Rosul bersabda: Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)

Tata Cara Shalat

Fiqih, Shalat | | March 24, 2010 at 21:15

Tata Cara Shalat

Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

Setelah itu, ruku’lah dan baca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

Kemudian bangunlah dari ruku’ sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allōhu liman hamidah)

Setelah itu, sujudlah dan baca:

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih)

Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas.

Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:

بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

(Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

(Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.

Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.

Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

(Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.

Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).

Catatan!

Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan.

Praktek Sholat dalam bentuk Video:

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,
Perhatian
Komentar adalah tanggung jawab penulis komentar, sehingga dimohon agar isi komentar yang objektif dan berakal. Komentar atau link website yang penuh diiringi dengan KEBENCIAN dan EMOSI belaka hukumnya haram pada website ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Terimakasih.

56 Comments

  1. 1
    Ali A Akbar Indonesia Google Chrome Windows says:

    apa maksudnya ini?
    “Catatan!
    Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan.”

  2. 2
    Al-Husayni Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    maksudnya bacaan Surat Fatehah, dhuhur, ashar dan isya dengan jumlah rakaat 4, bacaan surat al-Fathehah pada rokaat ke 3 dan ke 4 bisa digantikan dengan “Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar”.

    Namun, pada Shalat Maghrib dan Shubuh wajib untuk membaca surat Alfathehah pada tiap rokaaat nya.

  3. 3
    Zulyantara Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Bisa anda jelaskan hadits2 yang shahih untuk hal ini ? saya tidak mendapatkan hadits2 yang menjelaskan cara sholat di atas, tetapi hanya pemberitahuan dari satu pihak, saya rasa semua orang setuju untuk mengatakan sesuatu itu benar harus ada tolak ukur kebenarannya, jadi menurut saya harusnya menampilkan juga tolak ukur cara sholat yang sudah ditulis di atas

  4. 4
    HamBa ALLAH Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Mas… Pak.. Om..
    Ngaji aja yang rajin, pelajarin Qur’an dan Hadits-Hadits Sohih.
    kalo udah pinter baru Ngeblog.
    masih GOBLOG ko NGE0-BLOG

  5. 5
    Al-Husayni Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Meluruskan (Membuka) Tangan Dalam Shalat

    Imam Ahmad mencatat :

    حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن مسيب بن رافع عن تميم بن طرفة عن جابر بن سمرة قال : خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال ما لي أراكم رافعي أيديكم كأنها أذناب خيل شمس أسكنوا في الصلاة

    Jabir bin Samara berkata :

    “Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata “Kenapa kau melipat tanganmu seperti tali kuda, kau harus menurunkannya dalam shalat” (musnad Ahmad bin Hanbal Juz.5 hal.93) Klik Musnad Ahmad bin Hanbal online

    Syaikh Shaib Al Aranut menyatakan tentang riwayat diatas:

    “Sanadnya shahih menurut Muslim”

    Imam Syaukani mencatat dalam Nail al-Awthar, juz. 2 hal. 200:

    “Mereka yang tidak melipat tangan (dalam shalat) bersandar pada riwayat Jabir bin Samara ; ‘mengapa kau lipat tanganmu’“

    Bahkan Syaukani dalam Nayl al-Awthar, juz 2 hal.67 mengatakan bahwa Ahlul Bait Rasulullah saww shalat dengan meluruskan tangan.

    Dalam Sahih Bukhari juz. 1 No.hadis 507:

    Anas berkata : “Aku tidak melihat (sat ini) sesautu yang mereka lakukan pada masaRasulullah. Seorang berkata padanya : “ Shalat.” . Anas berkata :”Sudahkah anda lakukan sesutu yg telah anda lakukan dalam shalat?” (maksudnya apakah tidak ada yang trtinggal)

    Diriwayatkan oleh Az Zuhri bahwa ia mengunjungi Anas Bin Malik di Damaskus dan melihatnya sedang menangis, dan ditanyakan kepadnya alasan mengapa ia menagis. Ia menjawab : Aku tak melihat dengan yang telah aku ketahui dimasa hidup Rasulullah kecuali shalat, ada sesuatu yang hilang (tidak dilakukan dengan seharusnya sebagaimana di masa Rasulullah saww)

    Diriwayatkan oleh Imran bin Husain :

    “Aku shalat bersama Ali di Basrah dan ia mengingatkan kami pada shalat yang kami lakukan bersama Rasulullah. Ali mengucapkan Takbir pada setiap bangkit dan rukuk.”

    (Sahih Bukhari, Juz 1, Kitab12, No hadis. 751)

    Dari riwayat Imran bin Husain diatas, sangat jelas bahwa shalat Imam Ali (as) adalah sebagaimana shalat Rasulullah (saww).

    Andaikan pada masa setelah wafat Rasulullah (saww) semua orang merujuk kepada Ahlul Bait (as), mungkin tidak akan ada perbedaan dalam hal ini.

    Dalam Tanwir al Aynain hal 58 :

    Ibn Sirin ditanya mengapa kita meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat, ia berkata ini adalah perbuatan orang Roma”

    (ada juga dalam Al-Awail hal. 209 oleh Allamah Askari, bab. Islami Namaz)

    Dengan Jelas Riwayat Membuktikan Bahwa Nabi Saww Shalat Dengan Tangan Terbuka (Meluruskan Tangan)

    Ibn Hajar Asqalani mencatat dalam “Talkhis al-Habir Fi Takhrij Ahadith” Juz.1 hal.333, bab ‘Sifat al Salat’

    “Ma’az meriwayatkan bahwa ketika nabi SAW mendirikan Shalat, ia mengangkat kedua tangan hingga telinganya, dan setelah mengucap takbir kemudian menurunkan tangannya”

    Dalam Hidayah, Juz.1, Hal. 104, bab.20:

    “Bukti Imam Malik membiarkan tangannya turun, sebagai fakta bahwa Nabi memulai shalatnya dengan mengangkat tangan untuk Takbir dan kemudian menurunkannya”.

    Dalam Nayl al-Awthar, Juz 2. :

    “Diriwayatkan oleh Ibn Munzar dari Ibn Alzubair, Al-Hasan Al Basri dan Al-Nakh’ey bahwa ia (Nabi) shalat dengan tangan terbuka dan tidak melipat tangan kanan pada tangan kiri, dikutip oleh Al Nawawi dari Al Laith bin Sa’edd dan dikutip oleh Al-Mahdi dalam Al-Bahr dari Al-Qasimiyya, Al-Nasiriyya dan Al-Baqar”

    Nayl al Awthar, online

    Lebih lanjut dalam buku yang sama disebutkan :

    “Nabi mengajarkan Al-Mansyur shalat dan tidak menyinggung melipatkan tangan kanan pada tangan kiri”

    Dalam Fataawa Syaikh Abdul Hai Lucknawi, Juz. 1, hal. 326, edisi pertama), Abdul Hai Lucknawi menegaskan:

    “Ma’az berkata bahwa ketika Nabi SAW berdiri untuk melaksanakan shalat, ia mengangkat tangan hingga telinganya sambil mengucapkan “Takbir” dan kemudian ia membiarkan tangannya terbuka.”

    Dalam Umadatul Qari Syarh Sahih Bukhari, Juz. 9 hal 20:

    Ibn al-Manzar meriwayatkan bahwa Abdullah Ibn Zubair dan al-Hassan al-Basri dan Ibn Sirin bahwa ia (Nabi) melaksanakana shalat dengan tangannya terbuka dan begitu juga Malik”.

    Ulama Ahlul Hadist terkenal yakni Allamah Wahid-uz-Zaman Khan menulis:

    “Siapapun yang mengatakan bahwa shalat dengan tangan terbuka adalah kebiasaan terkait dengan Syiah, dalam hal ini orang tersebut telah salah, karena tidak hanya Syiah tetapi juga seluruh umat muslim melakukan shalat dengan cara yang sama, khususnya selama masa Rasul SAW, para sahabat melakukan cara yang sama dan tidak seorang pun tahu tentang melipatkan tangan.”

    Hadiyatul Mahdi, oleh Maulana Wahid uz Zaman, Juz. 1, hal.126

    Abdullah bin Zubair Melaksanakan Shalat Dengan Tangan Terbuka

    Imam Ibn Abhi Syaibah mencatat dalam Al-Mushaf nya , Juz. 1 hal 344:

    Amr bin Dinar berkata ; ‘Abdullah Ibn Zubair melaksanakan shalat tanpa melipat tangannya’

    Para Imam Ahlu Sunnah Said Ibn Jubair Dan Ibn Masayyid Juga Shalat Dengan Tangan Terbuka

    Allamah Ibn Abdul Barr mencatat riwayat berikut dalam bukunya ‘Al Tamhid’:

    “Abdullah ibn al-Izar berkata;

    ”Saya melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dengan Said Ibn al Jubair. Suatu saat, ia melihat seorang laki-laki menempatkan satu tangan di atas tangan yang lain, kemudian ia menghampirinya, dipisahkan tangannya, dan kembali lagi pada ku”

    Setiap orang menyadari posisi mulia Said bin Jubayr di antara para ulama awal Islam. Menurut Ibn Kathir, Said bin Jubair adalah murid Ibn Abbas [ra] dan Imam berbagai studi Tafsir dan Fiqih. [Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Vol 9 hal 177 ‘Peristiwa Th. 94 H’.].

    Ibn Hajar Asqalani menuliskan tentang Said bin Jubair :

    “….Ia meriwayatkan hadits dari Ibn Abbas, Ibn Al-Zubair, Ibn Umar, Ibn Maqal, Uday Ibn Hatem, Abi Masood Al-Anasy, Abi Said Al-Khudri, Abu Huraira, Abu Musa Al-Asya’ari, Al-Dahak Ibn Qais Al-Fihri, Anas, Amr Ibn Maymun, Abi Abdulrahman Al-Sulami dan Aisyah….. Ibn Abi Mughira berkata bahwa ketika orang-orang Kufah mendatangi Abbas untuk menanyakan Fatwa, ia berkata kepada mereka: “bukankah Said Ibn Jubayr berada di antara kalian? … Amru Ibn Maimun mengatakan bahwa ayahnya berkata : “Said Ibn Jubair telah meninggal tetapi belum ada orang yang menggapai pengetahuan darinyi”……Abu Al-Qasim Al-Tabari berkata : “Dia adalah Imam dan Hujah yang dapat diandalkan Muslim”….Ibn Haban berkata bahwa Saeed adalah ahli hukum, pecinta shalat, benar dan saleh.”

    (Tahzib Al-Tahzib, Juz 4 No. 14)

    Disini akan disinggung bagaimana posisi tangan Said bin al Mussayyib selama melaksanakan shalat. Namun bagi yang tahu sedikit tentang orang terkenal ini, kami menyajikan text yang dicatat oleh Ibn Kathir dalam kitabnya:

    “Dia mendengar hadis dari Umar Faruq, Usman, Ali, Said and Abu Hurairah… Zuhri berkata :“Saya hidup bersamanya selama tujuh tahun dan saya tidak melihat orang lain yang lebih berpengetahuan dari pada dia”. Makhool berkata: “Saya pergi ke seluruh penjuru dunia dalam mengejar pengetahuan tetapi tidak ku temukan orang yang lebih berpengetahuan daripada Saeed”. Auzai berkata bahwa ada seseorang bertanya kepada Zuhri dan Makhul mengenai ahli hukum yang paling berwibawa di mata mereka, keduanya sepakat berkata ‘Said bin al Mussayyid’. Orang-orang memanggilnya “Faqih al Fuqaha”…Rabi telah menyatakan dengan merujuk kepada Imam Syafi’i bahwa bahkan sebuah hadis mursal dari Said bin al Musayyid adalah setara dengan hadis Hasan dan itu setara dengan hadis shahih dalam pandangan Imam Ahmad. Juga telah diungkapkan bahwa Said bin al Mussayyid lebih unggul dari semua Tabi’in… Abu Zarya berkata: “Dia adalah Madani dan Thiqa Imam”. Abu Hatim berkata : tidak ada di antara Tabi’in yang unik dan lebih hebat darinya”

    Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Juz.9 Hal. 179-180 ‘Peristiwa 94 H’. (Nafees Book Academy Karachi)

  6. 6
    rashalati Indonesia Safari Mac OS says:

    mau tanya kalo tata cara sholat sunnah apakah sama dngn tata cara sholat wajib (menurut 12 imam)?misal:sholat qiyyamul layl. syukron

  7. 7

    @rashalati,
    terimakasih atas komentarnya.
    tidak ada perbedaan tata cara shalat berikut bacaannya antara shalat sunnah ataupun shalat wajib. perbedaan hanya ada pada niat saja.
    kecuali pada shalat2 idul fitri, shalat idul adha, shalat jenazah.

    Best Regard,
    Admin

  8. 8
    surya kusuma Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    saya ingin minta do’a qunut yang sering dibaca di mazhab imamah,,saya baru belajar tentang mazhab ja’fari,,menurut saya inilah tuntunan yg asli dari rasulullah saaw,, tolong kirim ke message facebook saya aja,,jangan ke e-mail.. hatur nuhun..

  9. 9

    Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:
    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
    (Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

  10. 10
    Fugan Tarban Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Alhamdulillah…. informasi semakin memperkaya bahan untuk membimbing pengetahuan dan fiqih ibadah keluarga kami…. اَللّـهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد وعجل فرجهم

  11. 11
    Demit Kecil Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Minta haditsnya dari 12 Imam untuk bacaan ini …
    Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud

    dan artinya …
    Syukron

  12. 12
    abu ridho Indonesia Mozilla Firefox Linux says:

    Assalamualaikum, terima kasih ilmu yg bermanfaat, mudah2an menambah keyakinan saya terhadap ajaran Rasulullah SAW yang sebenar benarnya..

  13. 13
    Ramdhan Romdhon Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad… Teruskan, sampaikan kebenaran dari para pewaris Nabi kita yang suci (Ahlulbayt ‘alayhimus salaam), wahai Saudaraku… Sampaikanlah dengan tetap bersikap santun… itulah yang selalu diajarkan RasulullaaH dan para Ahlulbayt-nya yang suci… Semoga ridha AllaaH selalu bersamamu, Saudaraku… Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad…

  14. 14
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Kalau kita lihat silsilah Saidina Muhammad SAW, maka jelas ada benang merah ttg nasab tsb. Hasyim, ayah dari Abdul Muthalib, kakek dari Saidina Muhammad SAW. Abdul Muthalib adalah anak tunggal krn. orang tuanya, Hasyim meninggal sebelum Abdul Muthalib lahir.Tapi, anak Abdul Muthalib banyak, yang bungsu Abdullah, orang tua Saidina Muhammad SAW, juga wafat sebelum Saidina Muhammad SAW lahir. Berarti, Saidina Muhammad SAW anak tunggal juga.

    Lalu, anak lelaki Saidina Muhammad SAW dengan Bunda Khadijah, baik Ibrahim maupun Abdullah, lahir keduanya juga tidak hidup lama krn meninggal sebelum dewasa. Karena itu, wajarlah pihak kelompok musuh dari Nabi Muhammad SAW slalu mencela akan putusnya nasab beliau krn tidak ada anak laki-lakinya yang sebagai penerus nasabnya. Bayangkanlah, jika ada anak lelaki beliau sempat dewasa dan mempunyai keturunan, entah bagaimana para penerus dinasti Saidina Muhammad SAW dimata pandangan umat, pastilah selalu disanjung-sanjung.

    Inilah mukjizat Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, nasab beliau diputuskan supaya tidsak ada yang mengklaim ‘mereka’ adalah keturunan dari Saidina Muhammad SAW, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘keturunan nabi atau keturunan rasul’. Jadi jika merujuk pada QS. 33:4-5 jelas bahwa nasab itu hanya diambil dari pihak laki-laki bukan perempuan.

    Apabila dikaitkan dengan kajian kita tentang ahlul bait, dengan beberapa surat dan ayat-ayat Al Quran, otomatis mahkota ‘ahlul bait’ dari keluarga Saidina Muhammad SAW itu terputus sampai Bunda Fatimah saja. Artinya anak-anak dari Saidina Ali bin Abi Thalib, otomatis hanya bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib sehingga tidak mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Apa hikmahnya semua skenario Allah SWT di atas, baik kelompok Syiah maupun habaib yang sama-sama mengaku keturunan ‘ahlul bait’ tidak perlu bertengkar lagi karena mahkota ‘ahlul bait’ yang diperebutkannya itu memang ‘sudah’ tak ada lagi.

    Oleh karena itu, wahai umat Islam, wahai umat Muhammad SAW, tak perlu memperebutkan dinasti ‘keturunan’-nya, karena di sinilah letak keadilan Allah SWT Yang Maha Adil, besok dihadapan Allah SWT kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, tak ada pilih kasih, ooo itu keturunan ini, oo itu keturunan itu dsb

  15. 15

    Elfan @ perbanyaklah Istigfar dan belajar agar bisa memahami ayat alquran …. dan belajar pake guru jangan otodidak…

  16. 16
    xenatore Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    terima kasih akhi

  17. 17
    xenatore Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    moon pencerahan pada saat perubaan posisi berdiri ke ruku dsb apakah melakukan takbir?

  18. 18

    Xenatore : semua perubahan posisi sholat menggunakan takbir kecuali setelah ruku dan setelah akhir sholat atau dengan membaca salam

  19. 19
    Xenatore Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    terima kasih

  20. 20
    salwa United States Opera Mini Unknow Os says:

    aslmkm..apa hukumnya sujud d atas tanah???wjb at sunah???

  21. 21

    Salam salwa , berikut saya berikan sedikit penjelasan sujud diatas tanah … dan saya ajak anda tuk menyimpulkan ….

    Sujud secara bahasa berarti al-khudû’, yakni tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan sujud dalam shalat bermakna meletakkan dahi di atas tanah. Inilah wujud peribadatan dan “penghinaan” seorang makhluk di hadapan Khalik. Sampai-sampai disebutkan dalam riwayat, “Keadaan paling dekat antara seorang hamba kepada Allah adalah ketika sujud.”

    Karenanya menurut saya, shalat sejatinya bukanlah bacaan surah pendek yang lama (apalagi dilama-lamakan), tapi justru sujud yang lama. Kepala atau dahi dilambangkan sebagai bagian yang dimuliakan. Padahal hakikatnya manusia hanya diciptakan dari tanah (turâb, ardh) bahkan tanah hitam. Kesombongan manusia itu dihancurkan dengan menaruh lambang kemuliaan (dahi) ke tempat aslinya (tanah) di hadapan Sang Pencipta.

    Sujud dalam Fikih dan Sejarah

    Dalam fikih Syiah Ahlul Bait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para imam Ahlul Bait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Jakfar tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.”

    Orang itu bertanya apa sebabnya, kemudian Imam menjawab, “Sujud merupakan ketundukan kepada Allah, maka tidaklah layak dilakukan di atas apa yang boleh dimakan dan dipakai, karena anak-anak dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan mereka pakai, sedangkan sujud adalah dalam rangka beribadah kepada Allah…” Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad dalam Shahîh Al-Bukhârî:

    جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً

    “Dijadikannya tanah bagiku sebagai tempat sujud dan suci.” Artinya tanah bukan saja mensucikan untuk bertayamum tapi juga sebagai tempat sujud. Dalam segala kondisi Nabi selalu sujud di atas tanah. Pernah ketika terjadi hujan di bulan Ramadan, masjid Nabi yang beratapkan pelepah kurma menjadi becek. Abu Said Al-Khudri dalam riwayat Bukhari berkata, “Aku melihat Rasulullah dikening dan hidungnya terdapat bekas lumpur.”

    Dalam kondisi panas, beberapa sahabat seperti Jabir bin Abdullah Al-Anshari biasanya akan menggenggam dan membolak-balikkan kerikil agar dingin sebelum digunakan untuk sujud. Sedangkan beberapa sahabat yang lain mengadu kepada Nabi, tapi tidak ditanggapi.

    عن خباب بن الأرت قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شده الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

    Khabab bin Al-Arat berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud), tapi beliau tidak menanggapi pengaduan kami.” (HR. Al-Baihaqi) Tapi ada juga sahabat yang mencari-cari kesempatan untuk sujud di atas kain, tapi ketahuan Rasul, sebagaimana juga diriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqî:

    عن عياض بن عبد الله القرشي قال رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يسجد على كور عمامته فأوما بيده ارفع عمامتك وأومأ إلى جبهته

    Iyad bin Abdullah Al-Quraisyi berkata, “Rasulullah saw melihat seseorang sujud di atas lilitan serbannya. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk mengangkat serbannya sambil menunjuk pada dahinya.” Mungkin karena riwayat di atas dan banyak riwayat lainnya sehingga Imam Syafii pun mengatakan bahwa seseorang harus sujud di atas tanah:

    وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

    “Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Taala.” (Al-Umm, 1/114)

    Artinya, menurut mazhab Imam Syafii seseorang ketika sujud dahinya harus menyentuh tanah. Tapi apakah orang Syiah protes ketika teman-teman bermazhab Syafii sujud di atas sajadah yang terbuat dari kain bahkan bahan sintetis? Lalu kenapa ada yang protes (bahkan menyebutnya musyrik) ketika orang Syiah sujud di atas tanah padahal itu sesuai dengan fikih mereka yang diajarkan Ahlul Bait?!

    Meski demikian Rasulullah saw. memberikan keringanan untuk sujud di atas setiap benda yang tumbuh di atas tanah, jika memang cuaca sangat panas atau sangat dingin. Terkadang Rasul menggunakan khumrah (semacam tikar kecil) dan terkadang karena uzur/darurat beliau mengizinkan sahabat untuk menarik serbannya. Artinya selama bisa sujud di atas tanah, maka Rasul melarang (seperti dalam riwayat Al-Baihaqi).

  22. 22
    Rosli Mamat Malaysia Google Chrome Windows says:

    Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala aali Muhammad wa ajjil farajahum

  23. 23
    Demit Kecil Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Kok pertanyaan saya belum dijawab?
    Minta haditsnya dari 12 Imam untuk bacaan ini …
    Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud

    dan artinya …
    Syukron

  24. 24
    mencari kebenaran Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    hamba Allah.. msh GOBLOG kok NGeBlog

    berpengetahuan dululah baru ngatain GOBLOG

  25. 25
    Konsultan Indonesia Google Chrome Windows says:

    Kemanakah orang diatas yang pake nama “Hamba ALLAH” yg sudah mencaci maki orang lain?…tidak sepantasnya dia memakai nama “Hamba ALLAH” terus mencaci maki orang lain…udah mencaci maki orang terus kabur begitu aja…dasar pengecut..

  26. 26
    kabayan dewa Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    salam alaikum,mau tanya apakah baca qunut dalam setiap sholat wajib?
    syukron

  27. 27
    alisegaff Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    sy melihat sebagian yg lain ketika ruku n sujud ada tambahan bacaan subhanallah 3x n mebaca shalawat.mohon dijelaskan

  28. 28
    iwan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    salam,NurMadinah jika antum punya video praktek wudhunya boleh jg tuh,afwan wa syukron..nb buat yang komen harap pakai etika, jika berbeda silahkan merujuk ke-sumber-nya masing2( itu jg kalo punya marja) jng berdebat akan hal2 yg bukan wlayahnya,afwan.

  29. 29
    davin Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    asslm.wr.wb ana mau tanya tentang
    Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:
    بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

    (Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

    Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:
    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

    (Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

    Bisa tolong sertakan hadist nya … :) syukraan

  30. 30
    Den Warman Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    asslm.wr.wb ana mau tanya tentang
    Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:
    بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

    (Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

    Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:
    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

    (Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

    Bisa tolong sertakan hadist nya … :) syukraan

  31. 31
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    @Iwan, tata cara wudhu beserta video nya ada disini:
    http://www.nurmadinah.com/2010/03/tata-cara-wudhu/

    @Davin & Den Warman, sementara ini kami blm mengetahui pada kitab mana hadist tsbt, akan kami cari lebih lanjut.

  32. 32
    Ida Rosyida Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    salam… sebelumnya maaf krn sy baru bergabung disini jd agk telat deh.
    saya mw tanya bagaimana posisi kaki bg perempuan saat duduk di antara dua sujud ataupun saat tasyahud awal dan akhir. serta bagaimana posisi tangan saat ruku’. bolehkah kita mengangkat tangan tiap kali takbir. maaf banyak bertanya karena saya baru mengenal ahlul Bait lbh dalam. terima kasih. salam…

  33. 33
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Salam.
    Bihaqi muhammad wa aali muhammad,

    Untuk posisi duduk solat biasa aja.
    Untuk posisi ruku usahakan tangan jangan di tekuk atau rapat di atas paha dan dengan posisi kepala menunduk.
    Dan untuk mengangkat tangan saat takbir boleh tapi gk perlu berlebihan atau sejajar dengan dada .

    maaf sebelumnya ..
    Semoga bermanfaat.
    Ilahi aminnn

  34. 34
    Muhammad Ikram Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Assalamu’alaikum Wa Rohmatullahi wa Barokatuh !

    Allahumma Sholli ala Muhammad wa Aali Muhammad

    Ana mau minta nash-nash yang membolehkan sholat fardhu dilakukan dalam 3 waktu.Dan,adakah pengajian Ahlul Bait di Padang Pariaman Sum-Bar?

    Sebelumnya ana ucapkan syukron atas jawabannya !

  35. 35
    Hendra Setya Senjaya Indonesia Google Chrome Windows says:

    Assalamualikum, ahlan wa sahlan, Saya jadi bingung 100% setelah melihat ratusan bahkan ribuan website yang memuat pendapat-pendapat para alim ulama, saya mau minta tolong kepada anda dengan sangat! kirimkan melalui e-mail saya e-book ataupun apa saja tentang fiqih 4 Madzhab, jangan buku dari jawad mughniyah, karena itu persamaannya, sedangkan saya mau tahu tentang kesamaan dan perbedaanya! terima kasih sebelumnya semoga anda menjadi orang yang dimuliakan alloh SWT. Wassalamualaikum

  36. 36
    NUR.. Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    JANGAN BINGUNG…… INSYA ALLAH JIKA PUNYA NIAT YANG TULUS DAN IKHLAS UNTUK MENCARI KEBENARAN. MAKA ALLAH MAHA PEMBERI PETUNJUK DAN HIDAYAH… YAKINLAH DIANTARA RATUSAN PERBEDAAN ITU PASTI ADA SATU YANG BENAR-BENAR SESUAI DENGAN AJARAN YANG DISAMPAIKAN RASULULLAH… TINGGAL BAGAIMANA KITA LOYAL DALAM PENCARIAN KEBENARAN DAN BENAR-BENAR MENGGUNAKAN AKAL DAN LOGIKA YANG TELAH ALLAH KARUNIAKAN KEPADA KITA UNTUK MENGUKUR KEBENARAN SUATU INFORMASI… SLMT MENCARI…SEMOGA PERTOLONGAN ALLAH SELALUI MENYERTAIMU. AMIN….

  37. 37
    Nur Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    wa’alaikum salam wr…wb… semoga Rahmat Allah sllu trcurahkan kpada orabg2 yang teguh dlm pencarian kbnaran. amin… JWBN UNTUK PRTNYAAN: MUHAMMAD IKRAM.

    untuk masalah ini, bisa ditemukan dlm kitab2 dua perawi ulung yg dipercaya dan sering dipakai oleh kalangan umum: yaitu

    1.Pada shahih Bukhari Juz I hal.71 bab TA’KHIRU DHUHRBILA ASHR dlm kitab Mawaqitus shalat, dari Ibnu Abbas, menyatakan yang artinya: Abu al-Nu’man menceritakan kepda kami, dari A’mar bin Dinar, dari jabir bin Zaid, dari Ibnu Abbas, bahwa nabi SAW shalat dimadinah tujuh dan delapan, Dhuhur & Ashar Magrib dan Isya.

    2. Muslim dalam Shahihnya juz I bab JAWAZ AL-JAM’I baina SHALATAINI FI al-Hadlr, dari Ibnu Abbas, menyatakan, yg artnya:Abu bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menceritakan kpda Kami, Abu Kuraib dan Abu Sa’id al-asyaji menceritakan kpda kami (dngn lafazh Abu Kuraib) keduanya berkata, Waki’ menceritakan kpda kami keduanya dari al-A’masy, dari habib bin Abi Tsabit, dari said bin Jubair, dari ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW menjamak shalat dhuhur & Ashar, Magrib & ‘Isya’ di Madinah dalam kondisi aman,dan tak ada hujan. dlm riwayat Waki’,ia berkata, aku berkata kpda Ibnu Abbas: mngpa Rasulullah mengtkn hal itu? ia menjawab” agar tidak mempersulit umatnya . ” Dalam hadis Abu Mu’awiyah, dikatakan kpda Ibnu ‘Abbas,”apa yg beliau kehendaki dngn mlkukan hal itu? ” ibnu ‘abbas menjawab;” beliau tdk mempersulit amalnya. serta
    3. H.r Muslim lainnya: Juz I (Mesir:Dar Kutub Arabiyah Kubro), h 264-265 no. 1151, kitab SHALAT al-Musafirin wa qashriha dan msh ada yg lain..

    4. Musnad Ahmad, juz I, h. 223, pd Musnad bani Hasyim, hadis No 1852.

    dari hadits tersebut diatas dapat kita simpilkan bahwa sebetulnya Shalat Fardhu di zaman Rasulullah juga dilaksanakan dlm tiga waktu dengan menggabungkan zhuhur dngn Ashar, Magrib dengan Isya atau setelah melaksanakan shalat zuhur atau magrib kita boleh melanjutkan shalat ashar atau isya. serta shalat subuh yang dilaksanakan sebelum terbit fajar. dan dalam hadis itu jg menunjukkan bahwa tidak harus dalam keadaan hujan, genting maupun sejenisnya. dengn dmikian shalat Fardhu ttp dilaksanakan sbnyk 5 kali dlm sehari hanya saja wktu pelaksanaannya bisa dlm 3 waktu. hal ini agar mempermudah umatanya sebagaiman dikatakan Rasulullah dalam Hadits Shahih tersebut diatas. dan pastinya apa2 yang dilaksanakan Rasulullah pasti ada hikmah bagi ummatnya… buktinya saja dizaman sekarang banyak alasan laki2 maupun wanita karir yang dngn gampangnya meningglkan shalat hnya karena alasan pekerjaan yg tdk bisa ditunda saat adzan tiba… Naudzubillahi mindzalik… padahal zuhur dan Ashar bisa dilaksanakan diawal waktu ketika shalat zuhur tiba ataupun sebaliknya sehingga shalat tdk mesti ditingglkan hanya alasan pekerjaan atau kuliah maupun sejenisnya.. Mahasuci Allah dalam Firmannya ” allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 185) dan ” Allah tidak membebani seseorang sesuai dengan kesanggupannya”. (Q.s. Al-Baqarah:286). waulahu’alam bissawab… kebenaran hanya milik Allah dan kesalahn adalah milik Mahluknya… selanjutnya antum dapat merujuk ke Kitab2 hadis yg disbtkan sebelumnya diatas dan bisa memperbanyak referensi bacaan. sy kira ada banyak referensi yg jauh lebih komplit & jelas penjelasannya mengenai pertanyaan antum tersebut diatas…

  38. 38
    angga Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    salam wa rahma

    aku mau tanya tentang tata cara shalat jenazah dan kondisi untuk melakukan shalat tersebut. terima kasih. ^_^

  39. 39
    ferick Indonesia Internet Explorer Windows says:

    salam ‘alaykum,
    utk mas ELFAN, saya mau tanya, apakah nabi Isa as keturunan nabi Ibrahim as..???
    wassalammu’alaykum

  40. 40
    Ramdhan Romdhon Indonesia Google Chrome Windows says:

    Wahai Demit Kecil, mungkin jawaban ini dapat memuaskan Anda mengenai dalil-dalil bi hawlillaahi wa quwwatihi aquumu wa aq’ud yang dijadikan landasan bagi fiqh Ja’fari atau (seharusnya juga) ahlussunnah sebagaimana diuraikan di bawah berikut ini:

    كراهة الاقعاء ومعناه

    استحباب تقديم الركبتين عند القيام معتمدا على كفيه

    و لعله أراد شدة الاستحباب ، فيصح الاجماع ، فانه كثيرا ما يقال للندب ، الوجوب ، و للكراهة التحريم : و هو كثير في كلام المتقدمين ، ثمل الشيخ المفيد ، و الصدوق ، على ما رأينا و غيرهما ، على ما قيل . و دليل استحباب تقديم الركبتين عند القيام ، معتمدا على كفيه ( مع القول المذكور ) ، صحيحة ابي بكر الحضرمي ، قال : قال أبو عبد الله عليه السلام . إذا قمت من الركعتين ( الركعة – خ كا ) فاعتمد على كفيك . و قل بحول الله ( و قوته كا ) أقوم و اقعد : فان عليا كان يفعل ذلك ( 1 ) و غيرها ايضا : و في صحيحة رفاعة قال سمعت ابا عبد الله عليه السلام يقول ، كان على عليه السلام إذا نهض من الركعتين الاولتين : قال بحولك و قوتك أقوم و اقعد ( 2 ) و في صحيحة محمد بن مسلم عن ابي عبد الله عليه السلام قال إذا جلست في الركعتين الاولتين ( اوليين خ ) فتشهدت ثم قمت : فقل بحول الله و قوته أقوم و اقعد ( 3 ) و هذه تدل على استحباب هذا القول بعد القيام من التشهد : و يدل على استحبابه عند مطلق القيام ، كما هو المتبادر من المتن صحيحة عبد الله بن سنان عن ابي عبد الله عليه السلام ، قال إذا قمت من السجود قلت : أللهم ربي بحولك و قوتك أقوم و اقعد : و ان شئت قلت : و اركع و اسجد ، ( 4 ) و صحيحة محمد بن مسلم عن ابي عبد الله عليه السلام قال : إذا قام الرجل من السجود ، قال بحول الله و قوته أقوم و اقعد ( 5 ) : و لعل ما ذهب إلى الوجوب احد ، فحمل على الاستحباب : و لما مر . و اما دليل كراهة الاقعاء : فاخبار مثل صحيحة معاوية بن عمار و ابن مسلم و الحلبي قالوا لا تقع في الصلاة بين السجدتين كإقعاء الكلب ( 6 ) و في الموثق عن ابي بصير عن ابي عبد الله عليه السلام قال : لا تقع بين السجدتين اقعاء ( 7 )
    1 – الوسائل باب 13 من أبواب السجود حديث 5 . ( 5432 ) الوسائل باب 13 من أبواب السجود ، حديث 2134 .
    6 – الوسائل باب 6 من أبواب السجود حديث 2 .
    7 – الوسائل باب 6 من أبواب السجدود حديث 1 .

    Sumber: http://www.tebyan.net/index.aspx?pid=31143&BookID=24290&PageIndex=270&Language=2

  41. 41

    Setelah semua download videonya ternyata ada sedikit perbedaan dari kedua video yang mempraktikan shalat,
    v1: setiap perubahan gerakan shalat membaca takbir DISERTAI dengan mengangkat tangan sampai ke telinga dan menghadap kiblat.
    V2: setaiap perubahan gerakan shalat membaca takbir TANPA mengangkat tangan sampai ke telinga dan menghadap kiblat.
    Pertanyaan:
    1. Video mana manakah yang lebih afdol dan sesuai dengan yang di ajarkan Rosul SAW?
    2. Bacaan (do’a) sebelum shalat fardu apakah sama dengan mazhab sunni?
    3. Pada akhir shalat dilakukan takbir 3 kali dengan mengangkat tangan sampai ke telinga dan menghadap kiblat 3 kali, apakah sudah selesai seperti itu?

  42. 42
    nainawa Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Assalam…
    Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad…
    sy mw nanya nasab seorang ank apakah harus ikut ibu/ayah?
    kebanyakan seorang anak mengikuti nasab ayahnya tetapi cucu rasulullah hasan & husain ikut nasab fatimah az zahro yaitu nasab ibu.
    katakanlah seorang laki2 mempunyai ayah jawa tapi ibu keturunan habaib apakah laki2 trsebut bs dkatakn kturunn habaib sedangkan laki2 trsebut menikh dg gadis jw mempunyai ank pr lalu apakah ank pr itu menjadi keturunn org jw ataukah habaib?
    sukron…
    wassalam..

  43. 43
    Muhammad Ikram Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Syukron terhadap Nur yang telah memberikan jawabannya kepada saya.

  44. 44
    Yoga Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    untuk shalat maghrib, isya, dan subuh
    apakah pd rakaat 1 dan 2 wajib ‘bersuara’ baca surah alfatihah dan surah selanjutnya?.
    dan apakah takbirnya jg wajib ‘bersuara’?.

    atau sunnah hukumnya?

  45. 45
    mining gazali Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    NurMadinah Istna ‘Asyariyyah
    minta izin tuk donwload

  46. 46
    irman s Indonesia Google Chrome Windows says:

    Assalamu’alaikum Wa Rohmatullahi wa Barokatuh
    Allahumma Sholli ala Muhammad wa Aali Muhammad

    saya sangat tertarik dan baru belajar ttg ajaran ahlul bayt
    sungguh hati dan pikiran saya terdorong dan mengatakan ini adalah benar, saya ingin bertanya dapatkah sholat di khodo, kalau dapat sungguh suatu yg sangat menguntungkan artinya kita dapat membayar/menggantikan sholat2 yg pernah kita tinggalkan sengaja maupun tidak, entah sudah berapa banyak, dan bagaimana niatnya serta waktunya ..dan adakah hadist atau apa saja yg mengatakan sholat dpt di khodo, trims Wassalamu’alaikum Wa Rohmatullahi wa Barokatuh.

  47. 47
    nurmadinah Indonesia Mozilla Firefox Ubuntu Linux says:

    Salaam,.. bihaqqi Muhammad wa aali Muhammad.

    @irman s,
    Wa alaikum salaam warahmatullahi wa barakaatuh.
    Allahumma Sholli ala Muhammad wa Aali Muhammad.
    Sholat qodo hukumnya wajib, baik menurut Ajaran Ahlul bayt maupun ajaran Sunni.

    Berikut menurut Ahlul Bayt:
    Shalat qodho hukumnya wajib sebagaimana wajibnya melakukan sholat ada’. Shalat qodho ialah : Melakukan shalat di luar waktu yang telah ditentukan, untuk menggantikan shalat wajib harian yang tertinggal. Shalat ada’ ialah : Melakukan shalat wajib harian tepat menurut waktu yang telah ditentukan.
    Pengertian qodho hanya berlaku bagi shalat-shalat harian (5 waktu). Sedang untuk shalat wajib lainnya, seperti shalat Jum’at, Ied (hari raya, baik ghodir, fitri dan adhha), Ayat dan sebagainya, tidak ada kewajiban untuk meng-qodhonya saat tertinggalkan, kecuali untuk gerhana matahari dan gerhana bulan yang total, walaupun diharuskan untuk melakukannya di luar waktu (qodho gerhana yang total), saat melakukannya tidak diharuskan dengan niat qodho, cukup dengan niat melakukan shalat.

    Cara dan Waktu mengqodo:
    *) Harus tertib saat mengqodho shalat yang tertinggal secara berurutan dan tidak terlewatkan sampai hari berikutnya. Contohnya : Jika yang tertinggal adalah shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, kemudian ingat setelah masuknya waktu Isya, atau yang tertinggal hanya shalat Dhuhur dan Ashar, dan ingatnya setelah masuk waktu Maghrib, atau yang tertinggal adalah shalat yang jenisnya sama (tiga kali shalat Subuh saja misalnya) di hari yang berbeda-beda, maka shalat Subuh walaupun qodho lebih didahulukan dari pada shalat Dhuhur yang ada’, karena keberadaan shalat Subuh lebih dahulu dari pada shalat Dhuhur, walaupun harinya telah lewat.

    sumber: http://aljawad.tripod.com/buletinew/edisi_ke_2_1423.htm#Shalat%20Qodho

    Menurut kitab sunni:
    Sebagian pengikut sunni mengikuti pendapat dari Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan tidak sah orang yang ketinggalan sholat fardhu dengan sengaja untuk menggantinya/qadha pada waktu sholat lainnya, mereka harus menambah sholat-sholat sunnah untuk menutupi kekurangan- nya tersebut. Tetapi pendapat Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah ini telah terbantah oleh hadits-hadits dibawah ini dan ijma’ (kesepakatan) para ulama pakar diantaranya Imam Hanafi, Malik dan Imam Syafi’i dan lainnya tentang kewajiban qadha bagi yang meninggalkan sholat baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.
    sumber: http://salafytobat.wordpress.com/2009/05/05/qadha-penggantian-sholat-yang-ketinggalan-dan-dalil-dalil/

    1. Mazhab Syafii

    Dalam mazhab ini, berpendapat bahwa : Meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa uzur, wajib diqadha dengan segera, tidak boleh ditempokan terkecuali sedang melakukan kewajiban yang lain, seperti sedang mendengarkan khutbah Jum’at, mencari nafkah dan lain-lain, maka boleh ditempokan sampai menyelesaikan kewajiban. Adapun shalat yang ditinggalkan karena uzur seperti sakit, wajib diqodha walaupun tidak dikerjakan dengan segera.

    2. Mazhab Hanafi

    Mazhab ini berpendapat bahwa: Shalat yang ditinggalkan wajib diqodha dengan segera, bahkan lebik baik mengqodha shalat daripada menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sunat, terkecuali shalat-shalat sunat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tasbih, Tahiyatul Masjid, boleh dikerjakan namun tidak dapat dijadikan pengganti shalat-shalat wajib yang ditinggalkan, hanya saja dengan sebab mengerjakan shalat-shalat sunat yang disebutkan boleh menempokan untuk mengqodha shalat yang ditinggalkan.

    3. Mazhab Maliki

    Menurut mazhab ini, haram melakukan shalat-shalat sunat bagi orang yang masih ada shalat wajibnya yang belum di qodha, terkecuali shalat Tahajjud dan shalat Witir. Adapun shalat Tarawih bagi orang yang belum mengqodha shalatnya yang tinggal, di satu sisi tetap berpahala dan di sisi lain dia berdosa disebabkan melambatkan qodha shalat wajib yang ditinggalkan.

    4. Mazhab Hanbali

    Mazhab ini berpendapat bahwa haram hukumnya melaksanakan shalat sunat sebelum mengqodha shalat wajib yang ditinggalkan. Jika dikerjakan shalat sunat seperti shalat sunat mutlak maka hukumnya haram. Adapun shalat sunat Rawatib, Witir boleh dia kerjakan, namun sebaiknya diutamakan shalat qodha.

    Dari uraian masing-masing mazhab, tidak dijumpai satu mazhabpun yang mengatakan shalat yang ditinggal tidak wajib di qodha. Pendapat mereka sepakat bahwa shalat yang ditinggalkan wajib di qodha, namun mereka berbeda pendapat apakah wajib mengqodhanya dengan segera atau tidak. Yang menarik dari pendapat yang telah dipaparkan di dalam mazhab yang 4, tidak satu mazhab pun yang mengemukakan dalil dari Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

    Untuk lebih memperkuat alasan wajib mengqodha shalat adalah Hadis riwayat dari Abi Qatadah dia berkata, dilaporkan kepada Nabi SAW orang yang ketiduran sehingga terlewat waktu shalat, Nabi SAW bersabda : Sesungguhnya tidur tidak termasuk mengabaikan shalat, hanyasannya lalai ketika sadar, bila seseorang kamu lupa shalat, atau tertidur maka shalat lah bila dia ingat. (HR. Turmuzi) Hadis ini memerintahkan untuk mengerjakan shalat meskipun di luar waktu (qodha) bila lupa atau tertidur. Hal itu tidak merupakan dosa dan tidak dikatakan melalaikan shalat karena tidur dan lupa, di luar batas kemampuan manusia. Sedangkan orang yang sengaja meninggalkan dan melalaikan shalat adalah merupakan kedurhakaan, apakah wajar bagi mereka yang meninggalkan shalat dalam keadaan sadar, lalu dibebaskan dari tuntutan untuk mengqodhanya? Cukupkah dengan beristighfar dan taubat? Para ulama mazhab mengatakan: Memang wajib bertaubat atas segala keteledorannya meninggalkan shalat, akan tetapi kewajiban untuk mengqodha shalat tidak terangkat dengan semata-mata taubat dan istighfar. Dengan kata lain taubat yang diterima oleh Allah SWT adalah menyesali, tidak mengulangi, dan mengembalikan/membayar hak manusia dan hak Allah SWT.
    sumber: http://kampoengsantri.wordpress.com/2010/10/27/qodho-sholat-menurut-islam/

    1. Shalat fardhu yang tidak dilaksanakan pada waktunya baik karena ketiduran atau lupa, maka harus diganti pada waktu yang lain segera setelah dia ingat. Kecuali bagi wanita haid dan nifas (keluar darah setelah melahirkan).

    “Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena tertidur atau lupa, maka hendaknya ia melakukan salat setelah ingat dan tidak ada kafarat (pengganti) selain itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)”

    Hadist lain:
    “Apabila seseorang tidak solat karena lupa atau tertidur, maka hendaknya dia mengqodho ketika ingat.”

    Berdasarkan kedua hadits di atas, mayoritas (jumhur) ulama fiqh dari keempat madzhab berpendapat bahwa (a) wajib mengqadha shalat karena meninggalkan salat itu dosa dan mengqadha (mengganti)-nya itu wajib; (b) sangat dianjurkan memohon ampun pada Allah (istighfar), bertaubat dan memperbanyak salat sunnah.

    Adapun cara meng-qadha yang ditinggal begitu lama ada beberapa cara.

    1. Menurut madzhab Maliki, cara mengqadha-nya adalah setiap hari mengqadha dua hari shalat yang ditinggal. Dilakukan terus menerus setiap hari sampai yakin qadha-nya sudah selesai.

    2. Menurut Ibnu Qudamah, hendaknya dia mengqadha setiap hari semampunya. Waktunya terserah, boleh siang atau malam. Sampai dia yakin (menurut perkiraan) bahwa semua shalat yang ditinggalkan sudah diganti. Ibu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berkata:

    إذَا كَثُرَت الْفَوَائِتُ عَلَيْهِ يَتَشَاغَلُ بِالْقَضَاءِ, مَا لَمْ يَلْحَقْهُ مَشَقَّةٌ فِي بَدَنِهِ أَوْ مَالِهِ, أَمَّا فِي بَدَنِهِ فَأَنْ يَضْعُفَ أَوْ يَخَافَ الْمَرَضَ, وَأَمَّا فِي الْمَالِ فَأَنْ يَنْق؎طِعَ عَنْ التَّصَرُّفِ فِي مَالِهِ, بِحَيْثُ يَنْقَطِعُ عَنْ مَعَاشِهِ, أَوْ يُسْتَضَرُّ بِذَلِكَ. وَقَدْ نَصَّ أَحْمَدُ عَلَى مَعْنَى هَذَا. فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ قَدْرَ مَا عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعِيدُ حَتَّى يَتَيَقَّنَ بَرَاءَةَ ذِمَّتِهِ. قَالَ أَحْمَدُ فِي رِوَايَةِ صَالِحٍ, فِي الرَّجُلِ يُضَيِّعُ الصَّلَاةَ: يُعِيدُ حَتَّى لَا يَشُكَّ أَنَّهُ قَدْ جَاءَ بِمَا قَدْ ضَيَّعَ. وَيَقْتَصِرُ عَلَى قَضَاءِ الْفَرَائِضِ, وَلَا يُصَلِّي بَيْنَهَا نَوَافِلَ, وَلَا سُنَنَهَا؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَاتَتْهُ أَرْبَعُ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ , فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ, ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ. وَلَمْ يُذْكَرْ أَنَّهُ صَلَّى بَيْنَهُمَا سُنَّةً, وَلِأَنَّ الْمَفْرُوضَةَ أَهَمُّ, فَالِاشْتِغَالُ بِهَا أَوْلَى, إلَّا أَنْ تَكُونَ الصَّلَوَاتُ يَسِيرَةً, فَلَا بَأْسَ بِقَضَاءِ سُنَنِهَا الرَّوَاتِبِ, لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ, فَقَضَى سُنَّتَهَا قَبْلَهَا.
    Arti ringkasan: Wajib mengqodho shalat yang ditinggal secara sengaja dalam waktu lama, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sampai lupa hitungan persisnya. Adapun caranya adalah dengan mengqadha berturut-turut tanpa diselingi shalat sunnah seperti yang pernah dilakukan Nabi saat ketinggalan 4 waktu shalat pada perang Khandaq.

    Jangan lupa untuk selalu memohon ampun atas shalat-shalat yang ditinggalkan.

    KESIMPULAN HUKUM QADHA SHALAT YANG DITINGGAL BERTAHUN-TAHUN
    Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sampai lupa hitungan persisnya dan dia dalam keadaan sehat, maka hendaknya dia (a) bertaubat dan (b) meng-qodho seluruh shalat yang ditinggal setiap hari semampunya sampai selesai; (c) memperbanyak shalat sunnah untuk mengganti kekurangan.
    sumber: http://www.alkhoirot.net/2011/12/hukum-qadha-shalat.html

    Wallua’lam bishshowab.

  48. 48
    usman Indonesia Google Chrome Windows says:

    inilah blog sangsot

  49. 49
    mulyana Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    blog yang sangat bagus
    Syukron ya akhi

  50. 50
    Alfan Khair Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Assalamu’alaikum ! ana mau tanya bagaimana cara sholat ghoib menurut fikih Ja’fari.Syukron

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.