Rosul bersabda: Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)

Surah An-Nahl : 43 (Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as)

Asbabun Nujul, Quran | | March 24, 2010 at 20:42

Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as

“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu”

Yang dimaksud dengan ahludz dzikr dalam ayat di atas adalah Ahlul Bayt Nabi as Yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.

2.Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.

3.Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.

4.Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.

5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.

6.Rūhul Ma’ānī, karya Al’Alusi, juz 14, hal. 134.

7.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari juz 3, hal. 483, cetakan Tehran.

Tags: , ,
Perhatian
Komentar adalah tanggung jawab penulis komentar, sehingga dimohon agar isi komentar yang objektif dan berakal. Komentar atau link website yang penuh diiringi dengan KEBENCIAN dan EMOSI belaka hukumnya haram pada website ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Terimakasih.

10 Comments

  1. 1
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya jadi mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Rumah tangga Nabi Muhammad SAW itu yang bagaimana?

    Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka ruang lingkup ahlul bait tersebut sifatnya universal menjadi:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru. Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat jadinya.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka ya seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya. Jadi sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait juga, merek murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.

    Tutuplah debat masalah Ahlul Bait ini, karena fihak-fihak baik habaib maupun syiah yang mengklaim mereka adalah keturunan ahlul bait itu, sebenarnya tidak ada karena tahta ahlul bait ya memang tak diwariskan lagi.

  2. 2
    Al-Husayni Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    saudara elfan …

    pertama saya ingin mengatakan kalo anda sudah melemahkan ahli tafsir seperti

    1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.

    2.Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.

    3.Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.

    4.Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.

    5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.

    yang di akui dan di percaya oleh para habaib …

    yang kedua perkataan anda” Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait juga, merek murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.

    Tutuplah debat masalah Ahlul Bait ini, karena fihak-fihak baik habaib maupun syiah yang mengklaim mereka adalah keturunan ahlul bait itu, sebenarnya tidak ada karena tahta ahlul bait ya memang tak diwariskan lagi.”
    saya minta bukti atas perkataan anda ini dengan dalil dan maaf saya tidak menginginkan tersebut dengan pola fikir anda ( logika anda )….

    dan ingat satu hal ,kami bukan lagi berdebat atau mendebatkan …

    terima kasih

    salam

  3. 3
    elfan Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    @alhusayni, terima kasih atas nasehat anda, dalil yang kongkrit hanya QS. 33:4-5, bahwa kedudukan ‘anak angkat’ saja tidak boleh ‘nasab’-nya kita hapus, kita ganti. lalu bagaimana nasab Saidina Hasan, Husein apakah kita berani memakai ‘bin’ Fatimah?. lalu apakah akan kita samakan dengan kisah Nabi Isa yang lahir menggunakan ‘bin’ Maryam? apakah kita berani menghilangkan nasabnya yang sesungguhnya ‘bin’ Ali bin Abi Thalib. Lalu, mengapa kita kurang ‘serek’ mengatakan bahwa Sadina Husein dan Saidina Hasan ‘juga’ cucu dari Abi Thalib ayahnya Ali bin Abi Thalib? ya inilah dalil mutlak dari Allah SWT

  4. 4

    @ elfan coba cermati ini dengan seksama

    “Kenapa masih ada orang-orang yang masih menggangguku melalui nasab dan kerabatku? Sungguh, barang siapa mengganggu nasabku dan kaum kerabatku berarti ia menggangguku, barang siapa menggangguku berarti ia mengganggu Allah SWT” (HR Ashhabus Sunan)

    Rasulullah SAW juga bersabda:

    “Dari Abu said Al Kudri, Rasulullah SAW bersabda: “Amat keras murka Allah SWT atas orang-orang yang menyakiti aku di dalam hal keturunanku.” (HR. Ad-Dailani)

    Allah SWT mentakdirkan bahwa garis keturunan Rasulullah SAW diteruskan kelanjutannya melalui putrinya Fatimah Az-Zahra Al-Bathul as., dan tulang sulbi Imam Ali as sebagai keistimewaan dan pengecualian yang khusus dikaruniakan Allah SWT bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan keturunan setiap Nabi SAW dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah SWT menciptakan keturunanku dari tulang sulbi Ali bin Abi Tholib.” (HR. Thabrani)

    Kekhususan yang dinyatakan sebagai pelanjut keturunannya ada tiga jenjang:

    Pertama, kepada Imam Ali bin Abi Tholib

    Kedua, terhadap Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasul SAW.

    Ketiga, terhadap cucu Beliau (Imam Hasan dan Imam Husen) yang dinyatakan secara khusus sebagai anaknya, bukan sebagai cucu (Sibthun), bernasabkan, berisbahkan, dan berwalikan kepada Rasul SAW. dan sebagai pelanjut nasab keturunan Beliau SAW, Rasul SAW bersabda:
    “Fathimah adalah bagian dari diriku. Apa yang membuatnya marah, membuatku marah. Dan apa yang melegakannya, melegakanku. Sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat selain nasabku, sebabku, dan menantuku.” (Shohih HR. Ahmad dan Al Hakim)

    Yang demikian berdasarkan firman Allah SWT.:

    “Maka tidak ada lagi hubungan nasab diantara mereka pada hari itu”. (QS Al Mu’minun 101).

    Dalam sebuah hadits shohih berasal dari Jabir ra. yang diketengahkan oleh Hakim dalam “Al-Mustadrak” dan oleh Abu Ya’la di dalam “Musnad”nya bahwasanya Sayyidah Fathimah as meriwayatkan ayahnya bersabda:

    “Semua anak Adam (yang dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam) satu ‘ushbah (seketurunan atau garis keturunan dengan ayah), kecuali dua putera Fatimah, akulah wali dan ‘ushbah mereka berdua (bersambung garis keturunannya dengan aku.”). (Al – Hadits).

    dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. (QS. 53:3)
    Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS. 53:4)

    Elfan Kira2 pemahaman anda dalam memahami sebuah ayat alquran yang kurang atau Perkataan Arrosul yg sesuai kemauanya sendiri, padahal ayat di atas sudah jelas apa2 yg di ucapkan adalah wahyu ?

  5. 5

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ [١٠٨:١

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [١٠٨:٢

    إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ [١٠٨:٣

    Sura: Al-Kawthar

    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
    ﴿١﴾

    Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
    ﴿٢﴾

    Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
    ﴿٣﴾

    Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Jadi yang dimaksud kalimat “Nikmat yang banyak” dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara sayidah Fathimah Az-Zahra’ as dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib as, kebanyakan dari keturunan Sayidah Fathimah as ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud kalimat “Orang yang membencimu dialah yang terputus” dalam ayat itu adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan!!!

  6. 6
    NUR.. Indonesia Mozilla Firefox Windows says:

    Rasulullaah say: “sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kamu sekalian dua peninggalan berat (al-Tsaqalain), yaitu kitabullah dan Ahlulbaitku. dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga bertemu denganaku di al-Haudh (telaga disurga)” (Mustadrak Hakim, Juz III (Riyadh: Maktabah al-Nashr al-Hadisah,1968) h.148). dan pada hadis lain dikatakan al-qur’an dan Sunnah. kedua konteks bahasa diatas jika dianalisis tidak ada perbedaan didalamnya. sebagaiman kita ketahui Sunnah nabi adalah segala hal yang datangnya dari Nabi. baik ucapan maupun perbuatan… nah dalam banyak kesempatan nabi menyatakan jika setelahnya akan ada dua belas khalifah(lihat:shahih Al-Bukhari, dalam Kitab Ahkam, bab Istikhlaf, Juz IV, h.248, Sunan abu daud , juz IV(Mesir:Dar Ilhya Sunnah nabawiyyah), h. 106.dan lain kesempatan nabi menyebutkan pula nama-nama Khilafah tersebut(lihat: Syekh Sulaiman al qunduzi al-Hanafy, ya Nabi almawaddah (Istanbul : tp, 1301 H); h. 374. dan msh bnyk yang lain. pada referensi terakhir Rasulullah menyebutkan nama-nama Khalifah tersebut yang diawalai Imam Ali, imam Husan,Imam Husain dan terahir Imam Mahdi. pertanyaannya jika seandainya nasab rasulullah telah berahir pada bunda Fatimah Kenapa Nabi harus menyatakan jika beliau menitip Al-qur’an dan Ahlulbait kpada umatnya sampai bertemu dengan beliau di telaga surga. yang tidak lain setelah kiamat. kenapa Al-Qur’an dan Ahlul bait? karena keduanya tidak akan pernah terpisahkan Ahlulbait Diibaratkan Al-Quran berjalan (kongkrit dari al-qur’an) kepada ummatnya… dan siapa lagi yang akan benar-benar bertanggung jawab terhadap kesucian dan kemurnian ajaran Rasulullah kalau bukan dari nasab dan keluarga nabi pasca wafatnya Rasulullah sampai hari kiamat nanti (imam mahdi yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman)…

  7. 7
    NurSapin Indonesia Safari Mac OS says:

    Pernah dengar cerita dari suatu hadits namun lupa teksnya tapi saya ingat maknanya yang berisi :
    Selama hidupnya dewi Fatimah tidak pernah mengalami haid yang menunjukan itu sebagai keistimewaan dewi Fatimah..
    mohon koreksi..
    menurut orang jawa dewi artinya sayyidah dalam bahasa Arab..

  8. 8
    ferick Indonesia Internet Explorer Windows says:

    Imam Musa Al-Kazhim a.s. bercerita: “Suatu hari aku masuk ke istana Harun Ar-Rasyid dan ia banyak menanyakan sesuatu kepadaku dan aku menjawabnya”.

    Di antara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Harun kepada Imam Kazhim a.s. adalah sebagai berikut:

    “Bagaimana Anda mengaku sebagai keturunan Rasulullah sedangkan beliau tidak mempunyai keturunan. (Karena telah diakui oleh semua orang bahwa) keturunan seseorang berasal dari jalur lelaki, bukan dari jalur wanita. Dan silsilah keturunan Anda kepada Rasulullah melalui jalur wanita”.

    Imam Kazhim a.s. membacakan surah Al-An’ām ayat 84-85 (kepada Harun): “Dan di antara anak-cucu (Nabi Ibrahim a.s.) adalah Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Begitulah kami membalas mereka yang berbuat kebajikan. Dan (juga) Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang salih”.

    Imam Kazhim a.s. lantas bertanya kepada Harun: “Siapakah ayah Isa a.s.?”

    “Ia tidak mempunyai ayah”, jawabnya.

    “Allah memasukkannya ke dalam keturunan para nabi a.s. melalui jalur Maryam. Begitu juga, Dia telah memasukkan kami ke dalam keturunan Rasulullah SAWW melalui jalur ibu kami, Fathimah a.s.”, Imam Kazhim a.s. menimpali.

    Lebih dari itu, Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsīrul Kabīrnya ketika mengomentari ayat tersebut di atas berpendapat bahwa ayat ini adalah bukti akurat bahwa Hasan dan Husein adalah keturunan Rasulullah SAWW. Dikarenakan Allah dalam ayat ini telah mengesahkan Nabi Isa a.s. sebagai keturunan Nabi Ibrahim a.s. sedangkan ia tidak mempunyai ayah. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa garis keturunannya kepada Nabi Ibrahim a.s. melalui jalur ibu. Dengan ini dapat dipastikakn bahwa Hasan dan Husein adalah keturunan Rasulullah SAWW.

    Imam Musa Al-Kazhim a.s. bertanya kepada Harun apakah ia memerlukan bukti yang lain. Ia menyuruh Imam a.s. untuk meneruskan.

    Imam Kazhim a.s. membaca surah Ali Imran ayat 61 yang berbunyi: “Barang siapa membantahmu berkenaan dengan perkara ini (Nabi Isa a.s.) setelah sampai kepadamu pengetahuan (melalui perantara wahyu tentang dirinya), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah (masing-masing dari) kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian kita mengadakan mubahalah dan menimpakan kutukan Allah kepada para pendusta”.

    Imam Kazhim a.s. melanjutkan ucapannya seraya berkata: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran, Rasulullah SAWW hanya membawa Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Ini berarti, diri (anfusanā) berarti Ali bin Abi Thalib, wanita (nisā`anā) berarti Fathimah, dan anak-anak (abnā’anā) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah SAWW sendiri”.

    Setelah mendengar argumentasi di atas, Harun Ar-Rasyid berkata: “Engkau hebat, wahai Abul Hasan”.

    Argumentasi di atas adalah bukti nyata bahwa Hasan dan Husein adalah dari keturunan Rasulullah SAWW dan semua keturunan Fathimah a.s. adalah keturunan beliau juga.

  9. 9
    Jane Forrington United States Mozilla Firefox Windows says:

    Penelitian saya tentang agama kontemporer sangat terbatas tapi saya pikir penjelasan terbaik diberikan oleh seorang sarjana Pakistan dalam bukunya Tafheem-ul-Quran.

  10. 10
    Nagib Alaydrus Indonesia Google Chrome Windows says:

    Sebagai tambahan buat sdr Elfan,

    “Imam Mahdi adalah dari keluargaku dari keturunan Fathimah.” HR. Abu Daud no. 4284, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih

    Hadits di atas menunjukkan bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dari jalur Fathimah. Dan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya An Nihayah fil Fitan wal Malahim, hal. 17, Mawqi’ Al Waraq berkata bahwa nasab beliau adalah

    مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِ اللهِ العَلَوِي الفَاطِمِي الحَسَنِي

    Muhammad bin Abdullah Al ‘Alawi (keturunan Ali bin Abu Tholib) Al Fathimiy (keturunan Fatimah binti Muhammad) Al Hasaniy (keturunan Hasan bin ‘Ali).

    Dan saat peristiwa Mubahallah.

    Muslim, Tirmidhi (hasan sahih gharib), al-Hakim, dan lainnya menyatakan bahwa ketika Allah menurunkan ayat :”… maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta . (QS. 3:61) Sa`d ibn Abi Waqqas mengatakan: Rasul memanggil `Ali, Fatima, Hasan, dan Husayn, dan berkata : “Ya Allah! Inilah familiku” (allahumma ha’ula’u ahli)

    Rasulullah saw, sebagaimana hadits beliau yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi’i:

    “… maka mereka itu keturunannku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuanku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan SYAFA’ATKU.”

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.