Rosul bersabda: Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)

Sejarah Imam 12 part 2

Sejarah | | January 5, 2010 at 22:50

Imam Musa Al-Kadzim as (7)
Nama : Musa
Gelar : Al-Kadzim
Julukan : Abu Hasan Al-Tsani
Ayah : Ja’far Shodiq
Ibu : Hamidah AL-Andalusia
Tempat/Tgl Lahir : Abwa’ Malam Ahad 7 Shofar 128 H.
Hari/Tgl Wafat : Jum’at 25 Rajab 183 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Kematian : Diracun Harun Ar-Rasyid
Makam : Al-Kadzimiah

Riwayat Hidup

Untuk yang kesekian kalinya keluarga Rasulullah dibahagiakan atas kelahiran seorang manusia suci, pilihan Allah demi kelestarian hujjahnya yaitu Musa bin Ja’far. Beliau dilahirkan pada hari Ahad 7 Shafar 128 H di kota Abwa’ antara Makkah dan Madinah.

Ayahnya begitu gembira dengan kelahiran putranya ini hingga beliau berucap: “Aku berharap tidak memperoleh putra lain selain dia sehingga tidak ada yang membagi cintaku padanya”. Ayahnya, Imam Ja’far As-Shadiq, telah mengetahui bahwa bayi tersebut akan menjadi orang besar dan mempunyai kedudukan yang mulia yaitu sebagai calon Imam, pemimpin spiritual yang akan menjadi penerus Ahlul Bait dalam berhidmat untuk risalah Allah SWT yang dipercayakan kepada kakeknya Muhammad saww. Beliau dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Hamidah, seorang wanita berkebangsaan Andalusia (Spanyol). Sejak masa kecilnya beliau telah menunjukkan sifat kepandaiannya. Pada suatu saat Abu Hanifah datang ke kediaman Imam Ja’far As-Shadiq untuk menanyakan suatu masalah. Pada waktu itu Imam Ja’far As-Shadiq a.s. sedang istirahat lalu Abu Hanifah bertanya kepada anaknya, Musa Al-Kadzim yang pada waktu itu berumur 5 tahun. Setelah mengucapkan salam beliau bertanya: Bagaimana pendapat Anda tentang perbuatan-perbuatan seorang manusia? Apakah dia melakukan sendiri atau Allah yang mejadikan dia berbuat seperti itu? “Wahai Abu Hanifah! Imam berusia 5 tahun tersebut menjawab dengan gaya seperti para leluhurnya,: “perbuatan-perbuatan seorang manusia dilahirkan atas tiga kemungkinan.

Pertama, Allah sendiri yang melakukan sementara manusia benar-benar takberdaya. Kedua, Allah dan manusia sama-sama berperan atas perbuatan-perbuatan tersebut. Ketiga, manusia sendiri yang melakukannya. Maka, jika asumsi pertama yang benar dengan jelas membuktikan ketidakadilan Allah yang menghukum makhIuk-Nya atas dosa-dosa yang mereka tidak lakukan. Dan jika kondisi yang kedua diterima, maka Allahpun tidak adil kalau Dia menghukum manusia atas kesalahan-kesalahan yang di dalamnya Allah sendiri bertindak sebagai sekutu. Tinggal alternatif yang ketiga, yakni bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka sendiri”. Mengenai situasi politik di zaman beliau hampir sama dengan zaman sebelumnya. Beliau hidup dalam zaman yang paling kritis di bawah raja-raja zalim dari Bani Abbas. Beliau hidup di zaman Al-Manshur, Al-Mahdi, Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Di masa Imam Musa masih berusia 5 tahun. Telah terjadi sebuah peristiwa besar yaitu runtuhnya Dinasti Umayyah dan bangkitnya Dinasti Abbasyiah. Bani Abbasiyah juga tidak kalah dalam perbuatan jahatnya. Kedudukan jadi rebutan di saat itu, sementara istana dipenuhi dengan gundik-gundik dan harta. Tari-tarian serta lagu dan syair menjadi hiasan istana Bani Abbasyiah, kejahatan mereka merajalela dan dekadensi moral hampir merata dimana-mana. Nasib keluarga Imam Musa a.s. (Al-Alawiyin) teraniaya di zaman ini.

Di zaman Al-Manshur mereka dipenjarakan tanpa diberi makan, sebagian lagi diusir dari rumah-rumahnya dan yang lain dibunuh. Penguburan hidup-hidup bukan merupakan pemandangan yang baru lagi di zaman ini. Kebiadaban Al-Manshur tidak berlangsung lama pada tanggal 3 Dzulhijjah158 H, dia mati lalu digantikan oleh anaknya Al-Mahdi. Al-Mahdi memerintah sejak 3 Dzulhijjah 158-22 Muharam 169. Di masa pemerintahannya, Imam Musa pernah dipenjarakan di Baghdad yang kemudian dibebaskan lagi. Walau penekanan dan kejahatan tidak dapat dielakkan lagi, namun penderilaan Ahlul Bait tidaklah separah di zaman Al-Manshur. Setelah beberapa tahun, Al-Mahdi juga meninggal dunia dan sejak 22 Muharram 169 H, anaknya, Al-Hadi, menggantikan posisi ayahnya sebagai raja Bani Abbas. Dia terkenal kejam dan bengis sekali. Pada masa pemerintahan-nya terjadi sebuah pemberontakan yang bernama “Fakh”, yang dipimpin Al-Husein bin Ali bin Al-Hasan bin Al-Husein bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Pemberontakan Fakh yang dipimpin oleh Husein bin Ali sama seperti kejadian “Karbala”. Keluarga Bani Hasyim disertai beberapa pengikutnya yang kescluruhannya berjumlah 200 orang dipaksa menghadapi musuh yang berjumlah beberapa kali lipat. Peperangan itu tidak berlangsung lama pasukan Bani Hasyim yang dipimpin Al-Husein bin Alibin Hasan akhirnya kalah dan porak poranda, kemudian mereka semua dipenggal dan anggota tubuhnya dipisah-pisah. Tidak cukup sampai di sini rumah-rumah mereka dibakar dan pasukan al-Hadi kemudian merampas harta dari keluarga para syuhada’ yang syahid dalam membela kebenaran. Pemerintahan al-Hadi hanya berlangsung 1 tahun dan pada tahun 170 H, Harun Al-Rasyid naik tahta dan menjadi penguasa dari Bani Abbas.

Kebijaksanaan politik Harun al-Rasyid tidak berbeda dengan zaman al-Hadi. Dia tidak segan-segan membunuh puluhan orang hanya karena adanya suatu fitnahan. Sehingga dia diberi julukan “pedangnya lebih cepat dan pembicaraannya”. Kami akan memberi sebuah contoh dan kejahatannya, yaitu di suatu waktu dia memanggil Humaid bin Qahtbabah dan menanyainya tentang ketaatannya kepada Amirul Mukminin. Humaid menyatakan kesiapannya melaksanakan segala yang diperintahkan kepadanya. Ketika Harun Al-Rasyid merasa yakin akan loyalitasnya terhadap istana Abbasiyah dan kesanggupannya untuk melaksanakan perintah, maka al-Rasyid menyuruh seseorang khadam (pembantu) mengambilkan sebilah pedang, lalu menyuruh Humaid pergi ke sebuah rumah yang terkunci yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah sumur. Di rumah itu terdapat tiga kamar yang seluruhnya terkunci. Ketika khadam tersebut mengantarkannya masuk ke rumah itu, dia membuka salah satu pintu kamar yang terkunci itu dan ternyata di dalamnya terdapat dua puluh orang alawiyin dan keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah saww. Mereka terdiri dari anak-anak remaja dan orang-orang tua dengan kaki dan tangan terikat rantai. Sang khadam menyuruh Humaid untuk membunuh orang-orang itu dan memasukkan jasad mereka ke dalam sumur. Humaid pun melaksanakan perintah tersebut dengan baik. Kemudian pintu kedua dibuka dan di situ ditemukan pula tawanan sejumlah itu. Kembali khadam itu menyuruh Humaid membunuh mereka dan memasukkan jasad-jasad mereka ke dalam sumur, dan Humaid pun melaksanakan perintah tersebut. Pintu ketiga dibuka pula dan di situ terdapat sejumlah itu. Lagi-lagi khadam itu menyuruh melakukan hal sama, dan Humaid pun menaatinya.

Kisah memilukan ini sebenarnya tertutup rapat-rapat dalam laci para pelakunya. Namun Humaid bin Qahthabah membukanya ketika dia merasa bahwa dirinya telah melakukan kejahatan besar telah kehilangan nilai-nilai kemanusiaan sehingga pesimis untuk mendapat rahmat Allah SWT. Dalam situasi yang mencekik seperti inilah imam hidup dan berdakwah kepada rakyat di sekitarnya

Melihat pengaruh besar beliau di tengah-tengah pendukungnya, Harun al-Rasyid merasa cemas dan kemudian memenjarakan beliau tanpa atasan dan bukti apapun. Di dalam penjara inilah waktunya dihabiskan untuk beribadah dan berdakwah di sana. Suatu ketika Harun al-Rasyid memerintah pengawalnya untuk memasukkan jariah yang cantik ke dalam sel Imam, guna merayu dan menjatuhkan martabatnya. Selang beberapa waktu ternyata Jariah yang cantik itu telah sujud bersama imam serta diriwayatkan bahwa hingga akhir hayatnya jariah tersebut menjadi wanita yang shalehah. Segara cara telah ditempuh, namun imam tetap pada posisinya yang mulia.

Akhirnya, Harun Al-Rasyid tidak punya pilihan lain kecuali membunuhnya. Sanadi bin Sahik yang terkenal bengis dan ingin mendapatkan kedudukan di sisi penguasa Bani Abbas segera menawarkan diri untuk menjadi pelaksana rencana pembunuhan tersebut. Dia kemudian meletakkan racun yang mematikan dalam makanan Imam Musa Al-Kazim. Tak pelak lagi, racun tersebut menjalar ke seluruh tubuh imam, dan imam pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Jenazahnya dibiarkan tergeletak dipenjara selama tiga hari yang kemudian dibuang di jembatan al-Karkh, di kota Baghdad. Mendengar berita tentang jenazah imam yang diletakkan di jembatan dan dijadikan bahan olokan oleh pengawal Sanadi bin Sahik, Sulaiman bin Ja’far Al-Manshur kemudian mengambil jenazah tersebut lalu memandikan, mengkafaninya dan melumuri wewangian serta menshalati dan menguburkannya.

Belum pernah ada di Baghdad seseorang yang dikubur yang di hadiri oleh lautan manusia seperti halnya ketika penguburan imam di pemakaman Quraiys. Bintang Ahlu Bait telah pergi untuk selamanya. Kota Baghdad seakan gelap dan gulita, sementara Mûsa bin Ja’far telah pergi dalam keadaan mulia dan terpuji.

Salam sejahtera untukmu di saat kau dilahirkan dan salam untukmu di saat kau dalam kegelapan penjara serta salam sejahtera bagimu saat kau dibangkitkan kelak sebagai orang yang syahid.

Imam Ali Ar-Ridha as (8)

Nama : Ali
Gelar : Ar-Ridha
Julukan : Abu al-Hasan
Ayah : Musa al-Kadzim
Ibu : Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis, 11 Dzulqo’dah 148 H
Hari/Tgl Wafat : Selasa, 17 Shafar 203 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Kematian : Diracun Makinun al-Abbasi
Makam : Masyhad, Iran
Jumlah Anak : 6 orang; 5 Laki-laki dan 1 Perempuan
Anak laki-laki : Muhmmad Al-Qani’, Hasan, Ja’far, Ibrahim, Husein
Anak perempuan : Aisyah

Riwayat Hidup

“Imam adalah orang yang menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya”.

“Imam adalah seorang yang berilmu bukan seorang yang bodoh, yang akan membimbing umat bukan membuat makar”.

“Imam itu tinggi ilmunya, sempurna sifat lemah lembutnya, tegas dalam perintah, tahu tentang politik, punya hak untuk menjadi pemimpin”.

“Sesungguhnya Imam itu kendali agama dan sistem bagi kaum muslimin serta pondasi Islam yang kokoh. Dengannya, salat, zakat, puasa dan haji serta jihad menjadi lengkap”.

“Imam bertanggung jawab memelihara Islam, serta mempertahankan syariat, aqidah dari penyimpangan dan penyesalan”.

“Imam bertanggungg jawab mendidik. umat, karenanya harus bersifat memiliki ilmu, tabu tentang situasi dan kondisi sosial, politik dan kepemimpinan”.

Tulisan di atas merupakan sedikit penjelasan tentang makna keimaman yang dikernukakan Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.

Beliau adalah pewaris keimamahan setelah ayahnya, Musa al-Kazim a.s. yang wafat diracun oleh Harun Ar-Rasyid. lbunya, Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin dia adalah seorang yang shalehah, ahli ibadah, utama dalam akal dan agamanya dan setelah melahirkan Ali ar-Ridha a.s, Imam Musa memberinya nama at-thahirah. Imam Ali ar-Ridha a.s hidup dalam bimbingan, pengajaran dan didikan ayahnya selama tiga puluh lima tahun. Sejarah menjadi saksi nyata bahwa para Imam Ahlul Bait ini sangat utama dalam kedudukannya yang sekaligus merupakan rujukan bagi kaum muslimin dalam setiap permasalahan. Begitu juga Imam Ali ar-Ridha yang tumbuh dalam didikan ayahnya pantas menjadi seorang Imam serta mursyid (guru penunjuk) yang akan memelihara madrasah Ahlu Bait Nabi dan menduduki posisi kepemimpinan di mata kaum muslimin.

Begitulah, setiap Imam akan dibimbing oleh Imam sebelumnya dan setiap Imam akan memperkenalkan dan menunjukkan identitas Imam yang akan menggantikannya, agar kaum muslimin tidak kebingungan tentang siapa penerus misinya guna merujuk kepadanya dalam mencari pengetahuan tentang syariat Islam, menimba ilmu dan ma’rifat serta mengikuti kepemimpinan dan pentunjuknya.

Di zaman Ali ar-Ridha a.s. bidang ilmu, kegiatan penelitian, penulisan buku dan pendukumentasian telah berkembang pesat. Di masa ini juga hidup As-Syafi’i, Malik bin Anas, As-Tsauri, As-Syaibani, Abdullah bin Mubarok dan berbagai tokoh-tokoh ilmu pengelahuan syariat dan logika serta kemasyarakatan. Mengenai situasi sosial saat itu, siapapun yang mengkaji akan mengetahui bahwa kehidupan islam yang dipimpin al Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid, al-Amin dan al-Makmun adalah kehidupan yang sarat dengan kefoya-foyaan, penuh dengan budak-budak perempuan, para penyanyi, penari dan gelas-gelas khomer. Ribuan juta dinar dan dirham dihambur-hamburkan sementara rakyat hidup dalam penekanan, pajak yang tinggi serta kelaparan dan berbagai teror yang ditujukan kepada mereka. Di saat seperti inilah Imam Ahlul Bait menunjukkan sikap ramahnya kepada kaum tertindas yang hidup dalam serba ketakutan serta menyerukan perbaikan dan perubahan yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Karenanya, mereka mengalami penyiksaan, pengejaran, pemenjaraan pembunuhan. Sedang situasi politik saat itu, setelah Harun Ar-Rasyid meracuni ayahnya dia masih hidup beberapa tahun bersama Iman Ali Ar-Ridha. Perlakuan Harun Ar-Rasyid kepada Imam Ali ar-Ridha tidak seperti perlakuan terhadap ayahnya.

Sebelum Harun ar-Rasyid meninggal, dia membagi negeri kekuasaannya di antara ketiga orang anaknya; al-Amin, al-Makmun, al-Qosim. Situasi politik dan perekonomian mengalami kemerosotan yang tajam. Sementara itu, Imam Ali Ridha mempunyai pengaruh yang besar terhadap para pengikutnya. Untuk mengantisipasi keadaan itu dan sekaligus memadamkan adanya beberapa pemberontakan dari kaum Alawiyin, al-Makmun kemudian mengumurnkan rencananya untuk mengangkat Imam Ali Ridha sebagai putra mahkota sepeninggalnya. Walaupun rencana itu mendapat tantangan yang keras dari pihak keluarganya, namun dia tetap bersikeras untuk mempertahankan rencananya. Kemudian dia mengirim utusan kepada Imam Ridha dan memintanya agar datang ke Khurasan untuk bermusyawarah berkenaan dengan pengangkatan beliau sebagai putra mahkota. Dengan terpaksa Imam Ali Ridha a.s. memenuhi panggilan itu. Setelah sampai di tempat al-Makrnun, rombongan kemudian ditempatkan di sebuah rumah, sedang Imam Ridha a.s., di tempatkannya di sebuah rumah tersendiri.

Akhirnya, al-Makmun menuliskan nash baiat untuk Imam Ridha a.s. dengan tangannya sendiri, dan Imam pun menanda tangani nash baiat, yang menyatakan bahwa beliau menerima pengangkatan dirinya sebagai putra mahkota.

Sejarah berbicara lain, al-Makmun bukan orang yang tidak suka kedudukan. Dia telah membunuh saudaranya al-Amin dan juga membunuh orang-orang yang telah mengabdi kepada saudaranya dan juga ayahnya, seperti Thahir bin Husain, al-Fadhl bin Sahl dan lain-lain yang telah berjasa dalam mengukuhkan pemerintahannya, maka bukan juga hal yang mustahil jika dia akhirnya menyusun siasat untuk membunuh Imam dengan cara meracuninya.

Imam Ridha a.s. syahid pada hari terakhir bulan Safar tahun 203 Hijriah di kota Thus (Masyhad) dan dimakamkan disana juga, di rumah Humaid bin Qahthabah di sisi kuburan Harun ar-Rasyid pada arah kiblat. Sekarang, makam beliau merupakan makam yang sangat menonjol, yang dikunjungi oleh jutaan peziarah yang berdesak-desakan di sekelilingnya. Kota di mana beliau di makamkan telah menjadi kota yang besar di Republik Islam Iran. Letaknya berbatasan dengan Rusia. Ia merupakan kota yang indah dan ramai. Di dalam nya terdapat perkumpulan-perkumpulan ilmiah dan sekotah agama.

Imam Muhammad Al-Jawad as (9)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Ar-Ridha
Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.
Hari/Tgl Wafat : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.
Umur : 25 Tahun
Sebab kematian : diracun istrinya
Makam : Al-Kadzimiah
Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ali, Musa
Anak Perempuan : Fatimah, Umamah

Riwayat Hidup

Ahlul Bait Nabi saww yang akan kita bicarakan kAliini adalah Muhammad al Jawad. Beliau adalah putra dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. yang dikenal sebagai orang yang zuhud, alim serta ahli ibadah. lbunya Sabikah, berasal dari kota Naubiyah. Di masa kanak-kanaknya beliau dibesarkan, diasuh dan dididik oleh ayahandanya sendiri selama 4 tahun. Kemudian ayahandanya diharuskan pindah dari Madinah ke Khurasan. ltulah pertermuan terakhir antara beliau dengan ayahnya, sebab ayahnya kemudian mati diracun. Sejak tanggal 17 Safar 203 Hijriah, Imam Muhammad aL-Jawad memegang tanggung jawab keimaman atas pernyataan ayahandanya sendiri serta titah dari Ilahi.

Beliau hidup di zaman peralihan antara al-Amin dan al-Makmun. Pada masa kecilnya beliau merasakan adanya kekacauan di negerinya. Beliau juga mendengar pengangkatan ayahnya sehagai putra mahkota yang mana kemudian terdengar kabar tentang kematian ayahnya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan sifal-sifat yang mulia serta tingkat kecerdasan yang tinggi. Dikisahkan bahwa ketika ayahnya dipanggil ke Baghdad, beliau ikut mengantarkannya sampai ke Makkah. Kemudian ayahnya tawaf dan berpamitan kepada Baitullah. Melihat ayahnya yang berpamitan kepada Baitullah, beliau akhirnya duduk dan tidak mau berjalan. Setelah ditanya, beliau menjawab: “Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan tempat ini kalau ayah sudah berpamitan dengan Bait ini untuk tidak kembali kemari”. Dengan kecerdasannya yang tinggi beliau yang masih berusia empat tahun lebih bisa merasakan akan dekatnya perpisahan dengan ayahnya.

Dalam bidang keilmuan, beliau telah dikenal karena seringkali berdiskusi dengan para ulama di zamannya. Beliau mengungguli mereka semua, baik dalam bidang fiqih, hadis, tafsir dan lain-lainnya. Melihat kepandaiannya, al-Makmun sebagai raja saat itu, berniat mengawinkan Imam Muhammad al-Jawad dengan putrinya, Ummu Fadhl.

Rencana ini mendapat tantangan keras dari kaum kerabatnya, karena mereka takut Ahlul Bait Rasulullah saww akan mengambil alih kekuasaan. Mereka kemudian mensyaratkan agar Imam dipertemukan dengan seorang ahli agama Abbasiyah yang bernama Yahya bin Aktsam. Pertemuan pun diatur, sementara Qodhi Yahya bin Aktsam sudah berhadapan dengan Imam. Tanya jawab pun terjadi, ternyata pertanyaan Qodi Yahya bin Aktsam dapat dijawab oleh Imam dengan benar dan fasih. namun pcrtanyaan Imam tak mampu dijawabnya. Gemparlah semua hadirin yang ikut hadir saat itu. Demikian pula halnya dengan al-Makmun, juga mersa kagum sembari herkata: “Anda hebat sekali, wahai Abu Ja’far”. Imam pun akhirnya dinikahkan dengan anaknya Ummu al-Hadlil, dan sebagai tanda suka cita, al-Makmun kemudian membagi-bagikan hadiah secara royal kepada rakyatnya. Setahun setelah pernikahannya Imam kembali ke Madinah hersama istrinya dan kembali mengajarkan agama Allah.

Meskipun di zaman al-Makmun, Ahlul Bait merasa lebih aman dari zaman sebelumnya, namun beberapa pemberontakan masih juga terjadi. Itu semua dikarenakan adanya perlakuan-perlakuan yang semena-mena dan para bawahan al-Makmun dan juga akibat politik yang tidak lurus kepada umat.

Setelah Al-Makmun mati, pemerintahan dipimpin oleh Muktasim. Muktasim menunjukkan sifat kebencian kepada Ahlul Bait, seperti juga para pendahulunya. Penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan terjadi lagi, hingga pemberontakan terjadi dimana-mana dan semua mengatasnamakan “Ahlul Bait Rasulullah saww”. Melihat pengaruh Imam Muhammad yang sangat besar ditengah masyarakat, serta kemuliaan dan peranannya dalam bidang politik, ilmiah serta kemasyarakatan, maka al-Muktasim tidak berbeda dengan para pendahulunya dalam hal takutnya terhadap keimamahan Ahlul Bait Rasulullah saww.

Pada tahun 219 H karena kekhawatirannya al-Muktasim meminta Imam pindah dari Madinah ke Baghdad sehingga Imam berada dekat dengan pusat kekuasaan dan pengawasan. Kepergiannya dielu-elukan oleh rakyat di sepanjang jalan.

Tidak lama kemudian, tepatnya pada tahun 220 H, Imam wafat melalui rencana pembunuhan yang diatur oleh Muktasim yaitu dengabn cara meracuninya. Menurut riwayat beliau diracun oleh istrinya sendiri, Ummu Fadl, putri al-Makmun atas hasutan al-Muktasim. Imam Muhamad wafat dalam usia relatiisf muda yaitu 25 tahun dan dimakamkan disamping datuknya, Imam Musa Kazim, di Kazimiah, perkuburan Qurays di daerah pinggiran kota Bagdad. Meskipun beliau syahid dalam umur yang relatif muda, namun jasa-jasanya dalam memperjuangkan dan mendidik umal sangatlah besar sekali.

Imam Ali Al-Hadi An-Naqi as (10)

Nama : Ali
Gelar : al-Hadi, al-Naqi
Julukan : Abu al-Hasan al-Tsaalits
Ayah : Muhammad Al-Jawad
lbu : al-Maghrabiah
Tempat/Tgl : Madinah, 15 Dzul-Hijjah/5 Rajab 212 H.
Hari/Tgl Wafat : Senin, 3 Rajab 254 H
Umur : 41Tahun
Sebab Kematian : Diracun Al-Mu’tamad al-Abbasi
Makam : Samara
Jumlah Anak : 5 orang; 4 Laki-Laki dan Perempuan
Anak Laki-laki : Abu Muhammad al-Hasan, al Husein, Muhammad, Ja’far
Anak Perempuan : Aisyah

Riwayat Hidup

Keberadaan seorang Imam sangat penting dalam menjaga kelestarian syariat serta kelangsungan peradaban sejarah. Mereka haruslah orang yang paling utama dalam

bidang keilmuan, pemikiran dan politik, karena mereka adalah pemimpin bagi umat yang akan membimbing dan menyelesaikan segala permasalahan. Adanya keimamahan ini tidak lain merupakan kasih sayang ilahi terhadap umat manusia.

Dari kota risalah dan dari silsilah keluarga teragung dan termulia, lahirlah Ali al-Hadi bin Imam Muhammad al- Jawad. lbunya, Sumanah (al-Maghrabiah), merupakan se-orang Wanita yang shalihah. Imam Ali al-Hadi berada di bawah pemeliharaan dan pendidikan ayahnya sendiri. Tak syak lagi jika beliau kemudian menjadi panutan dalam akhlak, kezuhudan. ibadah, keilmuan dan kefaqihannya.

Bukan hanya karena kelebihannya saja yang menyebabkan beliau pantas menjadi Imam. namun penunjukan dari Imam sebelumnya atas titah Ilahi juga menjadi atasan kei- mamahannya. Semua orang, ulama, penguasa, mengetahui dengan jelas keimamahannya. Tampaknya itulah yang melahirkan pertentangan antara Muawiyah dengan Imam Ali a.s. dan Imam Hasan a.s, pertentangan Imam Husein dengan Yazid bin Muawiyah; pertentangan Hisyam bin Abdul Malik dengan Imam Muhammad al-Baqir a.s. dan Imam Ja’far as- Shadiq a.s, antara Abu Ja’far al-Manshur dengan Imam Ja’far Shadiq a.s, antara Harun ar-Rasyid dengan Imam Musa al-Kazim a.s, antara al-Makmun dengan Imam Ali ar-Ridha a.s., antara Muktasim dengan Imam Muhammad; Imam Ali Hadi an-Naqi a.s. al-Jawad a.s., antara al-Mutawakkil dengan lmam Ali al-Hadi a.s.

Masa keimamahan Ali al-Hadi adalah masa yang sarat dengan berbagai kerusakan, kejahatan serta merosotnya ekonomi rakyat akibat banyaknya pajak serta sulitnya keadaan. Beliau hidup semasa dengan Muktasim, al-Wasiqbillah, al- Mutawakkil, al-Muntasir, al-Musta’in dan al-Mu’taz.

Al-Muktasim merupakan salah seorang penguasa Bani Abbasiyah yang kehidupannya di isi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat Allah, seperti meminum-minuman keras, suka tari-tarian serta pembunuhan terhadap pengikut Ahlul Bait. Dizamannyalah ayahanda Ali al-Hadi, wafat karena diracun. Hingga akhirnya al-Muktazim mati dengan berlumuran dosa dan berlumuran darah para pengikut Ahlul Bait. Setelah kematian Al-Muktasim 227 H, kekuasaan beralih ke tangan al-Wasiqbillah

Penderitaan para pengikut Ahlul Bait sedikit berkurang di zaman al-Wasiqbillah. Namun walau bagaimanapun, keadaan sosial dan politik tetap tidak mendukung penyebaran misi Ahlul Bait. Selama 5 tahun 7 bulan al-Wasiqbillah memegang tampuk kekuasaan dan setelah kematiannya kekuasaan beralih ke tangan al-Mutawakkil. Dalam sikap permusuhannya terhadap Ahlul Bait, Mutawakkil lak ada bandingannya di antara raja Abbasiah. Dia tak segan-segan merampas, menganiaya, bahkan membunuh siapapun yang dianggap setia kepada Ahlul Bait. Sedang keturunan Rasulullah saww, baik yang di Hijaz atau yang di Mesir, kehidupannya sangat memperihatinkan. Rakyat tidak diperkenankan sedikitpun untuk membantu neraka, hingga dikisahkan bahwa baju yang dipakai kaum wanita Fatimiyah, hanyalah baju yang menutupi separuh badan. Kudung tua yang dipakai untuk salat, mereka pake secara hergantian.

Tidak cukup hanya memusuhi Ahlul Bait dan keturunan Rasulullah saww serta para pengikutnya, tapi dia (Mutawakkil) juga sangat memusuhi Imam Ali bin Abi Thalib, yang dikutuk secara terang-terangan. Di suatu waktu dia memerintahkan seorang pelawaknya untuk mengejek dan menghina Imam Ali bin Abi Thalib di sebuah jamuan pesta yang diadakannya. Pada tahun 237 H/850 M, dia memerintahkan untuk meratakan makam Imam Husein a.s. yang ada di Karbala dan beberapa rumah di sekitarnya.

Pada tahun 243 H/857 M, akibat tuduhan palsu. al-Mutawakkil memerintahkan salah seorang pejabatnya untuk menyuruh Imam Ali al-Hadi pindah ke Samarah yang ketetika itu menjadi ibu kota. Dengan sabar Imam menanggung siksaan dan malapetaka dari Mutawakkil -penguasa Abbasiyah- sampai akhirnya al-Mutawakkil mati terbunuh saat mabuk dan digantikan al-Muntasir.

Al-Muntasir menggantikan ayah andanya sejak 248 H. Dia merupakan salah seorang penguasa yang sangat memusuhi kebejatan ayahnya (al-Mutawakkil). dan sangat menghormati Ahlul Bait Rasulullah saww. Walau hanya berkuasa selama 6 bulan. Beliau telah hanyak berlaku baik dan lemah lembut kepada Bani Hasyim serta tidak pernah meneror apalagi membunuhnya, bahkan tanah Fadak dikembalikan kepada Ahlul Bait sebagai pemilik yang syah. Enam bulan setelah berkuasa, beliau wafat dan digantikan oleh al-Musta’in.

Di masa al-Musta’in, kekejaman dan kesewenang-wenangan kembali merajalela. Pemerintahannya yang kacau dan kejam, hanya berlangsung 2 tahun 9 bulan. Atas perintah saudaranya (al-Mu’taz), dia dibunuh dan dipenggal. Kekuasaan beralih ke tangan al-Mu’taz. Dia tidak kalah kejamnya dengan al-Mutawakkil dan al-Musta’in, dan dizaman inilah Imam dipanggil ke “Samara”.

Penderitaan, penganiayaan dan penindasan dihadapi dengan sabar oleh Imam Ali al-Hadi. Akhirnya, beliau harus pulang ke Rahmatullah melalui racun yang diletakkan pada makanannya oleh al-Mu’taz. Kesyahidan tersebut terjadi pada tanggal 26 Jumadil Tsani 254 H dan doa pemakamannya dipimpin oleh putra beliau yaitu Imam Hasan al-Asykari. Ketika wafat, beliau berusia 42 tahun yang kemudian dimakamkan di Samara.

Imam Hasan Al-Askari as (11)

Nama : Hasan
Gelar : Al-Askari
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali Al-Hadi
Ibu : Haditsah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rabiul Tsani 232 H.
Hari/Tgl Walat : Jum’at, 8 Rabiul Awal 260 H
Umur : 28 Tahun
Sebab Kematian : Diracun Khalifah Abbasiah
Makanan : Samara’
Jumlah Anak : 1 orang ; Muhammad Al-Mahdi

Riwayat Hidup

Di pusat kota Madinah, tempat berhijrahnya baginda Rasulullah saww, di pusat pengembangan Islam serta tempat berdirinya Madrasah Ahlul Bait Nabi saww, lahirlah manusia suci dari keturunan Rasulullah, yang bernama Imam Hasan al-Asykari putra Imam Ali al-Hadi. Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Tsani 213 H. Sedang julukan al-Askari yang beliau sandang itu karena dinisbatkan pada suatu lempat yang bernama Asykar, di dekat kota Samara’, Ibunya adalah seorang jariah yang bernama Haditsa, walau ada juga yang berpendapat bahwa namanya Susan, Salil.

Sejak masa kecilnya hingga berusia 23 tahun lebih beberapa bulan, beliau melewatkan waktunya di bawah asuhan, bimbingan dan didikan ayahnya, Ali al-Hadi. Tidak heran, jika beliau akhirnya menjadi orang terkermuka dalam bidang ilmu, akhlak dan ibadahnya. Sepanjang waktu itu beliau menimba ilmu dari pohon suci keluarga Rasulullah saww sekaligus menerima warisan imamah dari ayahnya atas titah Ilahi.

Mengenai situasi politik di zamannya, beliau hidup sezaman dengan al-Mu’taz, al-Mukhtadi dan al-Mu’tamad. Selama tujuh tahun masa keimamahannya, beliau serta semua pengikutnya mendapatkan tekanan dari pemimpin Dinasti Abbasiyah.

Imam Hasan al-Asykari pernah di penjara tanpa alasan sedikit pun. Rasa iri terhadap Ahlul Bait Rasulullah saww telah merasuk hampir kepada seluruh raja Dinasti Abbasiyah. Melihat penindasan yang sangat menekan itu, Imam Hasan, Imam Hasan al-Askari a.s. mengambil inisiatif untuk memberlakukan sistem taqiyah bagi para pengikutnya.

Pada sisi lain, orang-orang Turki mulai mempunyai kedudukan yang kuat dalam bidang politik. al-Mu’taz. berusaha menyingkirkan mereka, namun mereka cukup kuat. Dan ketika terjadi keributan antara orang-orang Turki dengan pasukan al-Mutaz., akhirnya pasukan al-Mu’taz berhasil dikalahkan dan al-Mu’taz sendiri kemudian diturunkan dari tahtanya oleh Salih bin Washif al-Turki dan disiksa serta dipenjarakan dalam sel yang sempit hingga mati. ltu semua terjadi pada tahun 255 H. Kekuasaan kemudian beralih ke tangan al-Mukhtadi, yang juga mengalami bentrokan dengan orang-orang Turki. Dia pun benasib buruk dan terbunuh pada tahun 256 H.

Setelah kematian al-Mukhtadi, kekuasaan beralih ke tangan al-Muktamid. Dia tidak berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya dalam hal kebencian dan kedengkiannya kepada Ahlul Bait. Apalagi dia mendengar bahwa dan Imam Hasan al-Askari akan lahir Imam Mahdi, yang akan menegakkan keadilan. Kebenciannya itu terbukti dari segala cara yang dia gunakan untuk menyingkirkan dan membunuh Hasan al-Askari. Ketika Hasan al-Askari dalam keadaan sakit, al-Muktamid mengutus seorang dokter serta hakim dan pengawalnya untuk memata-matai segala gerak-gerik Imam.

Akhirnya Imam Hasan al-Askari syahid melalui racun pada tahun 260 H/872 M. Beliau kemudian dimakamkan bersebelahan dengan makam ayahandanya di Samara.

Para pengikutnya merasa kehilangan, namun mereka herhasil menimba ilmu dari beliau. Diriwayatkan bahwa ada ratusan ulama yang beliau didik dalam bidang agama dan hadis.

Imam Muhammad Al-Mahdi as (12)

Narna : Muhammad
Gelar : Al-Mahdi, Al-Qoim, Al-Hujjah, AL-Muntadzar,
Shohib Al-Zaman, Hujjatullah
Julukan : Abul Qosim
Ayah : Hasan AL-Askari
Ibu : Narjis Khotun
Tempal/Tgl Lahir : Samara’, Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 H.
Ghaib Sughra : Selama 74 Tahun, di mulai sejak kelahirannya hingga tahun 329
Ghaib Kubra : Sejak Tahun 329 hingga saat ini

Riwayat Hidup

“Dan sungguh telah Kami tulis dalam zabur sesuduh (Kami tulis dalam) Lauh Mahfud, bahwu bumi ini akan diwarisi oleh hamha-hamba-Ku yang saleh (QS:21:105)

Kaum muslimin, dengan segala perbedaan mazhab yang ada, sepakat mengen akan datangnya sang pembaharu bagi dunia yang telah dilanda kezaliman dan kerusakan, untuk kemudian memenuhinya dengan keadilan. Rasulullah saww mengabarkan bahwa sang pemhaharu ini mempunyai nama yang sama dengan namanya.

Manusia pilihan itu tidak lain adalah Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali al-Ridha bin Musa al-Kazim bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang juga putra Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saww.

Beliau dilahirkan di Samara’ pada tahun 255 H. Ibunya adalah Narjis yang dulunya seorang jariah. Hingga berumur 5 tahun, beliau diasuh, dibimbing dan dididik oleh ayahandanya sendiri. Hasan al-Askari. Hingga saat ini beliau masih hidup dan akan muncul dengan seizin Allah untuk memenuhi bumi dengan keadilan.

Kehidupan politik di zaman heliau sarat dengan kekacauan, fitnah dan pergolakan yang terjadi di mana-mana. Keadaan ini dilukiskan oleh Thahari: “Pada masa pemerintahan al-Mukhtadi seluruh dunia Islam dilanda oleh fitnah”.(Tarikh Thabari, Jilid VII hal 359)

Dalam situasi seperti inilah, Imam akhirnya ghaib dan hanya beberapa orang saja yang bisa menermuinya. Keghaiban Imam Mahdi terdiri dari dua periode; Ghaib Sughra dan Ghoib Kubra. Ghaib Sughra berlangsung sejak kelahiran beliau tahun 225 H, semasa hidup ayahnya. Pada masa Ghaib Sughra ini beliau hanya bisa ditermui oleh empat orang wakilnya yaitu:

1. Utsman bin Said al-Umari al-Asadi.
2. Muhammad bin Utsman bin Said al-Umari al-Asadi, wafat tahun 305 H.
3. al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.
4. Ali bin Muhammad al-Samir, wafat 328/329 H.

Keghaiban Sughra ini berlangsung selama 70 tahun. Sedang Ghaib Kubra terjadi sejak wafatnya wakil Imam yang keempat, Ali bin Muhammad Al-Samir, hingga Allah mengijinkan kemunculannya. Dalam masa Ghaib Kubra ini terputuslah hubungan beliau dengan para pengikutnya. Semoga Allah mempercepat kemunculannya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Sumber : Yayasan Fatimah

www.nurmadinah.com

m4s0n501
Tags: ,
Perhatian
Komentar adalah tanggung jawab penulis komentar, sehingga dimohon agar isi komentar yang objektif dan berakal. Komentar atau link website yang penuh diiringi dengan KEBENCIAN dan EMOSI belaka hukumnya haram pada website ini. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

Terimakasih.

1 Comment

  1. 1
    Agoes M Indonesia Internet Explorer Windows says:

    Trim atas tulisannya yg sangat membantu dlm mengungkapkan fakta yg sebenarnya.

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.