dan kesusastraan. Sejarah mencatat bahwa, di samping orang-orang Arab dan orang-orang Islam dari India, orng-orang Iran memiliki peran yang penting dalam perkembangan Islam di Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh lainnya.

Ada dugaan bahwa sebagian besar raja di Aceh bermazhab Syi’ah. Dimungkinkan pada masa awal perkembangan Islam disini, fikih Syi’ah-lah yang berlaku.

Catatan sejarah tertua adalah berdirinya kerajaan Perlak I (Aceh Timur) pada tanggal 1 Muharram 225 H (840 M). Hanya 2 abad setelah wafat Rasulullah, salah seorang keturunannya yaitu Sayyid Ali bin Muhammad Dibaj bin Ja’far Shadiq hijrah ke kerajaan Perlak. Ia kemudian menikah dengan adik kandung Raja Perlak Syahir Nuwi. Dari pernikahan ini lahirlah Abdul Aziz Syah sebagai Sultan (Raja Islam) Perlak I. Catatan sejarah ini resmi dimiliki Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur dan dikuatkan dalam seminar sebagai makalah ‘Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh’ 10 Juli 1978 oleh (Alm) Professor Ali Hasymi.

Untuk menggenapi informasi maklah ini , saya membaca lebih dari 1000 judul buku ditulis oleh penulis dalam dan luar negeri.

Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang aliran Syi’ah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abu Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidak mengherankan aliran Syi’ah pada era dua dinasti ini tidak mendapatkan tempat yang aman. Karena jumlahnya minoritas, banyak penganut Syi’ah terpaksa harus menyingkir dan wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia  Tenggara yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Asia  Tenggara   yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh TimurAceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.

Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhanniaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari ArabdanPersia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Ada banyak kerajaan Islam di Indonesia. Tentu ini adalah salah satu faktor yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Dari sekian banyak kerajaan, kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh Timur, daerah Perlak di Aceh sekarang. Ada sedikit yang ganjal di sini. Dalam buku-buku teks pelajaran di sekolah, disebutkan kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Samudera Pasai

Kesultanan Perlak adalah kerajaan islam pertama di Nusantara, kerajaan ini berkuasa pada tahun 840 hingga 1292 Masehi di sekitar wilayah Peureulak atau Perlak. Kini wilayah tersebut masuk dalam wilayah Aceh Timur, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam

.
Perlak Merupakan Suatu daerah penghasil kayu perlak, adalah kayu yang digunakan sebagai bahan dasar kapal. Posisi strategis dan hasil alam yang melimpah membuat perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad VIII hingga XII. sehingga, perlak sering disinggahi oleh Jutaan kapal dari arab, persia, gujarat, malaka, cina, serta dari seluruh kepulauan nusantara. karena singgahannya kapal-kapal asing itulah masyarakat islam berkembang, melalui perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal. Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya munculnya Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

.

Fakta menyebutkan Perlak lebih dulu ada daripada Samudera Pasai. Kerajaan Perlak muncul mulai tahu 840 M sampai tahun 1292 M. Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai yang sama-sama mengambil lokasi di Aceh. Berdiri tahun 1267, Kerajaan ini akhirnya lenyap tahun 1521. Entah mengapa dalam buku-buku pelajaran, tertulis secara jelas kerajaan Samudera Pasai-lah kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Sebuah kesengajaan….

Telah menjadi catatan para ahli sejarah dan ilmuan terutama Abu Ishak Al-Makarany Pasy bahwa kerajaan Islam-I-Asia Tenggara adalah telah didirikan di Peureulak dengan Ibukotanya, Bandar Khalifah.

Menurut penelitian para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan, Persia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera.

Letak geografis daerah Aceh sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan persinggahan yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik pelayaran berikutnya dari Cina menuju Persia ataupun Arab dengan menempuh samudra luas. Salah satu kota perdagangan pada jalur tersebut adalah Jeumpa dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan

.
Jeumpa Aceh adalah sebuah wilayah  yang keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana penguasa  Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet.

Masa itu desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke “Pintou Rayeuk” (pintu besar)

.
Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.

SEBELUM  ISLAM, ACEH  BERADA  DALAM KEKUASAAN  ORANG ORANG HiNDU DARi GUJARAT, BEGiTU  JUGA MEURAH  PERLAK (YANG TiDAK PUNYA KETURUNAN) JUGA BERAGAMA  HINDU

Adapun catatan-catatan berkaitan menyebut Maharaja Salman datang ke Aceh atau lebih tepat ke wilayah Jeumpa dianggarkan pada tahun 777 Masihi. Kedatangan rombongan 100 orang pendakwah ke Perlak yang diketuai Nakhoda Khalifah pula dikatakan berlaku sekitar 804 Masihi. Catatan turut menyebut Maharaja Salman telah berkahwin dengan Puteri Mayang Seludang daripada Jeumpa.

datanglah rombongan dakwah dari Persia yang  salah satu anggotanya adalah pemuda tampan yang dikenal dengan Maharaj Syahriar Salman  al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao

Seorang Putra dari Dinasti Sasanit Pangeran Salman meninggalkan Tanah Airnya menuju timur jauh dengan dan Asia Tenggara untuk berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya.

Maharaja Salman dikatakan mendapat 4 orang putera – Syahir Nuwi, Syahir Tanwi, Syahir Pauli, Syahir Dauli – dan seorang puteri, Tansyir Dewi juga dikenali sebagai Makhdum Tansyuri. Puteri inilah yang kemudian berkahwin dengan Ali bin Muhammad daripada rombongan Nakhhoda Khalifah. Anak dari hasil perkahwinan ini diangkat menjadi Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz yang diisytiharkan sebagai Sultan pertama kerajaan Islam Perlak pada tahun sekitar 840 Masihi.

Ada pihak membuat telahan bahawa Maharaja Salman adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan Saidina Hussein AS, cucu lelaki kedua Nabi Muhammad SAW. Alasan yang digunakan adalah kerana anak-anak Salman memakai gelaran Syahir atau Syahri di pangkal nama dan ini bersamaan dengan gelaran Syahri yang ada pada Puteri Syahribanun, isteri Saidina Hussein, puteri raja terakhir empayar Parsi (dimasukkan ke dalam wilayah jajahan Islam selepas dikalahkan oleh angkatan tentera yang dikirim oleh Saidina Umar). Ini tidak mustahil memandangkan pada tahun 777 Masihi, sudah ada 4 generasi keturunan Saidina Hussein. Ketika itu sudah hidup seorang Ahlul Bait terkenal, Imam Muza al-Khazim bin Ja’afar as Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Saidina Hussein sebagai bandingan. Namun menyatakan seseorang itu sebagai Ahlul Bait hanya berdasarkan pangkal nama Syahir atau Syahri terasa begitu dangkal. Lagipun ia memang satu gelaran kebesaran yang digunakan bangsawan berketurunan Parsi sejak turun-temurun.

Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.

Kisah kedatangan satu delegasi dagang dari Persia di Blang Seupeung, pusat Kerajaan Jeumpa yang ketika itu masih menganut Hindu Purba. Salah seorang anggota rombongan bernama Maharaj Syahriar Salman … Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanid Persia yang pernah berjaya antara 224 – 651 Masehi

Saat pertama adalah tiba dan berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah kapal kembali pulang, Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat dan kawin dengan Putri Jeumpa bernama Putri Mayang Seuleudang, Puteri dari penguasa  jeumpa.

Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang.. Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala adalah istri dari pangeran Salman, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya

.
Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima ajaran Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu.

Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Parsia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri penguasa jeumpa

Salman beserta rombongan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menuju ke Selat Malaka, namun sebelum sampai ke sana, Pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan akhirnya menikah dengan puteri Istana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang. Pangeran Salman pun tidak meneruskan perjalanan dengan rombongannya ke Selat Malaka, malah sebaliknya ia hijrah ke Perlak setelah mendapat izin dari mertuanya Meurah Jeumpa.

Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat  Malaka. Pasangan ini memilih “hijrah” ke Perlak (sekarang Peureulak,red), sebuah kawasan kerajaan yang dipimpin Meurah Perlak.

Tiada berapa lama, atas restu Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang berangkat ke Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh Meurah Peureulak. Setelah baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda tidak mempunyai anak laki-laki.

Meurah Perlak tak punya keturunan dan memperlakukan “pengantin baru” itu sebagai anak. Ketika Meurah Perlak meninggal, wilayah  Perlak diserahkan kepada Maharaj Syahriar Salman, sebagai penguasa Perlak yang baru. Perkawinan Maharaj Syahriar Salman dan Putri Mayang Seludang dianugerahi empat putra dan seroang putri; Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, SyahirTanwi, dan Putri Tansyir Dewi.

Atas mufakat Pembesar-pembesar Negeri Peureulak serta rakyat, diangkatlah Pangeran Salman menjadi penguasa  Peureulak yang baru. Dalam masa Baginda menjadi penguasa Peureulak, negeri menjadi makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan perdagangan dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri Peureulak, terutama membeli hasil bumi dan rempah-rempah.

Rombongan dakwah yang terdiri dari pedagang dan keturunan  raja raja Sasanid   yang berdakwah datang dari Persia meneruskan perjalanan mereka ke Selat  Malaka, akan tetapi seorang anggota rombongan bernama  MAHARAJ  SYAHRiAR  SALMAN  yang menikahi  puteri  PENGUASA  JEUMPA yaitu  Mayang  Seludang memilih menetap di Perlak  …

Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4 orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah :

  1. Syahir Nuwi, kemudian menggantikan ayahnya jadi penguasa  Peureulak.
  2. Syahir Tanwi (Puri), kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi penguasa Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia.
  3. Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi penguasa Negeri Sama Indra (Pidie)
  4. Sayhir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi penguasa Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang).
  5. Putri Maghdum Tansyuri

Mayang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah ajaran Islam. Ratu dikaruniai beberapa putra putri yang dikemudian hari menjadi tokoh  yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam di Asia Tenggara

Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Mayang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala, anakpenguasa Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga keturunan nya berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak,Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.

Tidak semua Puteri Raja menjadi pendukung keberhasilan suaminya, bahkan ada yang menjadi penyebab kehancurannya. Ingatlah sosok Cleopatra, Sang Maha Ratu Mesir yang penuh intrik dan telah menghancurkan karir Penakluk Agung Yulius Caesar. Karena Yulius menikahi Cleopatra, maka karirnya sebagai Penguasa Agung atau Kaisar Agung Romawi hancur, dia dikhianati oleh pendukung dan pemujanya, bahkan rakyatnya sendiri melecehkannya karena membawa Cleopatra ke Romawi. Akhirnya Yulius yang diagungkan dipecat senat Romawi bahkan dibantai oleh anggota Senat dihadapan dewan terhormat tersebut tanpa pembelaaan. Demikian pula yang telah menimpa Anthony, pengganti Yulius karena nekad menikahi Cleopatra, karirnya hancur dan bunuh diri di Mesir akibat intrik Cleopatra yang penuh tipu daya.

Putro Manyang Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya

Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari wilayah  Poli yang selanjutnya berkembang menjadi wilayah  Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai. Syahri Dito, yang melanjutkan mengembangkan  Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi penguasa  dan pendiri dari wilayah Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa yang diwariskan kepada keturunannya menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para gadis  dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para wanita  Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun.

———————————————————

Pangeran Salman dan puteri Mayang Selundang dianugerahi empat orang putera dan  seorang puteri. Mereka adalah Syahir Nuwi (Meurah Fu)
yang menggantikan ayahnya menjadi penguasa Perlak dengan gelar Meurah Syahir Nuwi, kemudian Syahir Dauli pergi merantau ke negeri
Indra Purba (Aceh Besar), sedangkan Syahir Pauli menrantau ke negeri Samaindera (Pidie) dan Syahir Tanwi kembali  ke negeri ibunya di Jeumpa dan kemudian di angkat menjadi Meurah Negeri  Jeumpa menggantikan kakeknya. Keempat putera Maharaj Syahrian Salman  sering dikenal dengan kaum imam empat (kawom imum peuet) atau penguasa  empat.

Sementara puteri mereka Tansyir Dewi menikah dengan seorang sayid keturunan Arab yang bernama Sayid Maulana Ali al-Muktabar..

Sayid Ali Muktabar sendiri kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama puteri Tansyir Dewi yang kemudian mereka dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana  Abdul Aziz Syah. Saat Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dewasa,  akhirnya dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak  dengan gelarnya Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang silsilahnya sebagai berikut seperti  yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi: Sultan Alaiddin Sayid  Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali al-Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Asshadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Sayidina  Ali Muhammad Zain al-Abidin bin Sayidina Husain al-Syahid bin Sayidina Ali bin Abu Thalib.

Sayid Ali Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq merupakan salah satu keturunan dari Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Jakfar al-Shadiq  adalah imam Syiah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW melalui  anaknya Nabi bernama Siti Fatimah yang memegang pemerintahan pusat di  Baghdad. Adapun silsilahnya sampai ke Rasulullah yaitu: Muhammad bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Muhammad Zain al-Abidin  bin Sayidina Husain al-Syahid bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW.

——————————————————–

Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara, bahkan di negeri Arab sekalipun.

Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putro Jeumpa Mayang Seuludong telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya, dan telah melahirkan wanita-wanita agung yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma serta kecantikan. Di antaranya adalah “ratu” Perlak bernama Makhdum Tansyuri (ibunda Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan Perlak pertama), Maha Ratu Kerajaan Pasai bernamaNahrishah, Maha Ratu Darwati (Dhawarawati) yang menjadi Maha Ratu Majapahit (ibunda Raden Fatah, Sultan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak), Maha Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang menjadi Maha Ratu Kerajaan Aceh Darussalam. Di samping itu ada yang menjadi panglima agung yang ditakuti musuh, seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dhien, Tjut Meutia dan lain-lainnya.

Sepatutnya wanita-wanita agung inilah yang menjadi teladan bagi mereka yang memperjuangkan emansipasi wanita di Serambi Mekah ini. Bahwa kenyataannya, sebelum Barat melaungkan emansipasi, wanita-wanita Aceh telah menikmati kesetaraannya secara maksimal

saudaraku….

Sebelumnya, dinasti Umayah dan Abasiyah sangat menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Ali Abu Thalib, tidak heran pada masa
dua dinasti tersebut tidak mendapatkan tempat yang aman dan selalu di ditindas karena jumlah minoritas, sehingga banyak dari penganut Syiah
menyingkir dari wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219
H/813-833 M)

Dicatat dalam sejarah, pada awal abad ke 9 Masihi telah datang rombongan 100 orang pendakwah dari Timur Tengah berlabuh di Perlak, diketuai seseorang yang dikenali sebagai Nakhoda Khalifah. Mereka ini dikatakan telah melarikan diri daripada buruan kerajaan selepas gagal dalam percubaan menggulingkan pemerintahan Bani Abbasiyah.

Ahli rombongan ini dikatakan terdiri daripada keturunan Rasulullah SAW melalui puteri baginda Fatimah az-Zahrah dan suaminya, Saidina Ali bin Abi Talib Karamallahuwajha, juga para penyokong yang mahukan kepimpinan anak cucu Nabi. Termasuk di kalangan mereka adalah seseorang bernama Ali bin Muhammad bin Jaafar Al-Sadiq.

Ada catatan lama menyebut Merah Syahir Nuwi berasal dari keturunan seorang bangsawan Parsi bernama Salman yang telah berhijrah ke bumi Serambi Mekah beberapa kurun terdahulu. Pelabuhan Perlak pula dikenali sebagai Bandar Khalifah sejak kedatangan rombongan 100 orang pendakwah itu, sempena nama ketua mereka Nakhoda Khalifah.

Ketika itu, Perlak sedang diperintah raja berketurunan Parsi, Merah Syahir Nuwi. Raja dan rakyat Perlak tertarik dengan akhlak ahli rombongan lalu menganut Islam, Rombongan itu dimuliakan dan Ali dikahwinkan dengan adik perempuan penguasa  Perlak yang bernama Makhdum Tansyuri.

Atas dasar itulah, sebuah Armada Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak.

maka berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah yang di kemudian hari dikenal di Aceh dengan Nahkoda Khalifah dengan misi menyebarkan Islam. Salah satu anggota dan Nahkoda Khalifah itu adalah Sayid Ali al- Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq.

Dari hijrah tersebut, berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah termasuk di dalamnya Sayid Ali Muktabar.  Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dari orang-orang Arab suku Qurasy, Palestina, Persia dan India dibawah Nakhoda Khalifah dengan menyamar menjadi pedagang. Rombongan Nakhoda Khalifah ini disambut oleh penduduk dan penguasa negeri Perlak yakni pada masa Meurah Syahir Nuwi.

Mereka merapat di pelabuhan Perlak sebagai akibat dan kekalahan golongan Syi’ah oleh dinasti Abbasiyah. Dinasi Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin Khalifah Al-Makmun (813-833) sehingga rombongan kaum Syi’ah yang berhijrah itu   itu adalah rombongan Nahkoda Khalifah.

Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi .

Syahir Nuwi penguasa Perlak yang baru menggantikan ayahandanya. Dia bergelar Meurah Syahir Nuwi. Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purba (sekarang Aceh Besar, red). Syahir Pauli menjadi Meurah di Negeri Samaindera (sekarang Pidie), dan si bungsu Syahir Tanwi kembali ke Jeumpa dan menjadi Meurah Jeumpa menggantikan kakeknya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh darah keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan bercampur dengan darah pribumi Jeumpa (sekarang Bireuen).

kemudian  datanglah rombongan berjumlah 100 orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Tujuan mereka adalah berdagang sekaligus berdakwah menyebarkan agama Islam di Perlak. Pemimpin dan para penduduk Negeri Perlak pun akhirnya meninggalkan agama lama mereka untuk berpindah ke agama Islam

Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dan orang-orang Arab dan suku Quraish. Palestina. Persia, dan India di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah sambil berdagang sekaligus berdakwah. Setiap orang mempunyai keterampilan khusus terutama di bidang pertanian, kesehatan. pemerintahan, strategi, dan taktik perang serta keahlian-keahlian lainnya.

Ketika sampai di Perlak, rombongan Nahkoda Khalifah disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa Perlak yang berkuasa saat itu yakni Meurah Syahir Nuwi.. .Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi

Sayid Maulana Ali al-Muktabar dalam rombongan pendakwah yang menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya setelah Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam ”pemberantakan” kaun Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja’far Ashhadiq.

Berikut Silsilah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang dikutip dan Silsilah Raja-raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-raja Islam di Nusantara yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi.

“Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali Al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i  bin Imam Ja ‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Saiyidina Ali Muhammad Zainal Abidin bin Saidina Hussin Assysyahid bin Saidina Ali bin Abi Thalib

Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan penduduk lokal termasuk Sayid Ali al-Muktabar kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama Puteri Tansyir Dewi. Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ini setelah dewasa dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak

Adik  bungsu  Syahir  Nuwi   yaitu  Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India.. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak

Sayid Maulana Ali al-Muktabar berfaham Syiah, merupakan putra dari Sayid Muhammad Diba’i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Syaidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw. Lengkapnya silsilah itu adalah: Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Maulana Ali-al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin Sayidina Husin Assyahid bin Sayidina Alin bin Abu Thalib (menikah dengan Siti Fatimah, putri Muhammad Rasulullah saw).

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak. Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak

Kerajaan Perlak  berdiri tahun 840 M dengan rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La

Pendiri kesultanan Perlak adalah sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah. Ia merupakan keturunan pendakwah arab dengan perempuan setempat. Kerajaan perlak didirikannya pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Banda Khalifah.

Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M).

Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiahdan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur.

Kini jelaslah kepada kita bahwa – Kerajaan Islam –I – Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

Disini dapat kita simpulkan bahwa ada dua tokoh penyebar  Islam ke Aceh yang berasal dari tanah Persia :

1. Maharaj Syahriar  Salman : seorang pangeran keturunan Dinasti Sasanid Persia

2. Sayid Maulana Ali al-Muktabar  keturunan  Rasulullah SAW

————————————————————————————————–

Daftar Sultan Perlak

Sebelum berdirinya Kesultanan Perlak, di wilayah Negeri Perlak sudah ada penguasanya, yaitu Maharaj Syahriar Salman  dan  Syahir Nuwi.

Sultan-sultan Perlak dapat dikelompokkan menjadi dua dinasti: dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat. Berikut daftar sultan yang pernah memerintah Perlak.

1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840 – 864)

2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864 – 888)

3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888 – 913) …Aliran Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin

4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915 – 918) …

Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok Sunni.

5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928 – 932)

6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932 – 956)

7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956 – 983)

8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat  (986 – 1023) …

Perlak sempat memiliki dua sultan pada masa ini dengan Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah berkuasa di Perlak Pesisir hingga 988….

Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun.

Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)……

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

  • Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986– 988)
  • Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)

Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kerajaan Sriwijayamenyerang Perlak dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat yang melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

Namun Islam Syi’ah tidak berkembang karena Perlak Syi’ah  dihancurkan Sriwijaya dalam suatu serangan tahun 986, bahkan  Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah  juga mangkat dalam usaha mempertahankan kerajaannya.

Kerajaan Perlak  Sunni selamat karena Sriwijaya terpaksa harus menarik mundur pasukkannya dan Perlak sebab mendapat ancaman dan Dharma Bangsa dan Jawa.

Kondisi perang inilah yang membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam Kesultanan Perlak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang awalnya hanya menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai Sultan ke-8 pada Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006. Sultan ke-8 berpaham aliran Sunni

Islam Sunni terus berkembang bahkan menyatukan kedua wilayah Perlak tersebut dalam satu bendera Perlak

9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023 – 1059)

10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059 – 1078)

11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078 – 1109)

12.Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109 – 1135)

13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135 – 1160)

14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160 – 1173)

15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173 – 1200)

16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200 – 1230)

17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230– 1267)

18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292)

Catatan: Sultan-sultan di atas dibagi menurut dua dinasti, yaitu dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat, yang merupakan keturunan dari Meurah Perlak asli (Syahir Nuwi).

Wilayah Kekuasaan

Sebelum bersatu dengan Kerajaan Samudera Pasai, wilayah kekuasaan Kesultanan Perlak hanya mencakup kawasan sekitar Perlak saja. Saat ini, kesultanan ini terletak di pesisir timur daerah aceh yang tepatnya berada di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Struktur Pemerintahan

Kehidupan Sosial-Budaya

Perlak dikenal dengan kekayaan hasil alamnya yang didukung dengan letaknya yang sangat strategis. Apalagi, Perlak sangat dikenal sebagai penghasil kayu perlak, yaitu jenis kayu yang sangat bagus untuk membuat kapal. Kondisi semacam inilah yang membuat para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia tertarik untuk datang ke daerah ini. Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan ajaran Islam di kawasan ini. Kedatangan mereka berpengaruh terhadap kehidupan sosio-budaya masyarakat Perlak pada saat itu. Sebab, ketika itu masyarakat Perlak mulai diperkenalkan tentang bagaimana caranya berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju.

Model pernikahan percampuran mulai terjadi di daerah ini sebagai konsekuensi dari membaurnya antara masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang. Kelompok pendatang bermaksud menyebarluaskan misi Islamisasi dengan cara menikahi wanita-wanita setempat. Sebenarnya tidak hanya itu saja, pernikahan campuran juga dimaksudkan untuk mengembangkan sayap perdagangan dari pihak pendatang di daerah ini.

Penggabungan dengan Samudera Pasai

Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (memerintah 1230 – 1267) menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak:

Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (memerintah 1267 – 1292). Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.

Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya, yaitu: Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh.

Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh

Berita dari marcopolo menyebutkan, pada saat persinggahannya di Pasai pada tahun 692 H atau 1292 M, telah banyak ulama arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Batuttah, Pengembara Muslim dari Maghribi (sekarang maroko). Ketika Singgah di aceh pada tahun 746 H atau 1345 M, ibnu Batuttah menuliskan bahwa di Perlak dan Pasai telah tersebar Mazhab Syafi’i.
Pada awal abad ke-13 di Ujung barat Sumatra berdiri kerajaan baru di bawah Sultan Malik Al-Saleh, bernama Samudra Pasai. Sementara di malaka, seorang pangeran asal Sri Wijaya membangun kerajaan baru bernama Malaka. Artinya situasi politik saat itu sedang memanas. Untuk itu, Sultan Makhdum Alaiddin mallik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (1230 – 1267) sebagai sultan ke 17 menjalankan politik persahabatan. Jalan yang ia tempuh adalah dengan menikahkan dua orang putrinya dengan para penguasa negeri tetangga. Putri ratna Kamala dinikahkannya dengan raja kerajaan Malaka yaitu Sultan Muhammad Syah Parameswara, sementara itu ganggang dinikahkan dengan raja kerajaan Samudra Pasai, malik Al-Saleh

.
Meski telah menjalankan politik damai dengan mengikat persaudaraan, ketegangan politik itu rupanya tetap saja mengancam kedaulatan kesultanan Perlak. Perlak goyah, Sultan makdum Aliddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292) menjadi sultan yang terakhir. Setelah ia meninggal, perlak disatukan dengan kerajaan Samudra Pasai di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, putra Al-Saleh.

Namun, dengan berkembangnya mazhab Syafi’i, mazhab Syi’ah mulai terkikis dan sekarang ini pengaruh fikih Syi’ah di Indonesia tidak terlihat lagi. Azan di Indonesia sedikit berbeda dengan azan di Iran (yang terdengar melalui media elektronik). Shalat Jumat di Indonesia dilakukan disetiap mesjid tetapi di Iran shalat Jumat hanya dilakukan di satu tempat di setiap kota.

Model bangunan makam-makam para wali di Indonesia berbeda dengan makam-makam para imam dan keturunan imam di Indonesia, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana.

Adapun pengaruh Iran yang penting setelah revolusi Islam terlihat pada kelompok Syi’ah di Indonesia. Di kepulauan Indonesia, sebagian besar sayid Alawi berasal dari wilayah Hadramaut, Yaman, yang sangat berperan besar dalam dakwah Islam.

Sayid bermakna ’pemimpin atau petunjuk’. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman, Dan mereka berkata, wahai Tuhan kami, kami telah menaati para pemimpin dan orang-orang terhormat di antara kami, dan mereka telah menyesatkan kami dari jalan yang benar.[1]

Rasulullah, Muhammad saw, tentang Fatimah as bersabda, “Fatimah adalah penghulu wanita seluruh alam.”[2]Kemudian, tentang cucunya, Imam Husain as, Nabi saw bersabda, “Al-Husain adalah penghulu para pemuda surga.”[3] Berdasarkan pandangan ini,, dikatakan bahwa para sayid adalah anak keturunan Rasulullah saw serta pemimpin kabilah dan kaum, misalnya al-Ishfahani mengatakan, “Makna sayid adalah penguasa atau pemimpin keluarga, sebagaimana Ustman bin Affan sebagai sayid keluarganya.”[4]

Sayid pun digunakan untuk julukan bagi ahli tasawuf dan para wali[5]. Pada abad ke-8 H, kelompok Syi’ah Dua Belas Imam, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, juga disebut dengan sayid[6]. Pada abad ke-8 H, terdapat seseorang bernama Naqib Ahlulbait, Abu Barakat bin Ali al-Husaini dikenal dengan julukan as-Sayid asy-Syarif.[7]

Umumnya, julukan “syarif” adalah gelar bagi anak keturunan Hasan bin Ali as, yang kebanyakan hidup di Madinah. Sementara itu, gelar “sayid” digunakan bagi anak keturunan Husain bin Ali as, yang kebanyakan tinggal di Hadramaut, Yaman.[8]

Komunitas para sayid Hadramaut juga dijuluki dengan habib (haba’ib), yang artinya adalah anggota Ahlulbait. Sejumlah besar sayid dari Hadramaut telah berhijrah ke kepulauan Indonesia.

Dikatakan bahwa wilayah Hadramaut di Yaman memiliki pohon-pohon kurma yang kuat, pepohonan yang indah, dan padang-padang berpasir dengan Laut Merah, dan juga memiliki sejarah dan peradaban kuno. Pada abad ke-5 dan 6 M, negeri indah Yaman adalah sumber sengketa antara kekasaisaran Romawi dan Persia. Pada awal abad ke-7 M, negeri ini menjadi bagian dari pemerintahan Islam yang berpusat di Madinah.[9]

Pada masa kejatuhan Irak ke tangan Islam, Muslim Hadramaut memiliki peran besar dalam peperangan antara pasukan Islam dan pasukan kerajaan Sasani. Setelah itu, sejumlah besar masyarakat Hadramaut hijrah ke Irak, secara khusus pada zaman kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian, pada zaman ‘Ali bin Abi Thaib as, pasukan Hadramaut yang berada di Irak menjadi pendukung Khalifah Ali as dalam peperangan Jamal dan Shiffin dan sejumlah besar dari mereka menerima mazhab Syi’ah.[10]

Gerakan politik mazhab Syi’ah bertambah besar pada zaman kekuasaan Bani Umayah. Seorang Khalifah Bani Umayah, Hisyam, pada 122 H/740 M, berhasil memenangkan peperangan dan membunuh pemimpin terakhir kaum Syi’ah, Zaid bin Ali, cucu Imam Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib as.

Pada zaman ini pula, 129 H/747 M, di Hadramaut muncul gerakan kelompok Ibadiah dari kalangan Khawarij yang dipimpin oleh Abdullah bin Yahya, yang berjulukanThalibulhaq. Ia terbunuh pada zaman kekuasaan Khalifah Umayah, Marwan bin Muhammad. Pada zaman ini, pengaruh khawarij di Hadramaut menjadi kuat dan Ahmad bin Isa adalah pemimpin terpenting bagi kaum Sayid Hadramaut.

Pada zaman Khalifah al-Mu’tamad (156-276 H/870-892 M), kakek dari Ahmad bin Isa, yaitu Muhammad an-Naqib bin Ali bin Jafar ash-Shadiq bersama putranya bernama Isa, hijrah dari Madinah ke Basrah, Irak. Disanalah, Isa menikah den lahirlah putranya yang bernama Ahmad.

Ahmad dan putranya Abdullah, pada 317 H/929 M hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman. Ia hijrah karena, di Basrah, kelompok-kelompok Qaramitah dan Zanj (dari Sudan) melakukan kerusakan-kerusakan dan pemerintahan Abasiyah, di masa Khalifah al-Muqtadir (295-320 H/908-932 M), selalu melakukan kezaliman dan penganiayaan terhadap anak keturunan Ali as.[11] Berkenaan dengan hijrah tersebut, Ahmad bin Isa disebut dengan Muhajir ilallah (yang berhijrah kepda Allah).

Ahmad bin Isa dan para pengikutnya secara bertahap berhasil menghentikan pengaruh Khawarij di Hadramaut. Mazhab suni Syafi’i pun berkembang di sana.[12] Dua abad kemudian, pada 521 H/1127 M, sejumlah orang dari Alawi al-Qasim, hijrah ke daerah Tharum, di Selatan Hadramaut. Tharum pernah terkenal sebagai pusat agama dan ilmu, dan di sana para sayid Alawi Hadramaut sangat dimuliakan.

Di sana para sayid mendirikan suatu pergerakan yang diberi nama Ba’alawi, sebagai sarana mengenal para sayid Alawi.[13] Para sayid menyakini bahwa diri mereka berasal dari keluarga Rasulullah saw, dari anak keturunan imam Husain as. Sejumlah besar sayid Hadramaut (para sayid Alawi) telah berhijrah ke Jawa, Indonesia, dan ke Asia Tenggara.[14]

Imam husain as pada tahun 61H/681M, dalam usia 56 tahun, syahid di Karbala. Putranya, Imam Ali Zainal Abidin as, berasal dari istri imam Husain yang merupakan putri Yazgard, raja Iran yang terkenal. [15]

Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa para Sayid Alawi hadramaut berasal dari keturunan Ali al-Qasim bil Bashrah, yakni cucu ketiga dari imam Husain as. Dapat dikatakan bahwa para sayid Hadramaut, dari anak keturunan Ahmad bin Isa, sangat terkenal serta memiliki hubungan yang kuat dengan para sayid di Maroko, Hijaz, dan India, dan selalu mendapatkan bantuan keuangan dari mereka.

Secara umum para sayid menguasai bidang ilmu agama dan tasawuf.[16] Ibnu Khaldun menulis bahwa pada zaman Abasiyah, setelah terjadinya berbagai perubahan, ajaran kelompok Rafidhiah (julukan tendensius para penentang Syi’ah. Rafidhiah berasal dari kata rafadha yang berarti “menolak”, yakni menolak tiga khalifah pertama- peny.) sangat berpengaruh besar terhadap tasawuf dan bermunculanlah para tokoh sufi terkenal, misalnya Qushairi dan Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali.

Setelah abad ke-4 H atau abad ke-11 M, tasawuf tampil secara sempurna sebagai sebuah cabang ilmu. Di dunia Islam, lahir berbagai kelompok tarekat, yang semuanya bersumber pada ajaran al-Quran. Setiap tarekat memiliki cara khusus dalam berzikir kepada alllah Swt.[17] Tarekat Alawi (tarekat yang didirikan oleh sebagian besar sayid di yaman Selatan) terbagi menjadi dua cabang, batiniah dan zahiriah. Zahiriah mengikuti Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali sedangkan batiniah adalah pengikut tarekat Syadziliyah.[18]

Kebanyakan sufi terekat Alawi memiliki karamah dan menyandang sejumlah julukan, misalnya syekh, naqib danquthb, serta mereka mewariskan sejumlah kitab tentang zikir. Dalam kitab-kitab zikir disebutkan sejumlah tokoh terkenal dari kalangan para sayid, seperti Muhammad bin Ali Ba’lawi, Syekh Alin bin Abdullah Baras, Abdurrahman Assegaf dan al-Qutub Umar bin Abdurrahman al-Attas.

Dikatakan bahwa para waliyullah memiliki kemampuan untuk memecahkan batu-batu besar dan menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Masyarakat setempat sangat menghormati mereka dan mendapatkan kesembuhan dengan keberkahan doa mereka.[19] Para sayid Alawi sangat menguasai pelayaran dan perdagangan. Mereka sangat aktif mulai dari Semenanjung Arab hingga ke Teluk Persia, tepatnya di sejumlah pelabuhan misalnya Siraf, Kish dan Ubullah (Bushers).

Sejak Irak jatuh ketangan orang-orang Mongolia, pada 1258 M, pusat perdagangan Arab berpindah ke Eden, di Yaman. Serombongan pedagang, tokoh-tokoh agama, dan ulama dari berbagai penjuru Semenanjung Arab pernah pergi ke sejumlah negeri di Timur Jauh, seperti Cina dan Semenanjung Melayu, yang sebagian dari mereka adalah ahli tasawuf dan agama.[20]

Islam yang diterima di Indonesia merupakan hasil usaha mubalig dari  Iran . Pengaruh tasawuf di sana pun sangat mencolok. Buku Hikayat Raja-raja Pasai dan buku Sejarah Melayu juga mencatat fenomena tersebut.

Setelah berhasil memperkenalkan tasawuf dan tarekat di Malaka, Maulana Abu Bakar pergi ke berbagai wilayah di Indonesia. Di Brunei dan Ceh (Filipina), Ia pun sempat memperkenalkan ajaran Islam. Kebanyakan para mubalig yang datang ke Tanah Melayu menyandang sejumlah julukan, misalnya Syekh, sayid dan syarif. [25]

Sejumlah besar sayid datang dan pergi ke Asia Tenggara, yaitu Jawa, Sumatra dan Semenanjung Melayu hingga masa penjajahan Belanda.[26]

Pada abad ke-16 M, seorang Mubalig Arab bernama Syarif Muhammad bersama beberapa pengikutnya, tiba di Mindanao, di selatan Filipina dari Malaysia untuk menyebarkan Islam. Disebutkan bahwa ia adalah putra dari seorang Arab bernama Syarif Ali Zainal Abidin, dari kalangan para sayid Alawi Hadramaut. [27]

Para sayid Alawi, dalam jumlah besar, datang ke kepulauan Nusantara melalaui jalur India, misalnya Sayid Usman bin Shahab yang memerintah kerajaan Siak dan Sayid Husain al-Qadri yang menjadi sultan di kerajaan Pontianak, di Kalimantan.[28]

Hijrahnya para sayid dari Hadramaut ke Asia Tenggara antara abad ke-17 hingga 20 H, berlangsung dalam beberapa tahapan. Mereka datang ke kepulauan nusantara dari India dan Indo-Cina. Para sayid Alawi berada di India sejak abad ke-7 H atau abad ke-13 H. Kemudian, sejak abad ke-10 H M, mereka sering datang-pergi ke daerah Pahang, di Malaysia.

Di kampung Pematang Pasir, di jazirah Tambun Pekan, di kota Pahang, Malaysia, terdapat sebuah makam orang Arab yang meninggal pada tanggal 14 Rabiul Awwal 419 H atau tahun 999 M.

Menurut sejumlah penulis seperti Nuwairi dan al-Maqrizi, sejak zaman kekuasan Bani Ummayah, beberpa keluarga kelompok Alawi atau Syi’ah telah berada di Jazirah Sila (Korea) dan Cina. Sangat mungkin, kepergian mereka ke sana karena lari dari kezaliman dan kejahatan Bani Umayah.

Demikian pula, terdapat kampung Leran, di Jawa Timur, yang nama kampung tersebut diambil dari kaum Lor, yakni orang-orang Iran yang pernah hijrah ke Jawa. Di kampung itu, terdapat makam seorang wanita Muslimah bernama Fatimah binti Maimun. Ia wafat pada 475 H/1082-1083 M.

Semua keterangan di atas menjelaskan bahwa hubungan negeri Arab dan Teluk Persia dengan Cina dan kepulauan Nusantara sudah ada sejak dahulu kala. Para sayid Alawi Hadramaut yang pernah berhijrah ke Asia Tenggara umumnya berasal dari beberapa marga, misalnya; al-Habsyi, al-Yahya (bin Aqil), Khirid, Hiduwan, as-Segaf, al-Attas, al-Jufri, al-Idrus, al-Haddad, asy-Syihab, dan yang lainnya.[29]

Menurut seorang peneliti dan ahli sejarah, Aboebakar Atjeh, di antara para mubalig yang pernah memperkenalkan ajaran Islam di Indonesia adalah keturuanan Ahlulbait. Aceh adalah wilayah pertama yang didatangi para mubalig dari Arab, Iran, dan India. Sementara itu, mazhab yang pertama kali berkembang di Aceh adalah Syi’ah dan Syafi’i.

Ia juga adalah wilayah yang menjadi tempat pemberhentian dan wilayah transit para pedagang sebelum pergi ke sejumlah pelabuhan, seperti Malaka, kepulauan Nusantara, dan Cina.

Orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji kerap melintasi Aceh, dengan menggunakan kapal-kapal Aceh atau internasional. Aceh adalah wilayah yang dikenal sebagaiSerambi Mekkah. Aboebakar Atjeh juga menulis bahwa dua orang ahli sejarah Iran, Sayid Mustafa Thabathaba’i dan Sayid Dhiya’ Shahab, dalam buku Hawla al-Alaqah ats Tsaqafiyah bayna Iran wa Indunizi (Tentang Hubungan Kebudayaan antara Iran dan Indonesia) menunjukan bahwa makam Maulana Malik Ibrahim Kasyani (wafat 822 H/1419 M) berada di Gresik, Jawa Timur, dan makamnya Sayid Syarif Qahhar bin Amir Ali Astarabadi (wafat 833 H) dan Hisamuddin Naini berada di Aceh.[30]

Sayid Mustafa juga melihat makam lainnya, yang pada papan makamnya tertulis beberapa baris ayat al-Qur’an dan syair tentang keagungan Imam Ali as, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut;

Pemuka Para Pemberani, Singa Tuhan,

Kekuatan Tuhan

Tidak ada pemuda kecuali Ali,

Tidak ada pedang kecuali Zulfikar.[31]

Masuknya ajaran Islam ke Sumatra umunya melalui usaha para sayid Alawi. Dalam kitab-kitab Arab kuno, kepulauan Nusantara tertulis denga nama Syarq al-Hind (Hindia Timur), Srilanka dengan nama Sarandip, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dengan nama Sribaza, Kedah di Malaysia dengan nama Kalah, Jawa dengan nama Zabij, dan Kalimantan dengan nama Ranj.

Para mubalig yang pertama kali datang ke Brunai adalah para sayid dan syarif, dan masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga sultan-sultan di Brunai dan Fhilipina.

Sejarah Serawak, Malaysia, menunjukan bahwa raja Brunei, Sultan Barakat adalah anak keturunan Imam Husain bin Ali as. Demikian pula, para sultan di Mindanao, dan Sulu, di Fhilipina, adalah anak keturunan para sayid. Di Pontianak, Kalimanan, Indonesia, para sultan berasal dari kabilah Qadri. Dikatakan bahwa para sultan Brunei dan sultan Mindanao sama-sama berasal dari anak keturunan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain as.

Para leluhur mereka berasal dari Hadramaut yang kemudian hijrah ke Johor, Malaysia. Para sultan Aceh pun berasal dari kalangan para sayid. Di Daerah Talang Sura, Palembang, Sumatra, terdapat makam Sayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, dari keturunan Imam Husain as. Begitu pula dengan Walisongo atau ’Sembilan Wali Jawa’ dan sultan-sultan di Jawa, semuanya berasal dari kalangan para sayid.[32]

————————————————————————

Catatan sejarah tertua adalah berdirinya kerajaan Perlak I (Aceh Timur) pada tanggal 1 Muharram 225 H (840 M). Hanya 2 abad setelah wafat Rasulullah, salah seorang keturunannya yaitu Sayyid Ali bin Muhammad Dibaj bin Ja’far Shadiq hijrah ke kerajaan Perlak. Ia kemudian menikah dengan adik kandung Raja Perlak Syahir Nuwi. Dari pernikahan ini lahirlah Abdul Aziz Syah sebagai Sultan (Raja Islam) Perlak I. Catatan sejarah ini resmi dimiliki Majelis Ulama Kabupaten Aceh Timur dan dikuatkan dalam seminar sebagai makalah ‘Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh’ 10 Juli 1978 oleh (Alm) Professor Ali Hasymi.

Bendera Kesultanan Aceh yang berisi syair puji-pujian terhadap Muhammad dan Ali
Imam Syi’ah Dua Belas Imam


  1. Ali bin Abi Thalib : Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarijdi KufahIrak. Imam Ali ra. ditusuk dengan pisau beracun.. Dimakamkan di Masjid Imam AliNajafIrak
  2. Hasan al-Mujtaba : Diracuni oleh istrinya di MadinahArab Saudi atas perintah dari Muawiyah I.Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  3. Husain asy-Syahid : Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala..Dimakamkan di Makam Imam Husain di KarbalaIrak
  4. Ali Zainal Abidin : Menurut kebanyakan ilmuwan Syi’ah, Ali bin Husain diyakini wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah, Arab Saudi.. Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  5. Muhammad al-Baqir : Menurut sejumlah ilmuwan Syi’ah, diyakini bahwa Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid diMadinahArab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  6. Ja’far ash-Shadiq : Menurut sumber-sumber Syi’ah, beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di MadinahArab Saudi.Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  7. Musa al-Kadzim : Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashiddi BaghdadIrak. Dimakamkan di BaghdadIrak
  8. Ali ar-Ridha : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di MashhadIran. Dimakamkan di Makam Imam Reza,MashhadIran
  9. Muhammad al-Jawad : Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di BaghdadIrak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim. Dimakamkan di Makam Kazmain di Baghdad
  10. Ali al-Hadi : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz.[36] Dimakamkan di Masjid Al-Askari di SamarraIr
  11. Hasan al-Askari : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di SamarraIrakatas perintah Khalifah al-Mu’tamid. Ia dimakamkan di Masjid Al-Askari, Samarra
  12. Muhammad al-Mahdi : Menurut keyakinan Syi’ah, beliau sekarang berada di dalam persembunyian dan akan muncul selama Allah mengizinkannya

wassalam

Catatan Kaki

1. Q.S. al-Ahzab :67

2. Ibnu Saad, Tabaqat, Leiden, 1940, Vol. VII, p.17.

3. C.V.Avendonk. Art, Sharif, Encyclopedia of Islam, M. TH. Houtsma, A.J Wensink. (eds), Vol. IV S-Z, J. Britll Ltd, Leiden, 1934, p.326.

4. Isfahani, Kitab al-Aghani, Math’ah Bulak, Cairo, 1285 A.H Vol. XVII, p.105-6.

5. Sharji, Thabaqat al-Khawawas, Cairo, 1321 AH, p. 2,3, 195.

6. Dhahabi, Tharikh al-islam, Manuscript, Leiden, 1721, Vol. 65A.

7. Nurwairi, Nihayat al-Arab, Wizarah al-Thaqafah wa al-Isryad al-Gawmi (ed). Dar al Kutub, Cairo, 1955, Vol. II, p.277. Hanya pada zaman kerajaan Fatimiah Mesir, keturunan Imam Hasan dan Imam Husain di juluki “syarif”, silahkan merujuk Mawardi,al-Ahkam as-Sulthaniyah, Enger, (ed), Bonn, 1853 AD, p. 277.

8. Ibnu al-Faqih, Mukhtasar Kitab al Buldan, MJ, de Goeje (ed) Leiden, Brill, 1885, p.33.

9. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1984, p.3.

10. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid. p.4.

11. Shalli, Kitab al-Mashra ar-Rawwi fi Manaqib as-Sadah al-Kiram al-Abi Alawi, al-Matba’ah al-Amiriah al-Sharafiyyah, Cairo, 1319 H/1901 M, Vol. I, p. 121.

12. Shalli, Kitab al-Mashra, loc. Cit.

13. Shalli, Kitab al-Mashra, ibid, p.129.

14. R.B.Serjeant, “Historians and Historiography of Hadramaut”, Buletin of SOAS, XXV, No.2, Londom 1962, p.245.

15. Ya’kubi, Tarikh, Mathba’ah al-Ghurri, Najaf, 1358 H, Vol. II, p.219.

16. R.B. Serjenant, The Sayids of Hadramaut, School of Oriental and African Studies, University of London, Luzan and Co, London, 1957, p.3. Lihat Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas (Arabic). Mathba’ah al-Madani, Cairo, 1968, Second Edition, Vol.2.pp. 45-46. Lihat juga al-Idrus bin Umar al-Habsyi, Iqd al-Yawaqit al-Jawahiriah, Cairo, 1317 H, Vol. I, p. 127.

17. Ibnu kHldun, Muqaddimah, Wazarat al-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1960, pp. 261-262. Lihat H.A. R.Gibb and Kramers (eds), Shorter Encycopeadia of Islam, E.J.Brill, Leiden, 1953, p.573. Lihat juga H.A. R Gibb, Mohammedanism, Oxford University Press, London, 1969, p.104.

18. Sayid Alawi b. Tahir al-Haddad, Uqud al- Almas, op.cit, pp.82-87.

19. Sayid Muhammad b. Salim al-Attas, Aziz al-Manal wa Fath al- Wisal, Malaysia Press, Berhad, Singapura, 1974. Lihat juga Mahyudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op.cit, p.16.

20. S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, Sociological Reseach Institute, Ltd, Singapore, 1960, p.94.

21. A.H. Hill (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No 33, Part 2, 1960, p.32-33.

22. Buzani, “Pengaruh Kebudayaan dan Bahasa Persia Terhdap Kesusastraan Indonesia”, Majalah Fakultas Sastra, Universitas Tehran no I, Tahun ke-14, 1345 Sh, p.6.

23. A.H. Hill, (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No.3, Part 2 1960, pp.32-33, 117-120.

24. S.R. Winstedt (ed), The Sejarah Melayu (Malay Annals), JMPRAS, XXVI, Pt I, 1938, pp. 170-172.

25. A. Hasjmi (ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Al-Maarif, Jakarta, 1981, p.375. Lihat juga Mhayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, op, cit, p.23.

26. R.B. Serjeant, The Sayids of Haramaut, op, cit, pp.24-25.

27. Alawi b. Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas, op, cit, p.131.

28. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op, cit., p.25.

29. Shahabudin Ahmad bin Abdul Wahab an-Numairi, Nihayat al-Arab fi Funun al-Adab, Wizarat ath-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1932, Vol. I, p. 230. Lihat juga Ahmad b. Ali al- Maqrizi, Khitat, Mathbaah Bulak, Cairo, 1279 H, Vol I. lihat juga Haji Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar, Medan, 1963, pp. 109-110, 123. Lihat juga Mahayudi Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid, pp. 33,37.

30. Aboebakar Atjeh, Aliran Syiah di Nusantara, Islamic Reseach Institute, Jakarta, 1977, p.31-32. Lihat juga Sayid Musthafa A-Thabataba’i and Dhiya Shahab, Hawla al-Alaqah ats-Tsaqafiyah bayna Iran wa Indonesia, Embassy of Iran, Jakarta, 1960.

31. Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Ramadhani, Solo, Jawa Tengah, 1985, p.29.

32. Aboebakar Atjeh, Masuknya Islam, ibid, p.35-37. Lihat juga S. Baring Gould, A History of Sarawak Under Two White Rajahs, Singapore. Lihat juga Al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Penerbit Lentera, Jakarta, 1995, pp.69-115.

Tags: , ,
Perhatian
Komentar adalah tanggung jawab penulis komentar, sehingga dimohon agar isi komentar yang objektif dan berakal. Komentar atau link website yang penuh diiringi dengan KEBENCIAN dan EMOSI belaka hukumnya haram pada website ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Terimakasih.

12 Comments

  1. 1
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    AHLUL BAIT, CELAH ANTARA SUNNI DAN SYIAH

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, dan ada anak lelaki pula, wah masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru dan hebat.

    Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Nabi Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai usianya dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan waris tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya dan keturunan berikutnya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait, mereka murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.

    Dengan demikian sudah waktunya kita menutup debat dan perbincangan masalah Ahlul Bait ini. Fihak-fihak baik kelompok sunni, habaib maupun kelompok syiah yang selama ini saling mengklaim bahwa mereka adalah keturunan ahlul bait itu, sebenarnya ridak ada haknya sebagai pewaris ahlul bait akibatnya telah menimbulkan peruncingan hubungan sesama Muslim.

  2. 2
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Linux says:

    Salam, bihaqqi Muhammad wa aali Muhammad.

    Jangan salah faham disini, yang dibahas adalah Ahlul Bait, bukan zuriyat (turunan nasab) yg sampai sekrng adalah hanya turunan nasab, bukan Ahlul Bait.

    Ahlul Bait dalam versi Sunni sudah sangat masyhur sejak dahulu kala, yaitu ahlul Kisa yg berjumlah 5 (Rasululloh Muhammad SAW, Imam Ali as, Fathimah Zahro as, Imam Hasan as dan Imam Husein as), diwaktu kejadian turunnya surat Al Ahzab ayat 33, yang kemudian mereka diselimuti oleh Rasululloh, dan Aisyah istri Rasululloh sendiri yang menyaksikannya.

    Meskipun demikian, versi Sunni pun menganggap bahwa Ahlul Bait ada 14 (termasuk ke 12 Imam + Nabi Muhammad SAW dan Fathimah Zahro as).

    Untuk masalah nasab turunan (saya tekankan disini, bahwa turunan hanya nasab saja, bukan derajat ketakwaan atau jaminan kesucian, sekali lagi hanya darah nasab saja), sebagaimana Hadist Nabi dan Ayat Alqur’an:

    Rasul saw bersabda, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, “Fathimah adalah belahan jiwaku. Akan murkalah aku pada siapa-siapa yang membuatnya marah.”

    Demikian agungnya putri Rasulullah saw ini, sehingga jadilah keturunan Rasul saw muncul dari keturunan Sayyidatuna Fathimah Zahra ra sebagaimana firman Allah yang menjadi dalilnya, “Sungguh wahai Muhammad, Kuanugerahkan padamu telaga al-kautsar, dan lakukanlah shalat yaitu shalat idul adha, dan setelah itu berkurbanlah. Inna syani’aka huwal abtar, justru yang membencimu dan mengatakanmu sebagai al-abtar itulah yang abtar.” Abtar adalah orang yg putus keturunannya. Jadi Rasul saw ini digelari oleh salah seorang musyrikin sebagai abtar, tidak punya keturunan lelaki, karena semua keturunan Rasulullah yang laki-laki telah wafat waktu bayi. Maka Allah menjawab, “Inna syani’aka huwal abtar,” yang abtar itu, yang putus keturunannya adalah yang mengucapkannya kepadamu, bukan engkau. Ayat ini dijadikan dalil oleh para muhaddits kita bahwa keturunan Rasul tidak terputus, melainkan berlanjut hingga ahir zaman dan menyebar ke pelosok penjuru dunia. Dengarlah oleh kalian, wahai orang-orang yang menganggap Rasulullah itu abtar, Allah sendiri yang menjawab kalian, “Inna syani’aka huwal abtar.” Bukan Rasul yang putus keturunannya.
    (Ayat Al-ur’an, surat al-Kautsar)

    Silahkan baca rujukan2 lainnya:
    http://www.nurmadinah.com/2011/08/pendapat-ulama-sunni-tentang-12-pemimpin/
    http://www.nurmadinah.com/2011/01/ulama-sunni-syaikh-sulayman-al-qunduzi-al-balkhi-al-hanafi-dan-nama-12-imam-yang-disebutkan-oleh-rasulullah-saww/

    Dan lain-lainnya.

    Catatan:
    Mengenai Label Ahlul Bait adalah bukan sembarang hanya karena turunan darah (nasab) saja, tetapi sangat berkaitan dgn Ilmu dan tanggung jawab yang kokoh sebagai pondasi Kesucian Ajaran Agama yg dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW.
    Sayangnya dibuku2 sejarah Islam standar di Indonesia kebanyakan bercerita tentang Imam Hasan dan Imam Husein hanya di waktu masa kanak-kanak saja, seakan-akan mereka diagungkan hanya karena nasab (turunan darah), bukan dari esensi ketinggian Ilmu, rendah hati, zuhud dan berjuang dgn Ikhlas.

    Wallahu’alam bishowwab.

  3. 3
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    APAKAH ADA ‘KETURUNAN’ AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.
    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.
    3. Isteri-isteri beliau.
    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, dan ada anak lelaki pula, wah masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru dan hebat.

    Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Nabi Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai usianya dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan waris tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5 sbb.:

    Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

    Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS. 33:4-5]

    jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya dan keturunan berikutnya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait, mereka murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.

    Dengan demikian sudah waktunya kita menutup debat, perbincangan dan perebutan masalah keturunan Ahlul Bait ini. Fihak-fihak baik kelompok sunni, habaib maupun kelompok syiah yang juga ada habaibnya selama ini saling mengklaim bahwa mereka adalah yang berhak atas keturunan ahlul bait itu. Sebenarnya mereka kedua kelompok tersebut tidak ada haknya sebagai pewaris ahlul bait. Akibatnya pertaringan dua kelompok besar ini adalah menimbulkan adanya peruncingan hubungan sesama Muslim.

  4. 4
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Ahlul bait itu panggilan kehormatan a.l. malaikat pada keluarga nabi-nabi a.l. ya Nabi kita Muhammad SAW (lihat ayat lain terkait dengan istilah ahlul bait). Al Quran dengan tegas menyatakan siap-siapa yang masuk katagori Ahlul Bait (bukan hanya QS. 33:33 saja).

    Kalau istilah Ahlul Bait tidak sama dengan nasab lalu timbul pertanyaan, kenapa silsilah dari nasab Bunda Fatimah kemudian ‘turunan’ selanjut diambil nasabnya dari anak lelakinya, mengapa tidak anak perempuannya seperti Zainab.

    Dan selanjutnya istilah penggunaan keturunan nabi atau rasul dlm Al Quran tidak dikenal, lihat:

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada
    mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis (QS. 19:58).

    Dlm Al Quran hanya disebut nama nabinya bukan ‘nabi’ seperti keturunan Ibrahim, keturunan Ishak, keturunan Nuh, jadi bukan disebut ‘keturunan nabi’ (Ibrahim). Hebatnya, dlm Al Quran tidak disebut sama sekali istilah keturunan Muhammad yang ada hanya Surat Muhammad.

    Mukjizat terbesar pada Nabi Muhammad SAW adalah ‘tidak’ dianugerahinya anak laki-laki sampai dewasa. sekarang ini saja, ada yang ngaku keturunan ahlul bait dari sunni, ee ada pula yang dari syiah dsb. eee sebentar lagi ada pula yang ngaku keturunan ahlul bait dari Wali Songo, lebih parah ngaku keturunan nabi dari garis nasabnya Gus Dur demikian pula para raja di Malaysia pun demikian.

  5. 5
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Ubuntu Linux says:

    Salam, bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad,

    @Elfan, mohon renungkan Qur’an surat Al-Kautsar.

    Ini salah satu asbabunnuzul nya Surat Al-Kautsar diturunkan.
    Semoga kita tidak dalam keadaan ceroboh dalam mempelajari ayat2 Al-Qur’an, dan mohonlah bimbingan dari orang yang Saleh.

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Surat 108 Al-Kautsar .

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    [1] Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

    [2] Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.

    [3] Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

    Surat ini diturunkan berkaitan dengan pernikahan Fatimah Az-Zahra dengan Imam Ali bin Abi Thalib as, dan juga sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Yang dimaksud dengan “Nikmat yang banyak” adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui Fatimah Az-Zahra dengan Imam Ali bin Abi Thalib as, yang keturunan itu menjadi para Imam yang memberi petunjuk dengan perkara Allah kepada ketaatan dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud dengan “Orang yang membencimu dialah yang terputus” adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan. Makna ini dapat anda baca dalam kitab-kitab berikut:

    1. Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, halaman 504.

    2. Tafsir Gharaibul Qur’an (catatan pinggir) Majma’ul Bayan, jilid 30, halaman 175

    3. Tafsir Majma’ul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, halaman 206, cet. Darul Fikr, Beirut

    4. Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah

    5. Al-Manaqib, oleh Syahraasyub, jilid 3, halaman 127

    Menurut KH. Quraish Shihab seorang ulama besar ahli tafsir terkemuka Indonesia, dalam bukunya yang berjudul “Tafsir AlQuran — Tafsir atas Surat2 Pendek Berdasarkan Urutan Wahyu” terbitan Pustaka Hidayah. Surat Al-Kautsar ini diturunkan di Mekkah dan merupakan surat ke-14 dalam turunnya wahyu serta surat ke-108 dalam urutan mushaf. “Al-Kautsar” menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan “Katsir” yang berarti “banyak”. Jadi Al-Kautsar berarti sesuatu nikmat yang banyak.

    KH. Quraish Shihab mengemukakan bahwa Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan “Al-Kautsar” pada surat ini:

    Pendapat 1. Sebagian berpegang pada hadist nabi dari Anas bin Malik (Muslim dan Ahmad) yang menceritakan “Al-Kautsar” sebagai sebuah nama telaga yang ada di surga yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi SAW.

    Pendapat 2. Sebagian lagi berpegang sejarah pada hadist lainnya mengenai ejekan “Abtar” yang berarti “terputus keturunan”. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulullah SAW.

    Tafsir ini dikutip oleh Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur serta pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusy, Al-Qasimy,Al-Jamal, Abu Hayyan dll. Serta juga oleh Muhammad Abduh dan Thabathabai.

    Pendapat ini juga merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh ulama tafsir. Menurut KH.Quraish Shihab, hadist dari Anas bin Malik (Muslim dan Ahmad) tentang Al-Kautsar ini, ditolak oleh Muhammad Abduh sebagai penjelasan terhadap surat Al-Kautsar.

    Pendapat 3. Sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya yaitu nikmat Allah yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Salah satunya berupa keturunan yang banyak serta telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.

    Saya hanya akan mengutipkan detail pendapat bahwa Al-Kautsar sebagai Allah memberikan nikmat kepada Nabi SAW berupa keturunan yang sangat banyak. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa “Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima ini maka itu berarti AlQuran telah menggaris bawahi sejak dini tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhammad SAW, dan bakal banyak dan tersebarnya mereka itu”.

    Dikisahkan dalam sejarah, bahwa setelah putera nabi yang terakhir meninggal sebelum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi serta Khadijah dalam usia yang telah cukup tua dan Khadijah sedang mengandung. Semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra) maka orang-orang Quraish bersorak dan mengatakan bahwa Muhammad “Abtar”. “Abtar” adalah ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.

    Allah kemudian menurunkan wahyu kepada Muhammad SAW berupa surat Al-Kautsar ini bahwa Allah sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran Fatimah tersebut. Bahwa Rasulullah SAW tidaklah “Abtar” bahkan dari rahim Fatimah akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya Rasulullah diperintahkan untuk bersholat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya). Dan pada ayat ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulullah yang mengejek itulah yang kemudian diejek oleh Al-Quran sebagai “Abtar”.

    Surat ini dimulai dengan kata “Inna” yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita yang besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. KH. Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata “kepadamu” menunjukkan bahwa anugerah Allah tsb (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad SAW yang dikasihi-Nya.

    Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dhurriyah Rasulullah SAW memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya bahwa Alquran menganggap Isa AS sebagai dhurriyah Ibrahim meskipun lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim) dalam Al-An’am 84-85. Juga banyak hadist yang mengutarakan bahwa Rasulullah memanggil Hasan-Husein sebagai “anakku”.

    Sejarah kemudian membuktikan bahwa dari rahim Fatimah kemudian Rasulullah memperoleh 2 orang putera yang sangat dicintai beliau yaitu Hasan dan Husein. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Husein yaitu Ali Awsath yang bergelar “Zainal Abidin” atau “Assajad” (ahli sujud) kemudian meneruskan keturunan Nabi SAW. Demikian juga keturunan dari Hasan. Husein sendiri tercatat memiliki 6 anak lelaki, dan hanya 1 yang selamat setelah Karbala. Sedangkan Hasan bin Ali memiliki 11 anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini. –Alhamdulillah– ada banyak sekali dhurriyah (keturunan) Nabi SAW dari Fatimah terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut KH. Quraish Shihab, dhurriyah (keturunan) Nabi SAW ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya.

    Wallahua’lam Bishshowab.

    ===
    TAMBAHAN:
    Sekali lagi saya tekankan disini, KETURUNAN NASAB dan AHLUL BAIT adalah beda, yang dimaksud AHLUL BAIT adalah hanya 14 manusia suci, sedangkan NASAB (turunan) Nabi Muhammad secara darah itu yang melalui Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah.

    Jadi KETURUNAN Rasululloh atau KETURUNAN Sayyidah Fathimah atau KETURUNAN Sayyidina Ali itu tidak semuanya termasuk AHLUL BAIT, yang AHLUL BAIT hanya 14 manusia suci.
    (http://www.nurmadinah.com/category/sejarah/seri-manusia-suci/)

  6. 6
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Benarkah Habib itu keturunan Nabi SAW? Masih Diragukan !
    Sabtu, 5 Nov 2011 01:53 WIB

    CHICAGO,RIMANEWS- Cendekiawan Muslim dari Paramadina, A.Mun’im Sirry MA, kandidat PhD di University of Chicago, AS mempertanyakan bahwa Apakah mereka yang mengaku sayyid atau habib itu betul-betul keturuan Baginda Nabi?

    Menurutnya, Dalam studi yg dilakukan sejumlah ahli genetika, sebagian besar orang yang mengaku ngaku sayyid itu sebenarnya bukan keturunan Nabi. M.R. Rafiee, A. Sokhansanj, Naghizadeh dan Farazmand melakukan uji DNA di Iran sementara Elise Belle, Saima Shah, Tudor Parfitt dan Mark Thomas di India-Pakistan.

    Hasil penelitian mereka sama: Mereka yang mengaku sayyid atau habib itu bukan keturunan Nabi. Lho, kalau di Iran dan India-Subcontinent saja tidak benar, bagaimana dgn orang-orang mengaku sayyid dan habib di Indonesia? Jelasnya, sayyid dan habib itu adalah konstruk sosial utk tujuan kehormatan dan legitimasi.

    Dalam kesempatan lain, Munim Sirry menyingkapkan bahwa banyak ulama dan intelektual Muslim mengagumi reformasi dalam Kristen, hingga ada yang menyebut mereka itu “Muslim Luther.” Tapi, kekaguman Muhammad ‘Abduh terhadap reformasi Kristen melebihi ulama-ulama lain. ‘Abduh dgn sangat gamblang menuturkan kekagumannya dalam Risala al-tawhid-nya yang sudah menjadi klasik itu. Beliau mengatakan, misalnya, bahwa Kristen-nya para reformer itu sudah sangat dekat dgn Islam.

    Bahkan, katanya dalam facebook lebih lanjut, agama mereka itu tdk ada bedanya dgn agama yang dibawa Nabi Muhammad kecuali beda nama. Termasuk dalam hal ibadah, kata ‘Abduh, hanya beda dalam bentuk, bukan substansi. Saya tdk tahu, apakah ada ulama yang membuat pengakuan lebih gamblang dan tegas dari mufti besar ini, bahkan dari aktivis-aktivis lintas agama sekarang.

    http://rimanews.com/read/20111105/45824/benarkah-habib-itu-keturunan-nabi-saw-masih-diragukan

  7. 7
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    @nurmadinah

    untuk selanjutnya dapat juga dibaca web sbb:

    http://rimanews.com/read/20111105/45824/benarkah-habib-itu-keturunan-nabi-saw-masih-diragukan

    wassalam

  8. 8
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Ubuntu Linux says:

    @elfan,

    Terimakasih atas masukan nya.
    Anda benar, jika ada yang mengaku-ngaku keturunan nabi, maka itu berarti belum tentu kebenarannya, bisa benar bisa juga tidak, karena semua orang bisa mengaku.

    Perlu diperhatikan bahwa rata-rata urusan nasab ini di adat Arab sangat kuat, dari turun temurun selalu menjaga nama keluarga atau pohon keluarga.

    Mereka benar-benar serius dalam urusan nasab, menghafal dan mencatat dalam kitab-kitab, jadi kemungkinan nya sangat besar bahwa turunan nya masih eksis dan jelas urutan nya, dan juga dikonfirmasi lagi dengan kejadian-kejadian peninggalan sejarah berupa artefak, masjid, makam, dan lain-lain.

    Selain itu ada pula pendeteksian masalah keturunan ini dengan pengecekan kepada orang saleh tertentu yang dekat dengan Allah, yang memiliki kelebihan penglihatan hati.

    Sekali lagi saya tekankan disini, jika surat Alkautsar dihapus dari Alqur’an, maka kemungkinan bisa putus dan tidak ada lagi turunan dari Nabi di muka bumi ini.

    Wassalam

  9. 9
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Ubuntu Linux says:

    @elfan,

    Untuk menanggapi link saudara, saya rasa itu mengenai masalah tahta AHLUL BAIT atau risalah kepemimpinan, sedangkan di website kami jelas tidak menyebutkan bahwa tahta nya sampai sekarang, yang ada adalah AHLUL BAIT ada yang menyebut 5 dan ada yg menyebut 14, yang 5 adalah Ahlul Kisa (Nabi Muhammad, Imam Ali, Sayyidah Fathimah Azzahra, Imam Hasan, Imam Husein), dan yang 14 adalah manusia suci (Nabi Muhammad saw, Fathimah as, dan ditambah dua belas Imam) yang ada di artikel website kami, yaitu http://www.nurmadinah.com/category/sejarah/seri-manusia-suci/

    Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimpin dari kalian” aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu?

    Beliau bersabda: ”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [Muntakhabul Atsar, halaman 101.]

    Jadi AHLUL BAIT yang mendapat risalah membawa agama hanya berjumlah maksimal 14 manusia suci, selain dari itu hanya turunan zuriyat nasab saja atau bahasa kasarannya adalah turunan darah atau hanya turunan secara genetik saja, bukan turunan yang mendapat risalah membawa agama.

    Wassalam

  10. 10
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Kalau anda masih berpendapat ‘ada’ keturunan Ahlul Bait, maka timbul pertanyaan berikutnya:
    1. Keturunan Ahlul bait dari manalah yang anda pilih dan yakini, apakah dari keturunan?
    a. Sunni
    b. Syiah
    c. Hasyim
    d. Ahmadiyah dll.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    2. Selanjutnya dikabarkan bahwa dari keturunan Ahlul bait tersebut akan lahir Imam Mahdi maka mana pula yang anda pilih dan yakini bahwa apakah dari:
    a. Imam Mahdi kelompok Sunni dan Hasum masih akan lahir;
    b. Imam Mahdi Syiah sudah lahir tapi kini menghilang dulu, nanti dia datang kembali.
    c. Imam Mahdi Ahmadiyah sudah datang dan sudah wafat yakni Mirza Ghulam Ahmad

    3. Rasanya ya gara-gara kita ‘nungguin’ sang tokoh Imam Mahdi, maka kaum Muslim di dunia terlena dng ketidakpastian!
    Yang sudah pasti, sudah ada Al Quran dan sudah hadir Nabi Muhammad SAW sebagai ‘nabi penutup’ adalah mukjizat terakhir dari Allah SWT kepada umat manusia.

    Jadi, jangan ditunggu lagi Nabi Isa As akan datang karena misinya sudah selesai (QS. 2:134 dan 141; 21:34-35) dan begitu juga sang Imam Mahdi tidak akan lahir, muncul atau hidup kembali walaupun semua sekte dalam kaum Muslim ada yang meyakini atau ditambah pula dari berbagai agama yang non-Islam juga menanti kedatangan sang Imam Mahdi atau semacam itu.
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/13/m5jvrf-inilah-figur-imam-mahdi-yang-dinanti

    Dan, inilah pula penyebab perebutan ‘sang pemimpin’ Imam Mahdi sehingga semua agama mengakui akan datang sang tokoh ini. Pada Kitab Suci umat Islam sama sekali tidak menyebut akan datang lagi IMAM MAHDI dan apalagi akan datang kembali Nabi Isa As. Sang Mesiah itu sudah ditutup dengan pernyataan Tuhan, Allah SWT sendiri (QS. 33:40).
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/13/m5jsoj-imam-mahdi-sosok-yang-diyakini-tiga-agama-besar

    Imam Mahdi: Sosok yang Diyakini Tiga Agama Besar | Republika Online
    http://www.republika.co.id

  11. 11
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Ada tiga masalah besar dlm lingkup dunia Muslim yakni:
    1. perebutan warisan tahta ‘keturunan’ nabi, rasul atau ahli bait;
    2. perebutan untuk menjadi sang tokohnya, ‘Imam Mahdi’, dan
    3. perebutan dan penguasaan pengelolaan Masjidil Haram. Dua kelompok besar yang bertarung ini adalah kelompok Sunni dengan kelompok Syiahnya. Lalu, bagaimana pula dengan kelompok Bani Hasyim dan atau kelompok Saudinya?

    Titik temu atas ketiga masalah tersebut a.l:

    1. mencoba mencari ketegasan dan kejelasan masalah Ahlul Bait itu sendiri, apakah ada pewaris tahta ‘keturunan’ Ahlul Bait? jawaban saya Ahlul Bait yang terakhir dari Saidina Muhammad SAW hanya tinggal Bunda Fatimah, setelah itu tidak ada lagi pewaris tahta ‘keturunan’ Ahlul Baitnya lagi. Yang ada, saat ini hanya keturunan Saidina Ali dengan Bunda Fatimah.

    2. Imam Mahdi yang dianggap penerus ajaran Nabi Muhammad SAW tidak mungkin ada dua versi atau lebih versi yang berbeda, versi yang menganggap Imam Mahdi sudah ada, tapi disumputi atau dighaibi, versi lain masih menunggu kelahiran Imam Mahdi atau Imam Mahdinya sudah lahir dan meninggal seperti versi Ahmadiyah. Dari ketiga versi ini, rasanya sama-sama tidak tepat karena sama-sama sudah ditutup atau misi pamungkas dengan adanya misi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi (QS. 33:40).

    3. Masalah ketiga, ya karena Masjidil Haram ada di Arab Saudi ya mereka penguasa di sana pula yang wajib mengelola dan mengawasinya yakni dinasti kerajaan Arab Saudi. Mungkin ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan peran hajinya seperti perlu dikaji kembali apakah hanya sekedar untuk pelaksanaan ritual ibadah atau apakah ada kegiatan lain yang punya dampak sosial politik bagi dunia khususnya kaum Muslim?.

  12. 12
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Salam, bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad,

    @Elfan yang saya hormati.
    Dari persoalan2 tiga macam tsbt. Saya coba berpendapat.

    1. Sudah ada jawabannya dari lisan Nabi Muhammad SAW, melalui Qur’an dan hadits, sudah banyak jabaran pada kitab2 diatas.

    2. Benar, Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi, kita mesti mengikuti sami’na wa atho’na kepada Nabi Besar Muhammad SAW, karena dia adalah penutup Nabi, dan salah satu perintah dari Nabi Muhammad SAW adalah mengikuti Imam Mahdi, karena Imam Mahdi tdk akan menegakkan agama/ajaran baru, melainkan hanya menegakkan ajaran Nabi Muhammad SAW, sama seperti yg dilakukan oleh Imam Ali, mereka para penerus tdk pernah melakukan hal prinsip yg diluar dr pelajaran2 Kakeknya (yaitu Nabi Muhammad SAW.).

    3. Masalah ini sangat pelik thdp politik, akan tetapi Allah sendiri yang menjaga, mudah2an tdk lama lagi kerajaan Arab Saudi bertaubat dan tdk mengubah tempat2 suci menjadi pasar2 zionis, amiin. Allah Maha Mengetahui segalanya.

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.